• Februari 26, 2017
  • mediaipnu
  • 0

Catatan kecilku teruntuk IPNU

Hembusan angin sepoi yang menyejukkan hati ditambah derai hujan rintik yang membuat hati semakin merasa hening. Kududuk bersandar di sofa putih sambil ditemani secangkir teh yang menghangatkan badan, ahhhh betapa nikmatnya hidup ini jika kita benar benar bersyukur atas apa yang Allah berikan kalupun itu pahit nikmati saja, renungku sambil menikmati waktu kesendirian.
Ya, aku adalah anak dari seorang buruh tani miskin yang hidup di desa, keseharian ayah ibuku adalah bekerja menjadi buruh di lahan tani milik seseorang. Gajinya pun tak cukup besar, hanya mampu membiayai aku sampai lulus SMA saja, setelah lulus SMA aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta, Itu dulu sekali, sekarang aku sudah mempunyai seorang istri, sedang ayah ibukku telah meninggal kurang lebih dua tahun yang lalu. Kini aku tinggal di sebuah ruko bersama istri dan kedua anakku yang sekarang keduanya duduk dibangku Sekolah dasar.
Hari ini cuaca sangat cerah, Silau mentari pagi mulai menghiasi pagiku yang ceria ini. Aku duduk di sofa depan tempat biasanya aku bersantai. Kebetulan hari ini hari libur kerja kantor. Sambil menikmati secangkir kopi hitam kesukaanku, entah ada apa mataku terpesona memandang lukisan-lukisan yang kutempel di dinding sebelah kiri ruang tamu, aku biarkan tembok itu penuh dengan kenanganku ketika masih dibangku pelajar. Terlihat mencolok disana sebuah lukisan paling besar, yakni lambang IPNU yang sengaja aku lukis paling besar dan aku pajang di sebelah kanan sehingga terlihat sangat jelas.
Aku teringat tepat 63 tahun lalu ketika H.Tholchah mansoer dan kawan kawan berjuang untuk mendirikan IPNU, apa yang membuat beliau berkeinginan mendirukan organisasi bagi para pelajar san santri. Akhlaq, tujuan paling penting adalah Ahlaq. Pelajar zaman dulu dengan zaman sekarang sangatlah berbeda, dan yang membedakan adalah Akhlaqnya, Pelajar zaman dahulu cenderung lebih sopan dalam tatakrama maupun ucapan, sedang pelajar zaman sekarang banyak yang Akhlaqnya kurang baik. Mereka sekarang sudah mengenal dunia Internet, sudah mengenal budaya Barat, bahkan sampai lupa apa yang diajarkan di negeri sendiri. Makadari itu tujuan paling penting daripada IPNU sendiri adalah menanamkan Akhlaq yang baik (Akhlaqul karimah).
Di zaman modern yang serba Instan ini terkadang kita dituntut untuk mengikuti budaya modernisasi tanpa tau secara pasti apa sebenarnya maksud dan tujuan dari semua itu. Dizaman yang semakin lama semakin “Edan” ini kita diwajibkan untuk benar benar bisa membentengi diri dari berbagai macam hal negatif. Dunia ini semakin kacau, Banyak tersebar aroma politik dimana-mana, banyak juga tersebar berita Hoax yang memprovokasi, sehingga munculah aliran-aliran Radikalisme yang akan menghancurkan Akhlaq pelajar Nusantara, kemudian dihancurkan pula Negeri kita tercinta NKRI ini.
Bagi seorang pelajar yang baik, jangan pernah tergiur dengan politik, sekecil apapun itu. Dampaknya adalah terbiasa, dengan terbiasa tersebut, maka seorang pelajar akan bersifat egois dan material. Sangat memprihatinkan pelajar masa kini, dibalik prestasinya yang diacungi banyak jempol, namun lingkungan pergaulannya sangat memprihatinkan. Banyak ditemui pelajar yang berpergaulan terlalu bebas, ada yang dia tidak mau berinteraksi sosial dengan masyarakat, bermacam macam watak mereka.
Seharusnya IPNU IPPNU lebih mendekatkan diri kepada para pelajar islam yang seperti itu. Sebab, seorang yang sudah diluar batas, dengan mudah dia menggiurkan teman teman yang ada di sekelilingnya untuk berperilaku negatif. Untuk itu, harapan saya IPNU IPPNI mampu membimbing mempertahankan dan membembentengi Akhlaq pelajar yang sudah baik agar menjadi lebih baik lagi, serta mendekatkan diri, memperkenalkan diri kepada para pelajar Nahdlatul Ulama’ agar kedepannya memiliki kader yang berkualitas bagi Masyarakat, agama maupun NKRI.
Tak terasa aku tertidur di sofa, “Ayah, hari ini tanggal berapa” tanya anakku Aqila yang sekarang duduk di bangku 5 SD tersebut. “Hari ini tanggal 24 Februari nak” jawabku sambil tersenyum. “Ayah hari ini hari apa?” pertanyaan anaku yang paling aku sukai karna dengan bertanya seperti itu menandakan bahwa rasa ingin tahunya yang tinggi “Hari ini hari Lahirnya IPNU nak,” ia terus bertanya hingga ia bosan mendengar ceritaku yang panjang lebar ini. Lama kelamaan dia tertidur dan kusudahi saja cerita ini sambil kuminum kopi pahit buatanku itu “ahh… hidup ini sperti kopi, pahit, tapi jika dirasakan lama lama manis juga”. Salam Pelajar ASWAJA NUsantara, Selamat Belajar Berjuang Bertaqwa. (Vinanda Febriani)