• Februari 14, 2021
  • syakirnf
  • 0

67 Ribu Shalawat Tibbil Qulub Dibacakan di Sulawesi Utara untuk Sambut Harlah IPNU

Manado, Sulawesi Utara

Sebagai bagian untuk menyambut Hari Lahir (Harlah) ke-67, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulawesi Utara (Sulut) akan melaksanakan gerakan membaca 67 ribu Shalawat Tibbil Qulub dan Kajian Aswaja (Kiswah). Selain itu akan dipersiapkan pula peluncuran situsweb IPNU Sulut.

Seluruh rangkaian kegiatan Harlah itu akan dilaksanakan di Kantor PWNU Sulut, Jalan Hasanuddin 14, Kecamatan Tuminting, Manado, Sulawesi Utara, pada 24 Februari 2021 mendatang.

“Kiswah adalah gerakan dakwah offline yang dilakukan PW IPNU sebagai pembading paham-paham yang menyimpang. Nantinya Kiswah bukan hanya diadakan di Harlah saja, melainkan akan dirutinkan selama dua pekan sekali,” ungkap Ketua PW IPNU Sulut Ridwan Eko Pujianto, saat dihubungi Media IPNU, Sabtu (13/2).

“Itu sangat peting dilakukan karena melihat keadaan kader IPNU di Sulut yang minoritas. Kita harus intens berdakwah untuk merangkul kader-kader,” tegasnya.

Karena dirasa kurang jika hanya berdakwah secara offline dan belum maksimal dalam merangkul para kader IPNU, PW IPNU Sulut pun akhirnya mempersiapkan situsweb sebagai media belajar dan media dakwah IPNU.

“Makanya kita transformasikan gerakan dakwah lewat website ini. Kita jadikan sebagai bentuk untuk penguatan keilmuan kader,” jelas pria kelahiran Manado itu.

Sementara itu Ketua Bidang Kaderisasi PW IPNU Sulut Saiful Ridwan Robo Adjidji mengungkapkan bahwa organisasi pelajar NU ini sudah tidak muda lagi. Karena itu diharapkan untuk dapat terus memperkuat kembali visi-misi untuk mencerdaskan pelajar dari segi pendidikan.

“Torang ini usianya so nyada muda lagi, sebagai organisasi pelajar torang kuatkan visi-misi dalam dunia pendidikan (Kita ini usianya sudah tidak muda lagi, sebagai organisasi pelajar kita kuatkan visi-misi dalam dunia pendidikan),” tambahnya.

Ia memberikan saran kepada para kader untuk terus memperhatikan satu hal yakni rajin membaca buku sebagai senjata IPNU untuk menjalankan visi-misi organisasi.

“Keadaan IPNU di Sulut itu minoritas. Harapan kami, kader-kader di daerah untuk rajin membaca sebagai transformasi pelajar. Jangan sampai kemasifan kader IPNU itu hanya ada di Jawa saja,” katanya.

“IPNU itu sebenarnya masif di segala hal. Tapi sayang proses itu hanya terjadi. Mohon maaf hanya ada dan bisa terlaksana di pengurus-pengurus di Jawa, tapi tidak bisa masif di seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Ridwan.

Pewarta: Suparyanto

Editor: Aru Elgete