• April 3, 2017
  • mediaipnu
  • 0

IPNU Ala Kiai Wahid Hasyim

Janggal rasanya membaca judul di atas. IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) baru didirikan pada 24 Februari 1954 oleh Tolchah Mansoer dan kawan-kawan. Sedangkan Kiai Wahid Hasyim sendiri telah berpulang keharibaan Sang Pencipta hampir setahun sebelumnya, 19 April 1953.

Akan tetapi, secara esensial, IPNU yang menjadi wadah organisasi dan pergerakan kaum terpelajar yang tidak hanya dimonopoli anak sekolahan, tapi juga mengakomodir kaum santri, telah jauh diteladankan oleh putra pertama Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari tersebut.

Pada 1934, Kiai Wahid baru saja pulang dari Mekkah. Ia menuntaskan pengembaraannya menuntut ilmu di tempat Islam pertama kali diturunkan tersebut. Sebagai anak muda (20 tahun) dan memiliki basis keilmuan yang luas, membuat semangatnya meletup-letup untuk melakukan perubahan di tengah kungkungan kolonialisme.

Di tengah gemuruh semangat dan gerak zaman, Abdul Wahid muda melakukan serangkaian upaya untuk berkontribusi mengubah nasib bangsa. Selain mendirikan Madrasah Nidzimiyah, Wahid pun mendirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam (IKPI) pada tahun 1936. Tidak hanya pelajar madrasah dan sekolah yang tertarik untuk ikut, tapi para santri pun turut bergabung dalam organisasi kepelajaran tersebut.

Dalam waktu yang tak lampau lama, IKPI telah beranggotakan 300 orang lebih. IKPI, demikian keinginan Kiai Wahid, menjadi wadah kaum muda Islam untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapannya serta kemampuan organisatorisnya. Dimana, kala itu, amat langka sekali, organisasi kepelajaran yang berbasis Islam. Terlebih bagi kalangan Islam Pesantren.

Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Kiai Wahid bersama IKPI merintis bibliotek alias taman baca. Untuk ukuran saat itu, bibliotek yang didirikan IKPI ini luar biasa. Tidak kurang ada 500 buku yang menjadi koleksi taman baca tersebut. Tidak sebatas bacaan keagamaan, namun berbagai referensi lainnya juga disediakan. Literaturnya pun terdiri dari beragam bahasa, dari Melayu, Jawa, Madura dan Sunda. Ada juga yang berbahasa Arab, Belanda dan juga Inggris.

Saban hari, banyak anggota IKPI yang berebut membaca koleksi bibliotek tersebut. Mereka seolah ingin menjadi yang pertama dalam membaca literatur yang tersedia. Visi Kiai Wahid dalam memperkuat basis pengetahuan para pelajar Islam ini dengan memperluas akses bacaan tidak hanya berhenti di bibliotek. Mereka juga dibiasakan berlangganan dengan berbagai surat kabar dan majalah. Mulai dari harian Matahari, Suara Umum, Sin Tit Po, dan Pejuang. Ada pula yang mingguan seperti halnya Pedoman Masyarakat, Panji Islam, Panji Pustaka, Pustaka Timur, Adil dan Pesat. Selain itu ada yang tengah bulanan macam Berita NU, Dunia Pengalaman, Lukisan Pujangga, Cendrawasih, Islam Bergerak, Pujangga Baharu, Al-Fatah, Kemudi, Seruan Pemuda dan banyak lagi lainnya.

Dari berbagai surat kabar yang menjadi langganan IKPI, menandakan keterbukaan Kiai Wahid dalam menerima pemikiran. Ia tak ingin para pelajar Islam (Pesantren) hanya memiliki pengetahuan terbatas dan terkungkung dalam fanatisme buta. Perbandingan pemikiran yang dikenalkan melalui beragam bacaan yang lintas ideologi itu, menunjukkan visi Kiai Wahid, bahwa anak muda terpelajar harus memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Tak hanya pengetahuan sepihak yang pada akhirnya berbuntut fanatisme dan radikalisme.

Selain itu, upaya Kiai Wahid membawa IKPI dalam khazanah literasi yang warna-warni itu, tersirat keinginan untuk mensejajarkan pesantren dengan institusi pendidikan sekuler yang diinisiasi Belanda kala itu. Biasanya, hanya kalangan pelajar alumni HIS, MULO dan sejenisnya saja yang berlangganan surat kabar yang berbahasa Asing. Tapi dengan IKPI, kalangan madrasah dan pesantren pun melakukan hal yang sama.

Tentu saja, gagasan Kiai Wahid dengan IKPI-nya tersebut tergolong progresif di masanya. Dari sinilah kelak banyak alumnus Pesantren Tebuireng yang mungkin saja alumni IKPI, di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh di daerahnya masing-masing yang berkontribusi besar bagi NU maupun Indonesia.

Dari upaya Kiai Wahid Hasyim dengan IKPI-nya tersebut, benar-benar memberikan teladan bagi kita, pelajar-pelajar muda NU yang tergabung di IPNU (dan juga IPPNU). Setidaknya ada dua hal penting yang patut kita renungkan.  Pertama, progresifitas, dimana anak muda selalu identik dengan semangat, inovasi dan keberanian untuk mencoba. Dengan karakteristik yang demikian, tak jarang melahirkan aksi-aksi progresif yang dirintis oleh anak muda. Banyak pesantren kala itu yang menutup diri dari perkembangan zaman dan informasi non-keagamaan, tapi hal itu didobrak oleh Kiai Wahid dengan Madrasah Nidzamiyah dan IKPI-nya. Bukankah hal ini bentuk dari progresifitas tersebut?

Kedua, berpikiran terbuka. Semangat membaca yang ditularkan oleh Kiai Wahid di IKPI tersebut sebenarnya adalah ejawantah dari keterbukaan pemikirannya. Ia tak ingin pelajar yang tergabung dalam IKPI tersandera dalam dogma. Terpenjara dalam tafsir tunggal dan monopoli pengetahuan. Oleh Kiai Wahid, cakrawala pemikiran benar-benar dibuka seluas-luasnya. Dengan demikian, mereka bisa memilih sekaligus menunjukkan yang benar itu benar, yang salah itu salah.

Hal tersebut, seperti diakui sendiri oleh Kiai Wahid dalam artikel “Mengapa SayaMemilih NU?”. Sebagai putra pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Wahid tidak ingin terjebakdalam ber-NU yang sekedar kultural, apalagi hanya karena keturunan. Tapi, ia inginber-NU secara rasional, mantap dan meyakinkan. Dari pencariannya selama empat tahun,Kiai Wahid akhirnya memilih NU. Dan, ia menjadi NU yang kaffah. Hal ini tak lainefek dari keterbukaan pemikiran yang menjadi prinsipnya.

So, tak ada kata lain bagi kita yang mengaku mengidolakan Kiai Wahid, selain dengan mantap mengucapkan “tabiq”, seperti halnya kita memekik “Belajar, Berjuang, Bertaqwa!”

(Ayung Notonegoro: Waka PC IPNU Banyuwangi 2016 – 2017)