• Maret 27, 2017
  • mediaipnu
  • 0

Bagaimana Islam Memandang Gerakan Feminisme?

“Perbedaan itu wajar. Namun, ia akan menjadi tidak wajar jika tidak ada rasa saling menghormati”

Membicarakan kehidupan kaum wanita dan kedudukannya dalam lingkungan sosial tentulah menarik. Apalagi dalam masyarakat yang secara umum bersifat patrilineal. Sudah jamak dibicarakan pula, di zaman milenium ini, bagaimana wanita menuntut agar kedudukannya di sejajarkan dengan pria dalam segala aspek kehidupan. Sikap inilah yang akhirnya memunculkan gerakan baru yang selanjutnya kita sebut dengan feminisme. Gerakan ini pertama kali diperkenalkan oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837 tepatnya di Perancis. Lahirnya gerakan ini sejatinya didasari oleh kepentingan kapitalisme. Namun, karena dikemas dengan menarik banyak kaum wanita yang tertipu. Mereka (wanita, red) menilai gerakan feminisme merupakan jawaban dari kasus ketimpangan sosial yang banyak mereka terima di zaman itu. Dalam perkembangannya, gerakan ini bahkan mampu menelurkan tokoh-tokoh feminis yang terkenal seperti Hillary Rose, Evelyn Fox Keller, Donna Haraway, Sandra Harding, dan tokoh feminis lainnya. Seiring perjalanan zaman, gerakan ini pun sedikit pudar dan langkahnya mulai tak terdengar. Hal ini dikarenakan, banyaknya pakem yang dianut oleh gerakan ini tidak sesuai dengan pakem dari pengikutnya. Kemunduran gerakan ini pun tidak berlangsung lama, tepat pada abad ke 21 gerakan ini muncul kembali. Hal yang cukup mencenangkan, di awal kemunculanya, banyak kaum wanita di seluruh dunia yang ikut mengadopsi paham feminisme yang digagas oleh gerakan ini.

Dalam agenda feminis kontemporer diskursus gender lebih banyak difokuskan pada gerakan dalam memperjuangkan persamaan hak, partisipasi wanita dalam dunia kerja dan pendidikan, hingga hak reproduksi. Jika ditelisik lebih jauh, dalam perjalanan sejarah feminisme, islam menjadi agama yang banyak mendapat sorotan. Hal ini terkait dengan aturan yang diterapkan islam untuk kaum wanita. Dimana islam mengajarkan, dalam kehidupan sosial wanita dengan pria tidak bisa disamakan, diantara keduanya terdapat gap yang jelas. Sejatinya islam tidak menyetarakan kedudukan wanita dengan pria dikarenakan islam menjunjung tinggi kehormatan wanita. Namun, paham ini sengaja dialihkan bahkan ditutupi oleh kaum feminis, agar banyak wanita muslim yang berpandangan bahwa islam adalah agama yang membatasi ruang gerak wanita untuk berkarya. Pandangan ini yang akhirnya digunakan oleh kaum feminisme untuk meruntuhkan hegemoni islam terhadap wanita terutama di negara dengan jumlah wanita muslim yang banyak. Mereka (kaum feminisme, red) mencekoki wanita muslim dengan paham yang salah seperti ‘dengan islam ruang gerak wanita akan terbatas’ atau bahkan ‘dengan islam diskriminasi wanita dalam masyarakat akan semakin luas’. Namun, benarkah islam seperti apa yang diungkapkan oleh kaum feminis? Ataukah ini hanyalah perspektif dangkal yang bersumber dari kenaifan pemahaman ajaran islam?

Islam Memandang Feminisme

Pembahasan koherensi feminisme dan islam takkan terlepas dari sumber ajaran islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dimana secara komprehensif Al-Qur’an dan Al-Hadist telah menjelaskan hubungan antara wanita dan pria baik berupa kesamaan hak asasi wanita dan pria, maupun hak beribadah hingga hak memperoleh pendidikan telah Islam atur tanpa adanya tamayyuz secara fitrah di antara keduanya. Bahkan islam telah memuliakan wanita dengan menghadirkan satu surat khusus di antara 144 surat yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu surat An-Nisa’. Surat tersebut membahas mengenai bagaimana wanita seharusnya bersikap baik dalam lingkungan keluarga, kehidupan sosial, bahkan dalam hubungan dengan pencipta, Allat SWT. Tidak dapat dibantah jika islam hadir sebagai ajaran agung yang mengeliminasi tindakan-tindakan diskriminasi kaum jahiliyah terhadap wanita.

