• Mei 6, 2017
  • Pimpinan Pusat IPNU
  • 0

Manusia yang Bermanfaat itu Kamu yang Mau Berusaha

 

Menjalani kehidupan di dunia ini sungguh tidaklah mudah, namun Allah telah mengajarkan kita untuk berusaha dan memintanya melalui sebuah doa. Banyak sekali rintangan atau bersakit-sakit dahulu yang harus kita hadapi dan semua orang telah mengetahui, bahwa sebuah rintangan akan terus dihadapi sampai kapanpun dengan cara apapun. Semua orang juga telah mengetahui bahwa setelah datang rintangan pasti akan datang sebuah kemenangan, kebahagiaan dan kesenangan.

Sebagai mahluk sosial, manusia harus mempunyai kedekatan dengan sesama manusia. Mengapa? Alasannya jelas, karena untuk saling tolong-menolong dan membantu meringankan beban yang sedang dialami atau dengan kata lain juga menjadi teman di saat kita sedang bahagia, kita bisa berbagi dan saling menawarkan bantuan.

Sebagai mahluk yang mempunyai kebutuhan tidak ada batasnya atau manusia sebagai mahluk ekonomi, manusia perlu berkaca pada dirinya sendiri. Harus mengetahui seperti apa kemampuannya dan seberapa tangguh kebutuhan itu harus dipenuhi. Tidak ada yang salah dengan banyak keinginan atau banyak kebutuhan, semua itu akan terpenuhi hanya dengan pencapaian yang maksimal dengan sebuah usaha, namun seperti sedang berada di pasar, saat kita menginginkan untuk membuat orek tempe maka kita akan segera mendatangi penjual tempe, lalu membeli bawang, kecap, cabe, garam dan gula. Sebuah usaha bukanlah hal yang individualis, semuanya harus berada dalam sebuah kebersamaan atau dengan kata lain membutuhkan yang lainnya.

Sebagai mahluk yang sukanya berpolitik, sebuah kekuasaan adalah tujuan kehidupan. Menjadi seorang politikus bukanlah hal yang mudah, selain mengatur apa-apa saja yang harus dibuat sebuah peraturan juga harus memandang pandapat rakyat jelatanya. Setiap manusia memang telah menentukan jalan kehidupannya dan telah ditentukan juga oleh Allah sebelum dia dilahirkan ke dunia ini. Banyak yang kehilangan wibawanya saat seorang manusia menduduki kursi panas bertemakan pemimpin sebuah kekuasaan hanya karena dorongan nafsu duniawi terhadap benda materialistis penambah glamor gaya untuk ketenaran diri sendiri.

Sebagai manusia yang berbudaya akan menjadi ciri khas tersendiri, menjadi pembeda karena terdapat karakter yang tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga lebih mudah untuk dikenali. Budaya adalah cerminan yang erat kaitannya dengan kebersamaan atau kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama. Memang, antara budaya dan sosial akan selalu menjadi relasi yang baik, sebuah sikap sosial akan tumbuh berdasarkan kondisi budaya dan juga sebaliknya terciptanya adat budaya di sebuah masyarakat karena adanya hubungan sosial yang melandasinya.

Dilihat dari segi sosial, ekonomi, politik juga budaya sebagai manusia sungguh sangat saling membutuhkan, saling menolong dan juga berkasih sayang. Karena sudah jelas, segala tindakan baik yang dilakukan akan berbalik kepada diri sendiri, terutama saat merasa butuh pertolongan. Segala kebutuhan hidup layaknya pangan dan sandang sangatlah saling berkaitan, antara produsen dengan konsumen. Merebut kekuasaan juga sangatlah butuh dukungan, makanya setiap manusia harus melatarbelakangi berbuat kebaikan sebelum meminta balasan. Menjadi manusia yang berbudaya juga sangatlah dipentingkan, hal ini merujuk pada kebiasaan atau keunikan yang menjadi bahan untuk berkumpul serta menjadi pembeda antara yang lainnya.

Sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat? Penjelasan di atas hanyalah masalah pendekatan dengan manusia, bukan dengan Tuhan apalagi alam. Manusia yang mempunyai hubungan baik dengan manusia lain akan lebih berimbas untuk kedua hal selanjutnya terhadap masalah ketauhidan dan juga sadar akan pentingnya lingkungan yang dihuni. Jadi, sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain?