• Agustus 1, 2020
  • syakirnf
  • 0

Mimpi Nabi Ibrahim As untuk Berkurban Nabi Ismail

Oleh: Auzan Mursyidan

10 Dzulhijjah selalu menjadi hari yang dinantikan oleh umat muslim seluruh dunia mulai dari kalangan anak-anak hingga orang tua. Salah satu perayaan terbesar umat muslim yang dikenal dengan hari raya idul adha atau hari raya qurban ini dimulai dengan pelaksanaan shalat Id di pagi hari. Kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Sapi dan kambing menjadi ikon di negara kita karna selalu dikaitkan dengan perayaan ini.

Seluruh orang tentunya mengetahui akan latar belakang cerita di balik peristiwa penyembelihan hewan qurban yaitu bermula ketika diperintahkannya Nabi Ibrahim AS melalui mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail AS.

Kisah tersebut selalu diangkat di berbagai media bacaan bahkan bukan cuma di kitab kuning pesantren tapi juga di buku kurikulum di sekolah-sekolah formal.

Demi mengambil pelajaran dari kisah tersebut selalu diambil dua sudut pandang berbeda. Sudut pandang Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita untuk taat dan patuh atas ketentuan yang diberikan oleh Allah SWT dengan menanggung risiko apapun termasuk kehilangan anak. Sementara dari sudut pandang Nabi Ismail AS untuk selalu bersabar dalam menjalani ketentuan tersebut.

Apabila kita melihat melihat dari sisi kemanusiaan maka hal seperti ini sangat sensitif untuk dipaparkan, tak sembarangan dan harus teliti dalam menguraikan di hadapan masyarakat luas. Karenanya, Allah swt. mengabadikan cerita tersebut di dalam Al-Quran untuk dijadikan pembelajaran kepada generasi selanjutnya.

Bila kita hanya mendengar teori dasar cerita tersebut hanya dari telinga ke telinga ataupun sekadar membaca buku terjemahan saja, maka patutlah kita langsung menguraikan isi Al-Quran beserta tafsir dari para ulama di surat Ash-Shoffat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إنِّيْ أَرَى فِى الْمَنَامِ أنِّ أذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أبَتِ إفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُوْنِي إنْ شَاء الله مِنَ الصَّابِرِينَ
[QS:Asshoffat ayat 102)

Dalam Tafsir Al-Shawi, kisah tersebut dimulai dari ayat 102 tepat ketika Nabi Ibrahim AS menerima mimpi. Dijelaskan bahwa Nabi Ismail sudah menginjak umur 7 tahun dan sebagian riwayat menyebutkan umur 13 tahun. Sebelum itu, dikutip dari kitab yang sama, Allah swt. menyatakan Nabi Ibrahim sebagai ‘Khalilullah’ (kekasih Allah) yang sempurna mencintai-Nya sehingga apapun yang diminta olehnya pasti dikabulkan oleh Allah swt., termasuk dianugerahkannya seorang anak yang mulia.

Allah swt. sangat mencintai hamba-Nya. Begitupun sebaliknya, kecintaan Nabi Ibrahim sangat besar kepada Tuhannya. Namun ujian hati benar-benar membuat gelisah Nabi Ibrahim tepat ketika dikaruniai seorang anak yang tak lain adalah Nabi Ismail as. Maka disanalah terpalingnya cinta beliau ke Nabi Ismail as yang membuat rasa cinta kepada Tuhannya mulai bercabang.

Dalam keadaan seperti itu Allah swt mulai menguji ‘kekuatan’ cinta Nabi Ibrahim AS dengan memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya sendiri melalui perintah di dalam mimpi. Semua serta merta demi mengajarkan Nabi Ibrahim AS untuk mendahulukan cinta kepada Tuhannya dibanding kepada makhluk.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah seketika kita ditimpa musibah yang amat besar dan membuat hati gelisah itu bukanlah karna Tuhan murka kepada kita. Ingat selalu bahwa kasih sayang Tuhan lebih besar dari murka-Nya. Namun, menegur kita untuk memusatkan rasa cinta hanya kepada-Nya ketimbang kepada hal duniawi saja.

Kemudian di dalam kitab Tafsir Mirahullabid diterangkan ‘proses’ penyampaian mimpi tersebut dalam tiga tahap dan dikenal dengan al-ayyam al-tsalatsah (tiga hari).

Pada hari pertama, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah, diwahyukannya perintah tersebut. Ia mendengar sebuah kalimat perintah tidak langsung.

إن الله يأمر بذبح ابنك هذا

“Tuhan menyuruh untuk menyembelih anakmu ini.”

Awalnya, Nabi Ibrahim as ragu akan mimpi itu karena takut apakah bersumber dari Allah swt atau dari setan. Maka dinamakanlah hari tersebut dengan yaumut tarwiyyah (hari kebimbangan).

Di hari kedua, lagi-lagi Nabi Ibrahim as mengalami mimpi yang sama dan akhirnya ia mengenali bahwa mimpi tersebut merupakan perintah langsung dari Allah swt. dan dinamakan dengan yaumu arafah (hari keyakinan).

Di hari ketiga, barulah Nabi Ibrahim as benar-benar haqul yaqin atas perintah di mimpi tersebut dan dinamakan dengan yaumun nahr (hari penyembelihan).

Lalu, setelah menerima keyakinan atas mimpi tersebut, barulah Nabi Ibrahim as menyampaikan akan perintah itu kepada Nabi Ismail as.

Penulis merupakan kader IPNU Kalimantan Selatan