OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Hari Santri Nasional; Ikhtiar Jihad Pondok Modern
Siaturrahim Presiden Jokowi Ke Pondok Modern Gontor

Nama Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) saat ini bukanlah hal asing di telinga masyarakat Indonesia, dijuluki juga sebagai ma’hadul ma’had atau pesantrennya pesantren menjadi sebuah tanggung jawab moral besar bagi siapapun yang pernah berada didalamnya. Kiprah dan kontribusi para santri untuk membangun negeri dengan semangat dedikasi sangat pantas diacungi jempol apresiaasi. Nama Gontor yang diambil dari salah satu desa tempat pesantren ini berdiri di bilangan Mlarak kabupaten Ponorogo konon merupakan kependekan dari kalimat “Nggon/Panggon Kotor” atau tempat kotor lantaran tingkah laku dan kebiasaan masyarakat desa Gontor masa lalu; perjudian, pelacuran, percurian dan berbagai kemaksiatan lain merupakan hal biasa.

Namun Gontor dulu bukanlah Gontor yang sekarang. Kalau dulu Gontor jadi rujukan dan arah tujuan kemaksiatan, kini Gontor menjadi kiblat bagi pesantren-pesantren based-on-modern-islamic-educationAl Ma’haadu Laa Yanaamu ‘Abadan atau dalam terjemah bebasnya “Pondok takkan pernah tertidur selamanya” menggambarkan betapa roda dinamika kehidupan Gontor harus senantiasa bergerak progresif, intensitas aktifitas sehari hari santri Gontor sangat tinggi, hari hari mereka dimulai sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Sirkulasi kegiatan santri sudah tersusun secara sistematis. Sejak bangun tidur santri sudah mengetahui kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan ataupun kewajiban apa saja yang harus dikerjakan di hari itu sampai bertemu lagi dengan kasur berbahan busa sederhana dan tipis di depan shunduuq (re: kotak kecil) masing masing untuk kembali rebah di malam hari. Bahkan para santri sudah diajari mengorganisir kegiatan mereka sekaligus membuat rencana kehidupan mereka untuk hari ini, esok dan seterusnya.

“Disiplin” merupakan kata sakral sekaligus memiliki nilai yang harus dihormati dan dijunjung tinggi di pesantren ini dengan penuh rasa tanggung jawab; disiplin dalam berfikir, disiplin dalam berkata-kata, dan disiplin dalam berbuat, disiplin dalam belajar, dalam mengaktualisasikan hasil pembelajaran mereka dan berkarya sebagai bentuk pengembangan diri mereka. Kedisiplinan santri yang disertai kesadaran akan tanggungjawab dalam menjalankan rutinitas kehidupan pondok dapat menjadi barometer atau tolak ukur dan reflektor sederhana akan menjadi apa seorang santri setelah alumni nanti.

“Sebesar keinsafanmu, sebesar itulah keuntunganmu” adalah titisan mutiara Gontor yang tepat untuk menggambarkan bahwa kesadaran diri merupakan kunci utama dalam menggapai keberhasilan dalam hidup ini; sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing. Kyai Zar pernah berpesan, para santri setelah tamat belajar di KMI (Kulliyatul Mu’allimin al Islaamiyah), Lulus dari KMI, bukan berarti selesai atau terbebas dari belajar, sebaliknya masa masa baru mulai akan belajar, setelah dibekali ilmu-ilmu dasar agama, sosial dan kemasyarakat sebagai modal hidup untuk kemudian dikembangkan nantinya.

Tidak mudah untuk mewujudkan santri ideal yang relevan dengan motto Gontor; santri yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berfikiran bebas, namun juga bukan berarti mustahil. Dengan pengalamannya yang nyaris seabad mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan santri, Gontor dianggap cukup handal, terpercaya dan mumpuni dalam membuat formulasi mengisi kesibukan yang tepat dilakukan oleh santri sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Santri dibangunkan oleh sang mudabbir alias penanggung jawab kamar mereka sejak pukul 03.30 untuk menemui Tuhan yang rahmatnya selalu turun ke bumi di sepertiga malam terakhir untuk menjawab kegelisahan dan memenuhi hajat santri, dilanjutkan shalat subuh berjamaah yang dipimpin oleh mudabbir di kamar masing masing, dan melanjurkan tadarrus Al Qur’an menjelang terbitnya matahari.