Cara Islam memuliakan wanita juga tergambar jelas sejak periode kanabian, Muhammad SAW. Dinamisme aktifitas wanita pada masa risalah tercermin dalam kajian keilmuan yang dipimpin langsung oleh Rosulullah. Dalam kajian tersebut terlihat bagaimana wanita mendapat hak yang sama untuk mendapatkan ilmu ataupun berpendapat. Bahkan, Rosulullah bersedia menyediakan waktu khusus atas permintaan sahabiyat untuk mendapat kesempatan belajar dan berdiskusi lebih banyak dengan Rosulullah. Selain dalam perkara pendidikan, wanita pada zaman Rosulullah juga melakukan bisnis. Salah satu contohnya adalah Khadijah ra yang merupakan pebisnis wanita terkemuka di Mekkah. Selain itu terdapat pula tokoh wanita muslim yang termasyur yaitu Aisyah ra, beliau merupakan perawi hadis yang terkenal hingga banyak sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadis dari beliau. Terlihat, jika Islam telah mengangkat derajat kaum wanita, sebelum gerakan feminisme lahir. Islam juga telah meninggikan kedudukan wanita ketika peradaban Yunani ataupun Romawi merendahkan posisi wanita. Lebih parah lagi, ternyata sejarah Eropa tempat lahirnya gerakan feminisme ini, juga menempatkan wanita dalam kasta terendah di tatanan masyarakat. Kemuliaan wanita dalam islam ini tercermin dalam sebuah hadis yang mengungkapkan jika surga di telapak kaki ‘ibu’. Bahkan Rosulullah juga bersabda ibu adalah sosok pertama yang harus ditaati baru yang terakhir adalah ayah. Lantas, apakah masih layak, jika islam dituduh melakukan diskriminasi terhadap wanita? Atau merendahkan wanita? Tentulah jawabannya tidak.

Meski demikian, kenyataan ini tetap masih belum mampu membebaskan islam dari pandangan negatif kaum feminisme mengenai aturan islam yang kaku dan menjerat wanita dalam mata rantai tugas-tugas rumah tangga. Selain itu kaum feminis juga menyoroti terjadinya kasus kekerasan terhadap wanita yang marak terjadi di negara-negara Islam. Hal ini terjadi akibat kecilnya ruang aspirasi yang diberikan kepada wanita. Sekarang apakah tatanan Islam hanya akan dilihat secara umum atau parsial yang mengedapankan fenomena yang terjadi di Negara Islam? Bagaimanapun juga seharusnya kaum feminisme harus mengkaji bangunan Islam dan menjatuhkan diri dari tendensi negatif tentang islam. Selain itu, umat islam juga tidak boleh menutup mata dari kasus-kasus yang menyebabkan timbulnya pandangan negatif tersebut. Keagungan islam mengenai wanita akan menjadi suram, jika tidak dibarengi dengan implementasi yang rill dari umat islam sendiri.

Sikap Kita Menghadapi Feminisme

Gerakan feminisme yang diusung oleh Barat ini jelas bertentangan dengan nilai Islam, dimana gerakan ini menuntut kesetaraan gender. Kondisi ini jika terus diadopsi oleh kaum muslim terutama wanita akan menghantarkan kaum wanita ke jurang kehancuran. Oleh karena itu, sebagai seorang wanita muslim, hendaklah tidak mudah menerima fatwa mengenai kesetaraan gender yang telah digaungkan oleh kaum Barat. Sejatinya, mereka (kaum Barat, red) hanya ingin menjerumuskan kaum muslimin ke jurang kehancuran dengan cara merubah pemahaman Islam yang telah dianut. Sebagai seorang wanita muslim, wajib untuk menimbang kembali pemikiran-pemikiran yang digaungkan oleh tokoh-tokoh feminisme Barat berdasarkan neraca syar’i. Jika pemikiran tersebut tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, kita sambut dengan tangan terbuka. Namun, sebaliknya jika pemikiran tersebut bertentangan dengan prinsip ajaran Islam maka kita harus menolaknya. Selain itu, sebagai umat muslim kita juga wajib untuk menjelaskan (berdakwah) kepada umat muslim lain yang masih menganut paham feminisme mengenai dampak dari mengadopsi paham ini di kehidupan sehari-hari.

Sesungguhnya Islam telah menetapkan kewajiban dan hak antara wanita dan pria dengan adil dan proposional tanpa adanya penyimpangan. Pernyataan inilah yang harus dipahami oleh kaum muslim khususnya wanita. Islam tidak pernah merendahkan derajat wanita atau bahkan melegalkan tindak kekerasan kapada wanita. Islam mengajarkan kedamaian, keadilan, dan persaudaraan. Bukan islam, jika mengajarkan permusuhan dan kekerasan.

Ilustrasi Gambar: http://kisahikmah.com

(Aditya Mardani)