• April 13, 2017
  • Pimpinan Pusat IPNU
  • 0

NU LAHIR SEBAGAI TONGGAK BANGKITNYA KESADARAN JATI DIRI.

Nahdlatul ‘Ulama, bukan sekedar nama yang diproklamirkan 94 tahun silam sebagai hanya sebuah organisasi. Nahdlatul ‘Ulama (NU) ada jauh setelah adanya Nahdliyyin (orang-orang NU). NU sebagai organisasi yang didirikan 16 Rajab 1344 H adalah jawaban atas kebutuhan perlawanan terhadap proyek besar deradikalisasi yang sampai hari ini justru semakin gencar. NU lahir sebagai tonggak bangkitnya kesadaran atas jatidiri, sebagai orang Nusantara yang beragama Islam, yang dianugerahi Tuhan dengan identitas dan karakter Nusantara dengan Islam sebagai pedoman laku dan lelakunya.
NU adalah metode, produk ijtihad orang Nusantara dalam memeluk Islam. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana ber-Islam dan tetap menjadi Nusantara. Nusantara adalah ketentuan dan ketetapan Tuhan sebagaimana informasi dalam Surat Al-Hujurat ayat 13. Peradaban manusia adalah proses interaksi dan akulturasi beragam budaya yang senantiasa berkembang menuju tatanan terbaik. Agama, dengan Islam rahmatan lil ‘alamin beserta nilai-nilai sosial lain senantiasa menemani dan mengiringi perjalanannya, NU memberi pijakan Al-muhafadhotu ‘ala qodimissholih wal akhdu bil jadidil ashlah.
Proyek besar deradikalisasi yang dijawab dengan berdirinya NU 94 tahun silam belakangan semakin gencar. Dan NU, sebagai organisasi Islam yang merasa terbesar -meski iya secara kuantitas- agaknya merasa paling diancam dan paling wajib pasang badan. Dengan segala dalil dan deret warisan cerita kiprah untuk bangsanya, NU menjadi yang paling rame mengisi arena pertempuran. Padahal, NU sebagai manhaj belum sepenuhnya menjadi kesadaran bersama. NU terus ditampilkan sebagai satu produk jadi yang seolah paling layak dikonsumsi. Padahal yang sedang dihadapi adalah gerakan yang sudah mendunia dengan isu globalnya. NU sebagai produk tidak lain hanya konsumsi lokal. Meski NU ada di Negara luar Indonesia, tetap saja disana orang Indonesia yang berperan. Berbeda dengan gerakan transnasional seperti Wahabi, IM dan HT, yang jelas kita lihat orang-orangnya adalah dari orang kita sendiri.
NU sebagai manhaj pernah ditawarkan kepada dunia melalui konsep Islam Nusantara, meski sempat gagal dirumuskan secara serius dalam Muktamar 33 di Jombang pada Syawal 1436. Namun geliat diskursus Islam Nusantara pasca itu tidak bisa dibendung. Islam Nusantara muncul sebagai legitimasi corak Islam di tanah air ditengah meluasnya gerakan ISIS. Namun sekali lagi, jika Islam Nusantara ditawarkan sebagai produk maka hanya akan laku di pasaran lokal. Mungkin Tahlilan masih bisa, tapi bagaimana dengan slametan dan wayang? Terlepas dari itu, Islam Nusantara muncul sebagai penerjemahan ide pribumisasi Islam sejak NU era Gus Dur.
Sebagai Pelajar dalam ikatan yang bernaung dibawah Panji besar NU, IPNU sebatas bisa berusaha memanfaatkan momentum 94 tahun NU ini untuk banyak belajar dan belajar banyak dari perjalanan NU. Dalam ikatan kami, refleksi 94 tahun NU akan senantiasa kami serap semaksimal mungkin untuk disublimkan ke dalam ikatan. Sebab, NU masa depan berwarna IPNU hari ini. Jika IPNU sekedar alat dan bukan aset masa depan NU, alangkah malangnya nasib NU kelak.
Untuk NU yang semakin membanggakan kami para pelajar yang tergabung dalam IPNU, jangan lelah dan bosan membimbing kami. Agar kelak NU masih menjadi bagian yang mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. (Syaiful)