Setelah itu ilqooul-mufradat atau pemberian kosa kata bahasa Arab dan Inggris kemudian diakhiri dengan muraja’ah kosakata tersebut bersama sama, aktifitas pagi yang mencakup olahraga, cuci pakaian, belajar ringan, kemudian mandi serta sarapan pagi ala kadarnya, dan masuk ke kelas maisng masing pada pukul 07.00. Kelas pagi berakhir pukul 12.15 dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di asrama diawali pembacaan Syi’ir Abu Nawas yang menjadi rutinitas santri sebelum shalat 5 waktu, setelah itu kembali muraja’ah kosa kata yang sudah diberikan oleh mudabbir bahasa di pagi hari, makan siang dan masuk lagi di kelas sore pada pukul 13.15 hingga pukul 14.45, kelas sore ini dipandu oleh kakak tingkat akhir sebagai bentuk persiapan kemampuan dan kepercayaan diri mereka sebelum menjadi ustadz dan terjun mengajar langsung di masyarakat.

Kelas sore berakhir menjelang adzan berkumandang dilanjutkan shalat ashar berjamaah di asrama, aktifitas sore seperti olahraga, cuci pakaian, dan lain sebagainya, dan persiapan berjamaah maghrib di masjid jami’ pada pukul 16.45, menunggu adzan dilantunkan mu’adzin santri membaca Al Qur’an sesuai urutan bacanya masing masing, sebagian santri terlihat menghafal dan mengulang ulang ayat Al Qur’an sebagai amunisi tambahan untuk identitas santri yang melekat pada diri mereka. Shalat maghrib berakhir pukul 18.00, santri berbondong bondong menuruni anak tangga masjid guna kembali ke asrama untuk melanjutkan pembacaan Al Qur’an yang dilanjutkan dengan mahkamah al lughoh wal amni (pengadilan alias sidang bagi pelanggar peraturan baik pelanggaran dari segi bahasa maupun ketertiban di wilayah rayon tempat mereka tinggal beserta sangsinya), menuju dapur untuk antri makan malam, dan shalat Isya’ bersama di asrama. Pukul 20.00 masuk ke belajar malam atau dikenal dengan istilah muwajjah di kelas masing masing, santri belajar mandiri dengan teman sebayanya di kelas, mengadaptasi salah satu konsep pendidikan everyone is teacher konsep ini dirasa mampu untuk merangsang gairah belajar santri untuk dapat menguasai materi secara komprehensif dan bertanggung jawab, setelah selesai belajar santri kembali ke asrama masing masing untuk berdoa bersama di teras asrama menjelang tidur panjang sekitar 5 jam.

Dalam setiap pergantian aktifitas di Gontor ditandai dengan dengung jaros atau lonceng yang dipukul oleh bagian kurikulum dan keamanan, lonceng ini semacam alarm bagi santri untuk menandai berawal atau berakhirnya aktifitas untuk melanjutkan aktifitas berikutnya. Seluruh aktifitas padat ini merupakan rancangan strategi pondok agar santri terbiasa bergerak dengan dinamis diiringi etos kerja dan produktifitas yang tinggi.  Hasan Bashri seorang tokoh ulama sufi pernah berkata “wahai Bani Adam, sesungguhnya kalian semua hanyalah “kumpulan hari-hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian darimu”

Aktifitas padat dan beragam tentu saja membutuhkan istirahat yang cukup untuk mengendurkan otot dan relaksasi otak, hal ini sudah difikirkan oleh Kyai dan pimpinan pondok lain dengan mengatur waktu untuk memfasilitasi istirahat cukup bagi santri. Istirahat para santri bukanlah tidur-tiduran, leyeh-leyeh, apalagi sibuk membicarakan orang lain. “Arroohatu fii Tabaaduli Al-a’maal” kata pak Kyai, istirahatnya santri merupakan sebuah pergantian dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain; Istirahatnya santri dari kelas pagi adalah masuk ke kelas sore, istirahatnya santri dari kelas sore adalah olahraga sore, istirahatnya santri dari olahraga sore adalah shalat berjamaah dan membaca qur’an di masjid, istirahatnya santri setelah shalat maghrib dan mengaji di masjid adalah belajar mandiri di kelas malam.  Aktifitas harian santri yang dibuka dengan tahajjud untuk membuka pintu audiensi dan rahmat Tuhan kemudian doa bersama sebagai penutup aktifitas sebelum tidur di depan asrama untuk memulihkan kembali stamina untuk menghadapi aktifitas esok paginya.

