OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Ini 5 Fakta Menarik Kitab Usfuriyah Yang Mungkin Tidak Disadari Para Santri
Deretan Kitab Kuning

Kitab al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah adalah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury. Rincian riwayat hidup beliau sulit ditemukan. Mungkinkah karena sedikit karya beliau yang tersebar? Entahlah. Untuk Kitab al-Mawa’idh al-‘Ushfuriyyah, yang lebih terkenal sebagai kitab Ushfuriyyah, memang banyak dikaji di berbagai pesantren salaf. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai kitab pelajaran madrasah. Sebagian lagi menjadikannya sebagai kitab kajian harian, ada juga yang mengkajinya hanya pada bulan Ramadan dalam paket pengajian kilatan.

Pola penyusunan dan koleksi Hadis-hadis berjumlah 40 hadis sendiri merupakan tren bagi sebagian ulama salaf. Misalnya Imam an-Nawawi yang punya hadis Arba’in. Mereka terinspirasi oleh hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang menghafal dari umatku 40 hadis tentang perkara agamanya, maka Allah akan membangkitkannya di hari kiamat nanti bersama golongan para fuqaha dan ulama”.
Meskipun para ahli Hadis menilai hadis tersebut daif, namun sebagaimana ijmak ulama, hadis daif masih bisa digunakan sebagai landasan dalam fadhailul a’mal (tambahan keutamaan amaliah). Sebagai kitab Mawa’idh atau nasihat, Ushfuriyyah memiliki sisi unik ketimbang sebagai kitab rangkuman hadis biasa. Apa saja sisi unik tersebut? Berikut 5 sisi menarik dr kitab ushfuriyah:
1. Penuh Hikayat Unik
Sebagaimana diterangkan Syekh Abu Bakar di bagian mukadimah, bahwa kitab ‘Ushfuriyyah memuat 40 hadis yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw. yang ia peroleh dari para guru pilihan. Mereka pun memperoleh hadis tersebut dengan sanad dari sebagian sahabat Nabi. Selanjutnya, Syekh Abu Bakar menambahkan berbagai nasihat dan hikayat yang ia dengar dari para guru.
Memang dalam kitab tersebut terdapat banyak hikayat atau kisah yang unik. Hampir setiap hadis dilengkapi satu atau dua kisah. Penamaan kitab ini dengan ‘Usfuriyyah (burung pipit), nampaknya juga tak terlepas dari kisah yang tampil melengkapi hadis pertama yang menerangkan tentang kasih sayang terhadap semua makhluk.

Dikisahkan, Umar bin Khatab Ra. satu ketika mendapati seorang anak kecil bermain burung pipit. Umar kasihan melihat burung kecil itu dipermainkan sedemikian rupa. Ia lantas membeli burung itu dari si bocah, lantas melepaskannya. Ketika Umar bin Khattab wafat, sebagian ulama memimpikan bahwa ia mendapatkan rahmat Allah Swt. di alam kubur sebab kasih sayangnya terhadap burung pipit tadi.

2. Hadis-Hadis Motivasi
Di antara 40 hadis yang dimuat dalam ‘Usfuriyyah, banyak di antaranya yang berupa anjuran atau motivasi. Sebagian anjuran terkait dengan bahasan tasawuf seperti anjuran tobat, menghindari sombong, tidak putus asa. Sebagian lagi anjuran untuk merutinkan bacaan atau perbuatan baik tertentu semisal membaca ayat al-Kursi, surat al-Ikhlash, berangkat salat Jumat lebih awal.

3. Kitabnya Tipis
Al-Mawa’idz al-‘Ushfuriyyah hanya terdiri dari 30 halaman saja untuk versi cetakan ala al-Hidayah, Surabaya. Kitab dengan jumlah halaman seperti itu termasuk kitab kecil dalam kajian pesantren. Jika dikaji saat pengajian Ramadan, biasanya diperuntukkan bagi santri yang taraf Ibtida’, pemula, untuk menyesuaikan kecepatan mereka menulis makna.

4. Hadis tentang Keutamaan Ali R.A.
Dalam hadis ke 3, sebagai tambahan dicantumkan pula sabda Nabi Saw, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya.”
Dikisahkan, ketika kaum Khawarij mendengar adanya hadis tersebut, mereka ingin menguji kecerdasan Sayidina Ali bin Abi Thalib. Lantas mereka memilih 10 orang perwakilan untuk “mengetes” Sayidina Ali.
Kesepuluh orang itu kemudian mendatangi Ali bin Abi Thalib r.a. secara bergantian. Mereka semua mengajukan satu pertanyaan yang sama, namun mengharapkan adanya jawaban yang berbeda. Tujuannya, jika pertanyaan itu tidak menghasilkan 10 jawaban berbeda dari Sayidina Ali, maka berarti ia tidak pantas menyandang gelar Pintu Kota Ilmu. Ternyata, dengan satu perntanyaan “Utama mana antara ilmu dan harta?” yang mereka ajukan, terdapat 10 jawaban berbeda dari Sayidina Ali r.a.

