• Agustus 14, 2020
  • syakirnf
  • 0

Lestarikan Kitab Kuning, Pelajar NU Tulungagung Kaji Karya Mbah Hasyim

Tulungagung, Media IPNU

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Tulungagung Jawa Timur merutinkan pengajian kitab kuning Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karya Pendiri NU Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Pengajian ini digelar di Masjid An-Nahdliyah, Kantor PCNU Tulungagung dan diinisiasi oleh Departemen Dakwah PC IPNU Tulungagung. Awalnya, Pengurus PC IPNU IPPNU Tulungagung menginginkan ada sebuah momen berkumpul secara rutin. Supaya lebih bermakna, perkumpulan tersebut diisi dengan ngaji kitab kuning.

Wakil Sekretaris Departemen Dakwah PC IPNU Tulungagung Ahmad Nur Rohman mengatakan pengajian tersebut memang sengaja dirutinkan karena yang mengaji berasal dari seluruh daerah di wilayah kabupaten. Sebab, pengajian ini tidak memungkinkan jika dirutinkan dalam waktu yang relatif singkat, seperti satu pekan atau beberapa hari sekali.

“Karena teman-teman pengurus di ranting, mungkin juga punya jadwal ngaji di rumah masing-masing,” katanya, pada Senin (10/8).

Pria yang akrab disapa Menur ini melanjutkan bahwa pengajian kitab kuning tersebut diampu oleh Katib Syuriyah PCNU Tulungagung KH Bagus Ahmadi. Kemudian, masing-masing dari peserta pengajian itu menulisnya.

“Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah ini bertujuan agar para pelajar NU Tulungagung mengerti tentang peraturan-peraturan di dalam tubuh NU dan memahami bagaimana sebenarnya NU yang dituangkan oleh pendiri NU itu di dalam karyanya,” jelas Menur.

Ia menegaskan, pelajar NU sebagai penerus para pejuang NU harus mengerti tentang bagaimana Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah. Pengajian kitab kuning ini mendapatkan apresiasi dari Ketua PC IPNU Tulungagung Mauludin Qoironi.

“Kami sangat berterima kasih karena mereka masih mau nguri-nguri (Ind.: memelihara) kegiatan yang dilakukan oleh para sesepuh dan kiai terdahulu,” ungkap Mauludin.

Ia menegaskan, pengajian kitab kuning tentu harus dilestarikan agar tidak tertinggal dengan jalannya perkembangan zaman. Meskipun teknologi sudah canggih, jangan sampai pengajian kitab kuning ditinggalkan.

“Sekalipun hari ini sudah era digital, kami harap ngaji kitab kuning harus ada di setiap periode kepengurusan,” pungkasnya.

Kontributor: Zulfa Djulfikri
Editor: Aru Elgete