• September 14, 2017
  • mediaipnu
  • 0

Merdeka dari HOAX Merdeka dari Malas Membaca

Tidak diimbanginya daya literasi pada masyarakat menjadikan informasi kebohongan (hoax) semakin kuat daya sebar dan pengaruhnya. Menurut data World’s Most Literate pada tahun 2016, Indonesia berada pada posisi kedua dari bawah dari 61 negara yang diteliti, dari segi daya literasi, Indonesia sebagai bangsa yang besar dan berwibawa dimata dunia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Dari fakta tersebut, mirisnya saat menerima informasi seringkali warganet hanya membaca sekilas atau malah terkadang sampai membaca judulnya saja tanpa memahami benar tidaknya informasi terebut.

Anda bisa bayangkan apa yang terjadi, jika seseorang tanpa disadari sudah “membenarkan yang bohong (hoax)” hingga meyakininya sebagai kebenaran kemudian menggunakan hoax sebagai alat kampanye mempengaruhi massa untuk menjadi bahan bakar menghujat, membenci, menyudutkan kelompok lain, hanya demi kepentingan politis kekuasaan segelintir oknum. Lalu terlebih jika hoax menggoreng isu SARA, tentu sudah pasti  akan memperuncing kekacuan stabilitas kehidupan bernegara yang semuanya bermuara pada “kehancuran” pada apa yang telah susah payah berdarah-darah “disatukan” oleh leluhur bangsa Indonesia.

Berawal dari keyakinan hoax, berujar kebencian, tanpa sadar dalam ego kita muncul rasa meremehkan akan perbedaan, rasa benci yang terendap dialam bawah sadar kita malah membuat kita semakin mempercayai hoax lain yang memojokkan apa yang kita benci, sehingga secara otomatis sangat sulit bagi orang yang sudah terlanjur meyakini hoax lalu menerima kebenaran yang sesungguhnya. Terkecuali jika orang tersebut memang berpikir dengan bijak. Lalu disamping dibebarengi munculnya rasa remeh, hanguslah rasa saling menghormati kerukunan antar golongan ras dan agama, yang selama ini menjadi baju kebanggaan Indonesia dimata dunia. Jika hoax dibiarkan berkembang biak, bukan tidak mungkin sama saja kita menelan pil tidur mematikan untuk siap mencekik perlahan saat kita asyik terlelap tidur.

Sebagai pelajar Nahdlatul Ulama, hoax bukanlah alasan untuk khawatir menghambat perjuangan nilai-nilai ke-ASWAJA-an lewat media maya. Justru jadikan hoax sebagai tantangan untuk kita taklukan, lalu kita buang  pada tempatnya sebagai sampah pembodohan. Hoax tak mungkin kita hindari selama cara menggunakan media sosial didasari ingin selalu mencari pembenaran bukan kebenaran demi menuruti ego sendiri.

Oleh karena itu, anggaplah ini sebuah permainan dimana permainan harus kita menangkan melawan hoax, cukup lewat dari kontribusi kecil yaitu “mengenal pentingnya membaca” dengan mengenalnya terlebih dahulu maka kita akan mencintai besarnya kekuatan membaca.

Knowledge is power and ignorance does not help you” (Pengetahuan adalah kekuatan dan ketidaktahuan tidak menolong anda) dengan semangat mencerdaskan diri agar tidak terbawa kuatnya arus informasi yang berlalu lalang disetiap waktu. Maka carilah perahu pengetahuan sekokoh mungkin. Dengan juga mengedepankan rasa “bijak bermedsos”, maka dengan sendirinya terbangunlah rasa tak mudah terpengaruh, pandai mengklarifikasi dengan banyak mencari tahu, dan teliti setiap informasi yang kita terima.

Jangan jauhi media sosial karena khawatir dampak hoax, malah  justru kita bertindak sebaliknya. Manfaatkan segala media yang ada lalu kelola segala infromasi dengan bijak dialam pikir kita dan berikan informasi yang jernih mencerahkan untuk publik. Untuk menimbulkan rasa “bijak bermedsos” langkah awal mengawalinya ialah bertanya pada diri terlebih dahulu.

Sebagai makhluk berakal, sudikah diri kita dibohongi dengan sebegitu mudahnya? Saya berpikir hanya orang yang bertekad merugi  yang akan menjawab “sudi”.

“Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar” Zen RJ

Oleh: Jean Iftitachs

Editor: Humam Fauyi