OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Full Day School  Ala Pesantren

Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan kebijakan 5 hari sekolah yang merupakan tindaklanjut dari program Full Day School (FDS). Peraturan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mengatur sekolah 8 jam sehari pada tanggal 12 Juni 2017.

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan salah satu program utama dari Permen yang telah ditetapkan. PPK sendiri yaitu program di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah karsa, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga dan masyarakat.

Tujuan dari PPK diantaranya adalah untuk membentuk karakter yang religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, dan peduli sosial.

Dengan diberlakukannya 5 hari sekolah dalam satu minggu, maka menuntut siswa untuk melakukan proses pendidikan hingga sore hari. Hal ini menjadi ancaman serius bagi penyelenggara pendidikan keagamaan yang biasanya diselenggarakan sore hari. Dengan ditetapkannya FDS, siswa akan kehilangan waktu belajar agama di Madrasah Diniyah maupun lembaga Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ).

Penolakan program FDS bukan hanya melaui jagat dunia maya, aksi nyata pun dilakukan di beberapa tempat di Indonesia seperti Tegal, Semarang, dan kota lainnya. Alasan utama penolakan FDS karena kekhawatiran masyarakat akan matinya lembaga pendidikan keagamaan yang selama ini telah membentuk karakter masyarakat Indonesia.

Tanggal 6 September 2017, Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 terkait Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Terbitnya Perpres ini menjawab kegelisahan serta kekhawatiran masyarakat akan dampak negatif dari FDS.

Lembaga pendidikan keagamaan, seperti Pondok Pesantren merupakan lembaga yang lebih dahulu menerapkan pendidikan Full Day School. Bukan hanya 8 jam dalam 5 hari selama satu minggu, tapi 24 jam dalam 7 hari selama satu minggu siswa dididik dan belajar.

Pendidikan pesantren tidak hanya mengedepankan pendidikan umum, tapi pendidikan karakter dan akhlak merupakan sasaran utama berdirinya lembaga pendidikan ini. Selama ini pesantren khususnya yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama terbukti telah melahirkan jiwa-jiwa yang memiliki jiwa nasionalisme dan menjunjung tinggi keberagaman dalam kebhinekaan.

Siswa di Pesantren dituntut untuk lebih banyak praktik dengan pendidikan karakter. Hormat kepada guru, pengurus, dan teman yang lebih tua merupakan modal dan bekal utama menciptakan manusia yang toleran. Kemandirian dan kesederhanaan membuat siswa tidak mudah terprovokasi.

PPK yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhajir Effendi, M.A.P. ternyata lebih dulu diterapkan di pesantren, sebuah lembaga pendidikan yang dianggap kuno ditengah eksistensinya yang kian meredup.

Keberhasilan dan bukti nyata pesantren harusnya membuat masyarakat sadar betapa pentingnya bekal agama untuk generasi kedepan. Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas, tapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang cinta dan juga peduli tanah air.

Program FDS yang dicanangkan oleh Mendikbud walaupun dalam kenyataannya ditolak oleh masyarakat, tapi secara tidak langsung telah menunjukan bukti betapa pentingnya lembaga-lembaga pendidikan keagamaan untuk tetap kokoh berdiri. Lembaga pendidikan keagamaan terbukti telah melahirkan generasi-generasi yang berkarakter sesuai yang dicanangkan pemerintah melalui PPK.

Oleh: M. Afifudin

Editor: Humam Fauyi

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar