• Mei 2, 2020
  • syakirnf
  • 0

Hafalan Al-Qur’an, Modal Lanjutkan Studi di Negeri Maghrib

Negeri Maghrib atau yang lebih dikenal dengan Maroko menjadi salah satu destinasi untuk melanjutkan pengembaraan keilmuan para santri kelana Nusantara. Untuk menempuh studi di sana, selain kemampuan bahasa Arab yang mumpuni dan penguasaan pengetahuan agama yang lumayan, hafalan Al-Qur’an juga menjadi modal utama.

Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko Ahmad Sri Bintang menjelaskan bahwa semua jalur masuk studi ke Maroko harus ditempuh dengan kemampuan hafalan Al-Qur’an. Hal itu diungkapkan saat Bincang Studi Timur Tengah Edisi Maroko yang digelar oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) pada Ahad (26/4).

Setidaknya, ada tiga jalur masuk studi di Maroko selain jalur personal, yakni melalui Kementerian Agama, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan jalur kerjasama antara lembaga tertentu di Indonesia dengan lembaga yang ada di Maroko, semisal pesantren.

Adapun jalur Kementerian Agama saat ini memiliki dua jalur, yakni jalur Pendidikan Islam dan jalur Pendaftaran Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Jalur pertama syarat hafalan Al-Qur’an 3-5 juz, sedangkan jalur kedua minimal hafalan 10 juz. Semuanya harus dibuktikan dengan syahadah hafalan Al-Qur’annya dari lembaga tempat santri menghafal.

Di Maroko, terdapat dua lembaga yang menaungi pendidikan, yakni kementerian pendidikan dan kementerian wakaf yang langsung di bawah naungan raja. Bagian pertama pendidikan modern, sementara bagian kedua pendidikan tradisional sebagaimana di pesantren. Artinya, model pembelajaran yang dilakukan hampir tak jauh berbeda dengan yang di pesantren.

Maroko juga memiliki lembaga pendidikan tertua di dunia, jauh sebelum Al-Azhar berdiri, yakni Qurowiyin. Untuk dapat belajar di tempat tersebut, salah satu syaratnya adalah hafal Al-Qur’an 30 juz. Di sana, para santri belajar melingkar di masjid dengan satu pengajar.

Maroko merupakan negara yang memiliki kedekatan khusus dengan Indonesia sehingga bagi para pelancong dari Indonesia dapat menikmati negara tersebut tanpa membutuhkan visa. Hal itu terbangun dari sejak zaman Bung Karno. Saking dekatnya, di sana terdapat Jalan Ahmad Sukarno dan di Jakarta terdapat jalan Casablanca, sebuah kota industri di sana.

Bagi yang di Indonesia mengambil studi jurusan umum tentu harus rela untuk dapat belajar dari tingkat Tsanawiyah (aliyah di sini) sebagai persiapan untuk menempuh studi di pendidikan tinggi. Pasalnya, beberapa lembaga di sana menganggap kemampuan para pembelajar tersebut belum dapat disetarakan mengingat ijazahnya penuh pelajaran umum, meskipun mereka pada asalnya mengaji di pesantren juga.

Tentu saja di sana banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi seperti Marrakesh, Casablanca, dan sebagainya. Bagi para santri, tentu banyak destinasi makam para ulama dan awliya yang dapat diziarahi, seperti wali tujuh di Marrakesh, Syekh Tijani pendiri Tarekat Tijaniyah di Fez, pengarang kitab Ajurumiyah, hingga makam pelancong dunia, yakni Ibnu Batutah.

Syakir NF