Selain pengembangan akademik, wadah aktualisasi santri untuk kegiatan non akademik berupa pengembangan bakat dan minat untuk pengembangan kualitas diri santri sangat difasilitasi. Berbagai firqoh atau klub santri dibentuk mulai dari olahraga seperti sepakbola, futsal, silat, senam lantai, bulutangkis, takraw, basket, dan lain lain. Di sisi lain pengembangan kapasitas diri seperti diskusi,  fotografi, pramuka, hafalan dan qiroatul Qur’an, pidato dan lain sebagainya. Santri diberi kebebasan untuk memilih sendiri bidang apa yang ingin ditekuninya. Santri Gontor sangat sibuk dalam keseharian, aktif dalam beraktifitas, dinamis dalam pergerakan namun tetap sederhana, elegan dalam penampilan dan harmonis dalam balutan komunikasi satu sama lain.

Di balik jiwa sederhana terdapat jiwa besar, kreatif, serta berani menghadapi hidup menantang maut, kesiapan berkorban dan berjuang, pantang menyerah dalam situasi dan kondisi apapun. Sejarah membuktikan bahwa para pemimpin besar di masyakat adalah mereka yang di masa mudanya terbiasa survive, bekerja keras, prihatin dan hidup sederhana.  Sekali lagi, seluruh aktifitas para santri bertujuan untuk membentuk “mental” dan “karakter” santri yang handal, tahan banting, bernyali, tahan uji dan puji, karena pada hakikatnya semua yang mereka dengar, lihat dan rasakan ialah pendidikan yang suatu saat akan menjadi tanaman buah yang dipetik menjadi hal bermanfaat dikemudian hari. Pada suatu masa dalam kuliah umum, Kyai berkata dengan sangat tegas, “Santri Gontor yang belajar di Madinah banyak yang mumtaz (cumloude) dan mampu bersaing dengan orang Arab yang asli. Yang membuat mereka mumtaz adalah mentalnya, mentalitas yang tinggi”.  Keberanian dan kesiapan mengahadapi segala hal ditanamkan dengan kuat dan menghujam ke dalam sanubari setiap santri dengan beragam terminologi yang disampaikan oleh Kyai, “Kau kaya aku tak minta, kau pintar aku tak bertanya, kau besar aku aku tak berlindung, kau kuat aku tak minta tolong, aku bisa tanpa kau”; “di bawah hanya ada tanah, di atas hanya ada Allah”; “Nyowo podo sijine (sama-sama punya satu nyawa)”.

Status pondok yang diwakafkan kepada umat Islam ialah salah satu perbedaan sekaligus ikhtiar jihad Gontor dibandingkan banyak pesantren yang lainnya yang kepemilikannya atas Kyai nya atau atas nama keluarganya. Kyai gontor adalah kyai santri, nama mereka tidak setenar nama pondok yang kian meninggi, selaras dengan apa yang mereka ucapkan, “Kalau pondok lebih terkenal dari kyainya, berarti kyai telah berhasil membesarkan pondoknya”.  Gontor adalah pondok umat. Kedudukan kyai yang berada di bawah badan wakaf menghindari dan memperkecil kemungkinan terjadinya penyelewengan dan meminimalisir terjadinya konflik internal di kemudian hari, semenjak pondok ini diwariskan oleh para pendahulunya. Bahkan pada suatu kesempatan Kyai mewanti-wanti dengan tegas sekali bahwa pondok tidak boleh diselewengkan, rel tidak boleh berubah, jika rel sampai berubah maka harus diberontak. Rel adalah ide, rel adalah cita-cita, rel adalah alasan mengapa Gontor harus ada dan ikut serta membangun dan merawat peradaban Islam di Indonesia sebagai bentuk ikhtiar jihad Gontor kepada umat. Menjadi santri tak hanya sebatas identitas yang melekat ketika berada di pesantren, melainkan ketika mampu meneruskan cita cita perjuangan para ulama dalam mengaktualisasikan nilai nilai keramahan dan keteduhan agama Islam menjadi kerja nyata di masyarakat. Wallahu a’lam bi muraadihi.

author IPNU Kota Tangerang

Pimpinan Pusat IPNU 2015 2018

Komentar