• April 6, 2017
  • mediaipnu
  • 0

Khilafah atau Khilaf…Ah?

Gara-gara rame masalah Khilafah, rasanya saya jadi ikutan “Khilaf…Ah.” Siapa sih yang sebenarnya ngomong khilafah-khilafah? Jadi gini brow, gembar-gembor perjuangan khilafah itu pertama kali dimainkan oleh Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir tahun 1928. Pendirinya namanya Hasan al Banna. Ga usah dibahas di Indonesia afiliasinya sama partai apa ya.

Nah, meski idenya awal-awal digembar-gemborkan oleh Ikhwanul Muslimin, selanjutnya ide khilafah itu banyak dimainkan sama Hizbut Tahrir yang didirikan di Yerussalem Timur tahun 1953 yang didirikan oleh Taqiyuddin an Nabhani.

Di Indonesia Hizbut Tahrir juga yang kampanye khilafah, khilafah dan khilafah. Pokoknya apapun masalahnya, khilafah solusinya. Sampai masalah sekecil apapun khilafah solusinya. Jadi khilafah ini kaya obat untuk semua penyakit. Ini mungkin memang pejuang khilafah yang kaffah. Nah, di kampus di Indonesia, sayap Hizbut Tahrir Indonesia alias HTI buat gerakan namanya Gema Pembebasan alias Gerakan Mahasiswa Pembebasan. Pertanyaanya apanya yang perlu dilakukan pembebasan? Dengan pertanyaan apapun, jawabannya insya Allah sama, khilafah, titik.

Selain Hizbut Tahrir, gembar-gembor ide khilafah ini dilanjutkan oleh ISIS alias International State of Iraq and Syria. Pendirinya namanya Abu Bakar al Baghdadi. Tahu kan bagaimana ISIS sekarang? Wis nggak usah dibahas. Tapi sih katanya beda konsep khilafahanya. Masa sih?

Di Indonesia, benih-benih ide khilafah sudah ada sejak awal kemerdekaan tahun 1945, yaitu oleh DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam dan menolak Pancasila. Tapi gerakan DI/TII akhirnya ditumpas saat itu. Dan era reformasi 1998, karena diberikan ruang gerak yang bebas atas nama kebebasan berpendapat dan kebebesan berserikat, kampanye khilafah itu mulai rame lagi. Jadi, berkat demokrasi mereka bisa menyampaikan pendapatnya dengan bebas, tapi tujuannya juga ingin menghancurkan demokrasi.

Logikanya gimana ya? Gini, dengan adanya sumber mata air kalian bisa minum, mandi dan cebok, tapi kalian malah ingin menutup sumber mata air itu. Di mana terimakasih kalian? Kalian tega.

Oleh: Slamet Tuharie (Ketua PP IPNU)