• Maret 17, 2017
  • mediaipnu
  • 0

Try Out, Antara Krisis Kesadaran Diri Dan Kedisiplinan

Try out merupakan suatu uji coba atau bisa dikatakan sebagai latihan menuju ujian yang sesungguhnya, Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAM-BN) dan Ujian Akhir Nasional (UAN).  Tanggal 15 Maret 2017, merupakan hari ketiga dari try out kedua bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah. Pada try out kedua tersebut kebetulan saya ditugaskan sebagai pengawas ujian di MI Ma’arif 1 Kentengsari di Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung. Sembari bertugas sebagai pengawas, saya memperhatikan tingkahlaku para peserta try out. Yang menjadi perhatian saya bukanlah tingkah kecurangan, namun tingkah yang sewajarnya dan tingkah itu membawa saya ke dalam pemikiran mengenai kesadaran diri. Penasaran dengan pemikiran tersebut, saya berniat mengupas informasi dan padangan dari berbagai elemen pendidikan. Tingkah yang dimaksud yaitu tidur, menabuh-nabuh meja, kaki yang kelesetan, menggambar di meja, berbicara dengan teman dan lesu. Tingkah-tingkah tersebut saya perhatikan, ternyata disebabkan peserta try out sudah selesai mengerjakan, sedang waktu usai try out masih tersisa satu jam lebih lima belas menit.

Peserta try out adalah siswa siswi MI Ma’arif 1 Kentengsari yang duduk di kelas enam, terdiri dari empat siswa dan delapan siswi. Try out hari ketiga mengujikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sejarah Kebudayaan Islam. Tingkah-tingkah yang menjadi perhatian saya terjadi ketika seusai mengerjakan soal try out Ilmu Pengetahuan Alam. Try out hari ketiga dimulai pukul 07.30 – 09.30 WIB, namun 45 menit kemudian semua peserta sudah selesai mengerjakan dan satu dua kali meneliti kembali hasil pekerjaannya. Dalam wawancara dengan siswa seusai try out ketiga mata pelajaran IPA, semua siswa mengatakan lesu dan ngantuk, kemudian dua siswa diantara dua belas siswa, Muhammad Arya Oktavian (12) menyatakan, “lebih baik diluar, dengan diluar waktu tersisa bisa digunakan untuk mata belajar pelajaran selanjutnya”, dan Faqih Dwi Anhar (12) menyatakan, “lebih baik diluar bisa bermain, jajan dan belajar.” Namun lain hal dengan kesepuluh siswa lainnya, mereka malah bingung ketika ditanya seperti itu, nampaknya mereka takut jika nanti dilaporkan kepada gurunya.

Selain mewawancarai peserta try out, saya juga mencoba mencuplik pembicaraan dengan Ibu Siti Maryam, S.Pd.I (52) selaku pengawas I pada try out kedua ini, Bapak Sahro Istakhri, S.Ag (48) selaku pengawas pendidikan agama Islam, dan Bapak Marjoko, S.Pd.I (46) selaku Kelompok Kerja Madrasah (KKM) yang juga sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif 1 Desa Batursari. Maryam mengatakan, “waktu dua jam dalam pengerjaan memang lama bagi siswa yang pandai, namun memberikan kenyamanan bagi siswa yang kurang cepat atau kurang pandai.” Selain itu Maryam juga menegaskan bahwa waktu yang ditentukan sebagai bentuk kedisiplinan bagi seorang siswa.

Di lain pihak Sahro menegaskan, “ada beberapa maksud dan tujuan dibalik peraturan siswa boleh meninggalkan ruangan setelah waktu try out selesai, pertama sebagai bentuk penghargaan dari siswa yang sudah selesai mengerjakan soal-soal ujian terhadap siswa lain yang belum selesai mengerjakan. Kedua, sebagai bentuk latihan sikap sabar, tertib dan menghargai waktu.” Sahro mencontohkan,  budaya Indonesia yang tidak suka mengantri semua orang berdesak-desak dalam segala hal semua maunya di depan, maka dari itu peraturan ini adalah tindakan meminimalisir sikap-sikap siswa yang tidak tertib dalam ketaatan. Begitupun Marjoko, juga memberikan penjelasan yang hampir sama dengan apa yang dikatakan Sahro.

Dari sisi logika, memang benar bahwa sisa waktu yang lama sangat membosankan bagi para siswa, dan juga bermanfaat bagi para siswa untuk memperbaiki hasil usahanya dalam menjawab ke empat puluh soal tersebut. Selain itu juga membina rasa solidaritas antar siswa, yaitu antara siswa yang telah usai mengerjakan dan belum selesai mengerjakan. Namun sayang hal tersebut umumnya belum disadari para siswa, bahwa peraturan semacam itu bukan suatu bentuk siksaan dan namun justru memberikan manfaat bagi para siswa akan hasil pekerjaannya untuk pekerjaan yang benar-benar maksimal, sehingga menghasilkan hasil yang memuaskan.

(Agus Subhi)