• September 18, 2020
  • syakirnf
  • 0

Diklat Persidangan, Solusi Pelajar NU Nganjuk Lahirkan Pimpinan Sidang yang Kompeten

Nganjuk, Media IPNU

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ialah organisasi yang memiliki forum-forum penting berbentuk persidangan. Setiap sidang yang diselenggarakan akan melahirkan keputusan-keputusan penting untuk masa depan organisasi.

Hal inilah yang melatari diadakannya Diklat Persidangan oleh Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Kabupaten Nganjuk, pada Minggu (06/09) lalu.

“Kader IPNU IPPNU harus paham teknik persidangan dan mekanisme pengambilan keputusan dalam persidangan,” ungkap ketua PC IPNU Kabupaten Nganjuk, Ahmad Syafi’i Sulaiman saat sambutan pembukaan.

Mahasiswa IAIN Kediri tersebut mengatakan bahwa diklat ini sangat penting, karena IPNU IPPNU itu ada kongres, konferensi, dan rapat anggota, sebuah forum yang selalu dihadapi di setiap periode.

“Ada yang beperan sebagai pimpinan sidang dan peserta sidang, kedua pihak tersebut harus paham teknik memimpin sidang. Jadi bukan hanya pimpinan sidang saja yang paham,” imbuhnya.

Kemudian, pemateri diklat M. Syarifuddin menegaskan bahwa kongres, konferensi, dan rapat anggota adalah forum tertinggi organisasi. Jadi harus dihargai dengan persidangan yang baik dan mekanisme yang jelas.

“Menjadi pimpinan sidang dalam konferensi memang membanggakan, namun harus kita sadari, bahwa forum konferensi adalah forum yang sakral dan terhormat, bukanlah forum yang main-main. Kita harus punya bekal berupa wawasan tentang persidangan,” jelas mahasiswa Universitas Negeri Malang itu

Dikatakan Syarifuddin, konsekuensi jika pimpinan sidang tidak paham teknik persidangan maka akan terjadi kerancuan dan ketidakkonsistenan dalam pengambilan keputusan, begitu pula jika peserta sidang tak mengerti mekanisme pengambilan keputusan maka akan terjadi perdebatan yang tidak terselesaikan. 

“Maka semua pihak dalam persidangan perlu mengerti apa itu opsi, justifikasi, afirmasi, lobyying, dan voting. Termasuk juga istilah peserta penuh, peserta peninjau, walk Out, dan deadlock juga perlu dipahami,” tambahnya.

Ketua panitia pelaksana Abdur Rochim Fatoni berharap seluruh peserta Diklat Persidangan ini mampu memimpin sidang baik itu di Pimpinan Anak Cabang (PAC), Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT), dan Pimpinan Ranting.

“Jadilah pimpinan sidang di daerah masing-masing, sila tularkan ilmu yang di dapat dalam diklat ini pada yang lain,” harapnya.

Rochim menjelaskan bahwa diklat yang digelar di TPQ Al-Hidayah Desa Mojorenbun, Kecamatan Rejoso ini adalah yang pertama diikuti oleh PAC wilayah I yang terdiri dari PAC Wilangan, Bagor, Ngluyu, Rejoso, Godang, Lengkong, dan Jatikalen.

“Masih ada dua lagi, yakni di wilayah II pada tanggal 13 September dan wilayah III tanggal 20 September,” pungkasnya. 

Kontributor: Syarif Dhanurendra
Editor: Mat Hesim Azhari