• Maret 8, 2017
  • Pimpinan Pusat IPNU
  • 0

Mari membuka Jendela Dunia dengan Membaca

Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Melihat perkembangan zaman sekarang yang serba canggih dan digital, minat baca pada literasi cetak semakin menurun. Kebanyakan orang saat ini lebih suka membaca berita, aritikel, essay atau bacaan-bacaan lain dari smartphone-nya.

Terlebih kaum muda yang belum bisa memanfaatkan gadget-nya dengan cerdas. Menurut survei mereka yang belum bisa memanfaatkan gadget dengan cerdas lebih banyak menggunakan gadget-nya untuk bermain sosial media, seperti instagram, twitter, facebook, path, dll. Mereka menggunakan hanya untuk sekedar upload foto, update status bersifat keluh kesah yang seharusnya tidak diumbar di sosial media.

Padahal banyak sekali cara untuk memanfaatkan sosial media dengan cerdas, diantaranya dengan menulis, membuat vlog yang bermanfaat, membaca berita dengan sumber yang terpercaya atau berdagang. Sudah seharusnya kaum muda Indonesia membangkitkan minat baca. Karena dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia. Melihat dunia ini dengan pandangan yang luas. Tidak berpemikiran sempit seperti sejumlah orang yang belajarnya hanya di sosial media, tanpa membaca langsung literasi cetak dan bimbingan guru.

Bicara soal membaca, kaum Muslim sudah diperintahkan untuk membaca dari beberapa abad lalu. Bahkan perintah membaca adalah sebagai wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Melihat dari sisi ini, betapa pentingnya perintah untuk membaca bagi kita.

Sebagaimana firman Allah swt.:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
Lima ayat pertama yang disampaikan oleh Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu” adalah fi’il amr (kata perintah). Jika ada fi’il amr konsekuensinya adalah menunjukan kewajiban. Para mufassir (ahli tafsir) dalam kitab-kitab tafsirnya memahami ini bukan perintah, tetapi adalah sebuah penetapan atau penegasan. Mayoritas ulama memahami sesuai kaedah asalnya yakni sebagai perintah membaca.

Perintah membaca di sini tidak disebutkan membaca dalam artian khusus. Secara umum yang sering diungkapkan oleh mufassir yang mengatakan apabila ada fi’il amar tetapi tidak disebutkan objeknya berarti objek ini bersifat umum. Artinya, objek yang harus dibaca dan dipelajari bukan saja Al-Qur’an, tetapi semua objek; alam raya, tentang diri kita dan makhluk-makhluk-Nya. Jadi, ayat tersebut menunjukkan bahwa perintah membaca tersebut adalah bersifat umum. Apa yang kita pelajari tidak saja menyoal agama, tetapi semua hal yang ada di alam raya bahkan yang ada di dalam diri kita. Membaca dalam hal ini juga bukan hanya membaca secara tekstual, tetapi membaca dalam arti berfikir menghimpun pengetahuan. Membaca pelajaran atau memetik hikmah dari setiap kejadian.

Bermodalkan ayat ini Rasulullah saw. mampu membangun peradaban yang luar biasa dalam jangka waktu kurang lebih 13 tahun. Disebutkan juga dalam kaedah tafsir, apabila ada pengulangan kata yang sama apalagi kata tersebut adalah fi’il amr, hal ini mengimplikasikan bahwa sangat pentingnya perintah tersebut karena itu Tuhan mengulang-ulang kata tersebut. Maka, sudah jelas bahwa perintah membaca bagi umat Muslim adalah sangat penting dan sangat ditekankan. Mari budayakan membaca. Sebab dengan membaca kita bisa meningkatkan kualitas berpikir dan luasnya pengetahuan. (Merry Devi Lemyana)