• Maret 7, 2017
  • mediaipnu
  • 0

BHINEKA SANDAL JEPIT

Remang-remang lampu kota mengajak raga ini bernostalgia di derunya semrawut lalu lintas dan kemrosok radio di ruangan tiga kali empat meter di depan bangunan gagah nan terhormat, aku terhenti di belahan trotoar yang di terangi lampu kota. Ku dekati bangunan yang sakral ini manusia sering menyebut dengan “KANTOR PAK WAKIL RAKYAT”, kini di depanku persis dengan gerbang besi bercorak batik. Mataku tertuju lurus arah suara radio dan ku baca dengan tartil “SECURITY” bangunan bergaya klasik dipergagah dengan tulisan TAMU WAJIB LAPOR!! .

Ku langkahkan kakiku menuju kantor penjagaan itu yang terbuka lebar pintunya. ”Permisi pak saya mau laporan saya mau melihat lihat kedalam kantor pak wakil rakyat”.

Sekuriti itu beranjak dari tempat duduknya dengan malas, menghisap rokok merek jeruk (karena mungkin dia sariawan) dan mendekatiku dengan sorotan singa kelaparan,“Tidak bisa anak muda, ini jam tujuh malam, pulang sana!”

“Tapi saya hanya akan masuk sepuluh menit pak melihat-lihat saja, tolonglah!“ bantahku. Namun semua sia-sia, permohonanku tidak di gubris lagi, sekuriti itu menutup pintu dan menggemboknya.

Aku menunduk kaku, gelisah bagai tersambar petir hati ini. Aku berfikir apakah gedung pak wakil rakyat haram untuk ku injak walau pelataranya saja? apakah akan retak bila sandal jepitku yang bermerek SNI ini bersatu dengan aspal gedung pak wakil rakyat? Apakah hanya halal untuk mereka yang bersepatu hitam mengkilat, menenteng koper, berjas, dan berdasi? Tapi mengapa mereka yang berdasi tut wuri handayani tak boleh menginjak pula? Oh tuhan berilah hamba cahayamu.

Lelah berjalan jalan mengitari kota dan kantor pak wakil rakyat, sampailah aku di masjid di pinggir desaku. Ku rebahkan tubuhku di serambi masjid. Ramai bapak-bapak mengaji di dalam masjid seakan mereka sudah di tunggu izroil. Ada yang memutar tasbih, ada yang diam karena lapar, ada yang terbawa rohani hingga menangis karena hutangnya belum lunas. Masjid inilah solusinya meminta kepada Illahi. Sangat tenang disini tidak seperti di gerbang kantor pak wakil rakyat. Oh…..

Sambil duduk melepas keletihan di serambi masjid, ku sulut rokok di bibirku yang merah sambil melihat pepohonan, bunga-bunga di luar masjid yang indah. Namun ku lihat di pelataran masjid ada sesuatu yang luar biasa hingga mataku terpenjara menatapnya, “Luar biasa” gumamku. Lebih eksotis dari paris, lebih berseni dari Mozart dan Bethoven, lebih rapi dari pasukan baris berbaris, warna warni bagai pelangi, seribu filosofi inilah sandal jepit jamaah pengajian yang tertata rapi di teras masjid. Suatu kesatuan di balut dengan kesederhanaan, mengandung arti gotong royong, sandal rakyat jelata tapi di sinilah kerapian Bhineka Tunggal Ika.

Pikiran ini melayang hampir setengah jam memikirkan keindahan filosofi sandal jepit yang bercap SNI. Dingin udara mulai menggores kulit tubuhku, aku bergegas memasuki ruangan masjid untuk mencari teman mengobrol karena ngaji telah usai.

Assallamu’alaikum“…

Wa’alaikumsalam” jawab pak Tasman sambil menenteng ceret berisi kopi hitam untuk di tuang di gelas-gelas kosong.

Dapun… dari mana kamu anak muda ?” tanya pak Balkan.

Mencari angin malam pak melepas letih” sahutku sopan.

Kulihat dari tadi kau termenung di serambi masjid, apa yang kau lihat Dapun? Apa kau lihat perawan desa? Atau kau melihat sesuatu, ceritalah ?” tanya Pak Balkan.

Hehe tidak pak. Aku hanya kagum, aku menemukan keistimewaan dalam kebersamaan sandal-sandal jepit yang berpasang-pasang dan berwarna-warni, tetapi mereka tidak bercerai berai. Selalu berjejer rapi indah sekali tak ada yang lebih mewah tak ada sepatu yang mengkilat yang angkuh, dan seakan sandal-sandal itu tersenyum padaku “.

Dapun, kau tahu makna itu?”

Ah… Entahlah semua berawal dari kantor pak wakil rakyat…..” Jawabku.

Apa yang kau temui di sana? Keharmonisan, kehormatan, kekayaan, keagungan?

TIDAK !!! Namun bagaikan cendrawasih dalam sangkar besi, untuk menyentuhnya pun haram, padahal mereka pemegang janji kaum sudra, pemegang amanah para kuli, tapi kalau kantor pak wakil rakyat saja haram di injak kakiku bagaimana mereka tahu ngenesnya kaum yang melarat….”

“Nak, bersabarlah ibarat sandal jepit yang berjejer, sandal-sandal itu harus kompak dan saling melengkapi. Dan lebih hebat ketika sandal-sandal itu di jejerkan dengan sepatu-sepatu yang mau bersatu dengan sandal jepit. Bukan sepatu-sepatu angkuh yang letaknya berjauhan terpisah dengan sandal jepit. Itulah tugasmu menjadi sepatu yang mau bercampur dengan sandal jepit alias kaum rakyat.” Pak Balkan menasihati aku.

Mendengar nasihat pak Balkan aku dan hadirin bertambah semangat dan takjub, semua hadirin antusias. Sambil ku sruput kopi yang di tuang pak Tasman, kulihat wajah bapak-bapak ini, merekalah peletak dasar pemersatu, di saksikan manisnya kopi hitam di terangi singkong goreng hasil panen pak RW, di bayangi laba-laba yang menggantung di kusen-kusen.

Aku pulang dengan ada pencerahan dihati dan wajah berseri. Sesampai di kamar, ku raih selembar kertas dan bolpoin, ku goreskan tinta dengan lirih suara hatiku untuk langit ke tujuh.

Ingin raga memeluk pak menteri

Atau sekedar merapikan miringnya dasi

Walau tidak ngopingopi

Tapi semua hanya ilusi

Di kolong jembatan jutaan nyawa mau mati

Kurang gizi

Tolonglah pak menteri

Ahh.. Ada security

Di trotoar senandung pengamen bernyanyi

Namun pak mentri suka komedi

Kucing kucingan dengan polisi

Di atas pundak para kuli

Mereka berebut panasnya kursi

Awas pak jeruji besi

Puas dengan luapan hatiku kepada alam kurebahkan tubuhku di atas kasur randu mengharap pijar lebih jingga daripada sebelumnya.

Ilustrasi: https://www.mediamuda.com/category/wawasan/motivasi/

(Oleh: Arga Ramadhan Setyo Nugroho, Komandan DKC CBP Wonosobo 2014/2016)