• Mei 2, 2020
  • syakirnf
  • 0

Melanjutkan Studi di Lebanon

Lebanon memang belum banyak dilirik oleh santri Nusantara sebagai destinasi dalam mencari pengetahuan. Hal itu bukan berarti tidak ada pelajar Indonesia yang menempuh studi di sana. Beberapa orang yang sudah menamatkan jenjang pendidikannya di pesantren melanjutkan pengembaraan keilmuannya di negara beribukota Beirut itu.

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar diskusi Studi di Lebanon bersama Sekretaris Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Lebanon Faiz Fafiruddin pada Sabtu (25/4).

Dalam kesempatan tersebut, Faiz menjelaskan bahwa beberapa pelajar Indonesia yang ada di Lebanon masuk ke kampus-kampus melalui jalur personal. Artinya, pada awal-awal belum ada jalur yang terhubung dengan pemerintah maupun jalur lainnya.

Tahun 2016, ia dan angkatannya masuk melalui jalur Kementerian Agama. Mahasiswa di Universitas Islam Beirut itu mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia melalui Kemenag. Namun, program dan jalur ini ditutup sejak 2018 lalu.

Untuk menambah rekan-rekannya yang menempuh studi di sana, ia dan pengurus NU meminta jatah beasiswa khusus bagi Nahdliyin kepada beberapa kampus tertentu. Pihak kampus pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Hal tersebut juga diketahui oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sebagai wakil pemerintah Indonesia di sana.

Pihaknya pun diberikan kewenangan penuh untuk menyeleksi setiap calon pelajar. Berbagai tahapan penyeleksian yang ketat sudah dilaksanakan dan sudah terpilih beberapa pelajar yang bakal meneruskan tongkat estafet pembelajaran di negeri berjuluk Paris of The East (Parisnya Negara Timur) itu.

Mudahnya permintaan tersebut terkabulkan bukan tanpa sebab. Pasalnya, mahasiswa Indonesia di sana dikenal sangat beradab mengingat mereka menerapkan akhlak santri kepada para masyayikh, seperti cium tangan, meskipun pada awalnya para ulama tersebut tak terbiasa sampai mengerti begitu beradabnya santri-santri Indonesia. Demikian pun menjadi gejala umum sehingga mahasiswa lain melakukan hal yang sama.

Namun sayangnya, negara dengan destinasi pantai Mediterania terindah di Timur Tengah itu masih mengalami gejolak revolusi. Demonstrasi berkepanjangan masih terus berlangsung sehingga faktor keamanan menjadi kendala keberangkatan para mahasiswa yang sudah terseleksi untuk dapat berstudi di negara tersebut.

Padahal, Lebanon merupakan salah satu surga para pencari ilmu, terlebih bagi santri Nusantara. Tentu para santri sudah mengenal penerbit kitab Dar el-Fikr. Jika santri mengaji membawa kitab yang tertera logo penerbita kitab yang berada di Kota Beirut itu, tentu wibawanya akan beda. Kover hitam dan tulisan tinta emas tiga dimensi seakan memberi sentuhan kharisma bagi si santri. Meskipun memang, kerap kali harga kitab di sana cukup merogoh kocek bukan saja soal cetakannya yang sangat menarik dan kualitas baik, tetapi juga harga dolar yang terus meroket semakin dalam ia harus merogoh sakunya.

Di Lebanon, pelajar di tingkat sarjana masih belajar keilmuan secara umum. Jika mengambil ilmu syariah, mereka akan belajar ilmu syariah secara umum, belum menjurus ke Ushuluddin, tafsir, hadis, sastra Arab, ataupun fiqih dan sebagainya. Baru pada jenjang magister, mereka dapat mengambil takhassus ke bidang keilmuan tertentu.

Syakir NF