• Juli 24, 2020
  • syakirnf
  • 0

Belajar Virtual, Tetap Jaga Adab dengan Guru

Oleh: Auzan Mursyidan

Dunia pendidikan merupakan hal yang wajib bagi seluruh umat manusia. Pendidikan berhasil mencetak sejarah dan peradaban manusia sebut saja seperti peradaban Yunani, Persia, Mesir, Baghdad, dan lain-lain.

Santri dan siswa merupakan simbol dunia pendidikan di Indonesia walaupun mempunyai jalur yang berbeda. Bila santri lebih mempelajari tentang ilmu agama, berbeda dengan siswa yang lebih dikonotasikan pada orang yang mempelajari pengetahuan umum. Meskipun demikian, mereka sama-sama murid dari guru.

Sumber: NU Online

Kesahihan ilmu harus benar-benar bersumber dari ‘mata air’ yang terjamin. Maka, gurulah yang membuat kita bisa sampai menemukan ‘mata air’ tersebut. Syekh Ibrahim bin Ismail al-Zarnuji menerangkan dalam Kitab Ta’limul Muta’allim, ada enam syarat menuntut ilmu yang benar-benar jernih. Hal tersebut terangkum dalam syair berikut.

أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ واصْطِبَارٍ وَ بُلْغَةٍ # وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Enam syarat tersebut, yakni (1) cerdas, (2) semangat, (3) sabar, (4) bekal, (5) petunjuk guru, dan (6) waktu yang lama. Hal tersebut tidak hanya berlaku untuk para pelajar di zaman tersebut saja, tapi juga untuk seluruh zaman dan keadaan.

Seiring waktu berlalu, beragam metode pembelajaran diaplikasikan demi memenuhi kebutuhan belajar. Dari enam syarat yang disebutkan di atas, poin kelima petunjuk guru perlu kita sorot di tulisan ini.

إِرْشَادُ أُسْتَاذٍ أي دَلَالَةُ أُسْتَاذٍ عَلَى وَجْهِ الصَّوَابِ

“Petunjuk guru yang dimaksud adalah arahan guru dalam mencari perspektif kebenaran”

Mengharap petunjuk dari guru harus menjunjung tinggi adab terhadapnya. Adab membuat murid dipandang oleh guru dengan pandangan rahmat sehingga rida guru selalu mengalir kepada murid. Salah satu penghormatan kita kepada ilmu adalah menghormati guru demi merasakan ‘air jernih’ dari beliau.

Saking takzimnya kepada guru, Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. bahkan mengemukakan sebuah kalimat yang sangat penting untuk direnungkan bersama. Berikut kalimatnya.

أَنَاعَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفًا وَاحِدًا إِنْ شَاءَ بَاعَ وَ إِنْ شَاءَ أَعْتَقَ

“Aku adalah budak bagi siapa yang mengajarkanku satu huruf dari ilmu. Bila ia ingin maka ia menjualku, atau bila ia ingin maka ia membebaskanku”

Kalimat tersebut mengandung makna yang sangat tinggi demi menjunjung adab terhadap guru. Murid, menurut pandangan Sayidina Ali dalam kalimat tersebut, merupakan seorang hamba di hadapan gurunya.

Sementara itu, Pendiri Nahdlatul Ulama Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam kitabnya yang berjudul Adabul Alim wal Muta’allim menuturkan 12 macam adab terhadap guru. Di antaranya ialah memandang guru dengan pandangan hormat. Maksudnya adalah tunduk di hadapannya, sopan dalam bersikap dengan dan terhadapnya, serta tidak berkeluh kesah dengan keadaan.

Memang benar, bahwa sang guru tidak mengetahui apapun di belakang kamera. Namun seorang penuntut ilmu yang benar-benar berjalan dengan niat yang lurus pastilah menjaga adabnya dengan baik. Mungkin saja sikap kita yang demikian ini justru menjadi pandangan rahmat dari Allah swt. sehingga berkah dan manfaatlah ilmu yang kita peroleh.

Dua kitab tersebut merupakan pedoman dan rujukan bagi para pelajar dalam belajar adab terhadap ilmu, salah satunya adab terhadap guru. Kedua kitab itu juga ditulis bukan cuma untuk para pelajar di eranya, melainkan juga untuk para pelajar yang menyongsong masa depan. Karenanya, apa yang disampaikan oleh kedua muallif tersebut masih relevan diterapkan di seluruh metode pembelajaran.

Pembelajaran Virtual

Di tahun sekarang ini, kita benar-benar direpotkan oleh pandemi yang mewabah di seluruh negeri. Dampaknya pun juga menjalar ke dunia pendidikan. Demi menerapkan pembatasan jarak antarorang, maka diciptakan inovasi baru, yaitu pembelajaran melalui metode virtual. Model demikian ini membuat murid dan guru bisa saling bertatap muka melalui layar ponsel atau komputer di rumah masing-masing.

Apakah lingkup adab yang diterapkan di kelas juga harus diterapkan di metode pembelajaran seperti ini? Ya tentu, bahkan wajib. Justru fenomena seperti ini menguji kesabaran para murid untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Kalimat menghormati ilmu dan ahli ilmu harus diamalkan di setiap ruang dan waktu, tak terkecuali dalam pembelajaran media virtual ini. Saat menyimak penjelasan guru, misalnya, tidak berbicara kecuali dengan izin beliau, tetap berpakaian rapi dan sopan, tidak berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari beliau, atau berbagai hal yang termasuk sedikit adab (qalilul adab) terhadap guru. Pasalnya, kitab Sullamut Taufiq menyebutkan bahwa qalilul adab terhadap guru adalah racun yang mematikan (summun qatil) untuk para murid.

Sebagai penutup, penulis mengutip sebuah hadis yang menggariskan bahwa guru merupakan orang yang sangat wajib dihormati sehingga harus betul-betul menjaga adab terhadapnya.

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : خَيْرُ الْأَبَاءِ مَنْ عَلّمَكَ.. أَوْ كَمَا رَوَاهُ

Sebaik-baik orangtua adalah orang yang mengajarimu ilmu.

Penulis merupakan kader IPNU Kalimantan Selatan