• Mei 11, 2020
  • syakirnf
  • 0

300 Ribu Rupiah Biaya Setahun Kuliah di Tunisia

Tak perlu biaya mahal untuk dapat studi di Tunisia. 300 ribu rupiah saja sudah cukup untuk membiayai setahun perkuliahan tingkat sarjana. Hal itu diungkapkan oleh Idris Ahmad Rifa’i, Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia, saat berbincang mengenai studi di negara tersebut bersama Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) pada Ahad (11/5).

Idris menjelaskan bahwa biaya tersebut sudah mencakup biaya makan di kampus dua kali sehari (siang dan sore) dan asuransi kesehatan.

Sementara untuk studi magister di sana, dua kali lipat dari studi sarjana, yakni sekitar 600 ribu rupiah.

Untuk dapat studi di sana pun, tidak perlu melalui berlapis-lapis tes seleksi. Seleksi pada jalur Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia hanya dilakukan melalui berkas-berkas yang dikirim oleh peserta pendaftar. Tidak ada wawancara, hafalan Al-Qur’an, dan sebagainya. jalur ini menyediakan kuota 30 mahasiswa yang mencakup seluruh jenjang, yakni sarjana, magister, dan doktoral.

Adapun berkas yang harus dipersiapkan adalah transkrip nilai, ijazah, identitas diri yang semuanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab atau Perancis. Satu hal lagi yang perlu disiapkan adalah nilai Test of Arabic for Foreign Language (TOAFL) atau hasil kemampuan bahasa Arab. Untuk studi sarjana sebesar 450, sedangkan magister nilai minimumnya 500.

Mahasiswa magister Universitas Ez-Zitounah itu menyampaikan bahwa adanya berkas TOAFL menjadi prasyarat karena untuk mengantisipasi kegagapan para pelajar Indonesia yang diterima. Hal ini mengingat kampus di Tunisia tidak lagi menyediakan program tamhidi atau persiapan bahasa bagi para pelajar asingnya.

Di samping itu, ada juga jalur melalui kerjasama dengan pesantren, yakni Pesantren Darul Qolam sejumlah 30 santri dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sejumlah 10 santri. Untuk jalur PBNU, biasanya diharuskan melampirkan rekomendasi pengurus NU di cabang atau wilayah setempat. Setidaknya, ada rekomendasi dari pesantren, selain berkas-berkas yang telah disebutkan di atas.

Idris sendiri mengaku tengah mengupayakan adanya kuota tambahan khusus jalur PBNU, di samping juga beasiswa lain, seperti pertukaran pelajar, studi singkat (short course), dan sebagainya.

Mahasiswa Indonesia, khususnya Nahdliyin, di sana juga memiliki kedekatan khusus dengan Rektor Universitas Ez-Zitounah, yakni Prof Hichem Grisse. Bahkan, ia diangkat sebagai salah satu mustasyar PCINU Tunisia.

Syakir NF