• Maret 27, 2017
  • mediaipnu
  • 0

Istighosah Do’a Ujian Nasional (UN) Dan Do’a Untuk Bangsa

MAGELANG – Ahad pagi (26/3/2017) damai cerah langit Borobudur. Kawasan jantung pariwisata yang selama ini selalu hiruk pihuk oleh suasana pariwisata, tetapi pagi itu suasananya sangat berbeda. Ribuan siswa, SD/MI, SMP, dan SMA/MA/SMK, beserta masyarakat sekecamatan Borobudur anggun rapi dengan berpakaian muslim sambil membawa balon beramai-ramai menuju Panti Asuhan dan Dhuafa Brayat Alfalah yang beralamat di Desa Borobudur Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang. Pagi ini para siswa didampingi guru pendamping akan melakukan Do’a Bersama Istighosah yang dipimpin oleh sembilan Ulama sekecamatan Borobudur karena akan mengikuti UN (Ujian Nasional) yang akan dilaksanakan bulan depan. Sembilan Ulama tersebut antara lain KH. Mursyidi selaku Rois Syuriah NU, KH. M. Asngari Asror selaku Tanfidziah NU, Kyai Syamsudin, Kyai Aly Munawar, Kyai Fakehudin, Kyai Sutrisno, serta Kyai Kharisudin. Pada kesempatan tersebut, para siswa akan melakukan do’a untuk Bangsa agar Bangsa ini dapat lepas dari musibah dan bencana serta halangan menuju Negara besar adil dan makmur sejahtera.

Istighosah merupakan kegiatan rutin untuk para pelajar di bawah naungan LP Ma’arif, yakni berdo’a dalam menghadapi ujian hidup, terutama saat ini, mereka tengah mempersiapkan Ujian Nasional di sekolahnya. Ada yang unik dalam Istighosah kali ini, dimana Siswa-Siswi yang hendak UN tersebut membawa balon satu persatu serta tulisan yang ditempelkan yang berisi do’a dan impian, baik untuk sukses UN ataupun doa untuk negri tercinta Indonesia. Tetapi persiapan belajar mata pelajaran secara maksimal untuk para siswa adalah tugas pokok persiapan UN. Puluhan anak yatim piyatu Brayat Alfalah khidmad mengikuti istighosah. Turut hadir pula dalam acara tersebut perwakilan Kemenag Kabupaten Magelang, Muspika, dan para kyai yang memimpin acara tersebut. Peserta istighosah juga mendapatkan beberapa motifasi dari Drs. Amron awaludin selaku pengurus PCNU Kabupaten Magelang yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP IT Gunungpring.

Halaman Yayasan panti asuhan yang berada di sebelah timur terminal Borobudur yang pada hari-hari biasanya sunyi tersebut mendadak ramai. Ada yang menarik dari puluhan santri tersebut. Ada peserta yang memakai baju ala para wali songo bersorban dan salahsatunya memakai beskab layaknya Kanjeng Sunan Kalijogo. Hal itu dilakukan sebagai simbol pembawa Islam pertama di Indonesia, serta simbol syiar agama dan akhlakul karimah masa lalu karena wali lebih tua dari negara tercinta Indonesia ini. Tak kalah juga di ramaikan oleh kesenian Baduwi, yaitu anak-anak yang menari sambil melafadzkan Sholawat Nabi.

Keprihatinan terhadap pendidikan moral sopan santun akhlaq agama yang kurang sejak usia dini mengakibatkan Negara Indonesia ini negara mayoritas Muslim namun menjadi Negara yang menduduki tingkat Korupsi yang tinggi di dunia. Moralitas sebagian pemimpin bangsa yang rendah di tambah televisi yang menjadi tontonan keseharian anak-anak, banyak berisi berita HOAX, penyimpangan oknum, Narkoba, Perkelahian anak-anak dan lain sebagainya. Budaya gotong royong dalam penyimpangan kolusi menjadikan bangsa ini terpuruk dalam semua hal dibandingkan dengan negara lain. Pengkajian kembali sistem yang ada pada pendidikan tingkat dasar sangat penting dalam menghadapi kemajuan global. “Lembaga Pendidikan Ma’arif yang selama ini merupakan lembaga masyarakat dan pendidikan islam butuh dukungan bersama supaya nantinya mampu mencapai salah satu ikhtiar bersama. Ikhtiyar, dan do’a serta Istighosah merupakan salah satu agenda terbaik untuk mencapai UN, serta do’a untuk kesejahteraan bangsa.” Ungkapan Bapak H. Sutrasno selaku ketua yang juga merupakan sesepuh Yayasan Panti Asuhan Brayat Alfalah serta pengurus LP MAARIF se-Kecamatan Borobudur dalam sambutannya.

Tujuan acara ini tak lain adalah sebagai jembatan silaturahmi antar sekolah yang ada di Kecamatan Borobudur, pendidikan moral dan akhlak terhadap sisiwa, mendekatkan diri kepada yang maha kuasa serta supaya nantinya siswa-siswi yang akan melaksanakan Ujian Nasional diberikan kemudahan kelancaran serta nilai yang memuaskan. Acara ini diakhiri dengan pelepasan balon oleh para siswa-siswi sebagai simbol “Umbul do’a” dan cita-cita mereka.

(Vinanda Febriani/JS)