5. Kisah Unik Menuju Kematian
Di halaman 23, hadis ke 22, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika seorang hamba meninggal, dan Allah mengetahui keburukan dari diri orang tersebut, sedangkan orang-orang mengatakan bahwa hamba tersebut baik, maka Allah berfirman kepada para malaikat, ‘Saksikanlah, telah kuterima persaksian para hambaku terhadap hamba yang lain, dan Aku ampuni dia padahal aku tahu tentang (keburukan) dirinya’.”

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam Jam’ al-Jawami’ dan al-Bazzar. Al-Mundziri mengatakan bahwa hadis tersebut daif.

Dalam kisah pelengkapnya, Syekh Abu Bakar menceritakan kisah seorang penipu ulung. Modus penipuannya adalah dengan mengaku dekat dan akrab terhadap calon korbannya. Terkadang mengaku teman lama yang terlupakan, kadang mengaku anak dari teman orangtua mereka.
Dengan sok akrab ia mengajak korbannya makan di rumah makan. Setelah tinggal beberapa suapan ia akan pergi dengan alasan buang air. Penipu itu tak akan kembali lagi, dan bisa dipastikan sang korbanlah yang harus membayar harga makanan mereka berdua. Modus penipuan seprti ini ia lakukan berulang kali sepanjang hidupnya.
Ketika ia sakit dan merasa ajalnya kian dekat, si penipu lalu mengupah dua orang. Masing-masing dengan upah 1 dinar. Ia berkata kepada mereka, “Kalau nanti aku telah mati, kalian harus mengikuti jenazahku dan berkata di belakangnya Ini adalah orang saleh dan suka berbuat baik. Kalian harus terus berkata seperti itu sampai aku dikuburkan.”
Dan, ternyata Allah mengampuni si penipu karena kesaksian dua orang sewaan ini. Jangankan Anda, saya pun agak gimana membaca kisah ini. Dari sisi hadis memang hadisnya daif, namun hadis daif bisa diamalkan untuk amaliah non akidah. Namun untuk kisah tersebut, kok enak banget ya?
Apa jadinya jikalau para koruptor itu nanti waktu mau mati mengupah 1000 orang agar bersaksi bahwa mereka adalah orang yang saleh dan ahli kebaikan? Tapi, pada akhirnya memang surga dan neraka hanya milik Allah. Terserah Allah apakah akan menerima kesaksian sewaan ataukah mempertimbangkan kejahatan para koruptor itu. Wallahu A’lam.

6. Asal mula nama Kitab Usfuriyah

Usfuriyah adakah kata dari bahasa arab yaitu kata dasarnya ”usfurun” yang mempunyai arti ”burung pipit/emprit) kemudian di tambah kata kebangsaan di ahir kata yaitu berupa ya’ nasabiyah sehingga mempunyai arti ”sebangsa burung pipit”. Apakah maksud dari semua ini penyebab dari penamaan sebuah kitab Usfuriyah ini..?

Jadi di sini akan saya uraikan kisah asal mula dari kitab usfuriyah yang cukup terkenal di kalangan pesantren. dan kisah ini saya ambil dari kitab usfuriyah itu sendiri dan dengan gaya bahasa saya sendiri yang saya tuangkan kali ini agar bisa dirasakan oleh semua kalangan atas hikmah yang tetkandung dalam kisah ini. Baiklah langsung saja demikianlah kisahnya:

”Dari umar Ra. Ketika beliau berjalan di madinah maka beliau melihat seorang anak yang pada tangannya kedapatan seekor burung pipit (jawa:emprit) dan mempermainkan anak pipit tersebut, maka melihat hal tersebut shohabat Umar merasa kasihan kepada burung pipit yang dibuat mainan tadi.

Kemudian Shohabat umar rela membelinya dari kecil tadi kemudian membebaskan burungnya. Dan ketika shohabat umar wafat maka para ulama’ besar bermimpi dan dalam mimpi tersebut mereka menayakan dengan yang telah beliau perbuat ” apa yang Allah perlakukan kepadamu” Umar menjawab ”Allah mengampuniku dan membalas kebaikanku” Para ulama’ tadi bertanya lagi ”apa karena sifat arismu, atau karena sifat kau menjauhi maksiat, atau karena sifat zuhudmu?”

Umar menjawab ”saat kalian meletakkanku di liang kubur dan kalian telah menutupiku dengan debu dan kemudian meninggalkanku sendirian, maka masukklah dua malaikat yang sangat menakutkan hingga akalku terbang dan cerai berai, kemudian kedua malaikat tadi memegangku dan mendudukkanku untuk mengharap memberi pertanyaan kepadaku.

Kemudian saya mendengar suara tanpa rupa ”Tinggalkanlah hambaku, jangan kalian menakut-nakutinya. Sesungguhnya saya memberi belas kasih kepadanya dan membalas kebaikannya, karena sesungguhnya ia telah mengasihi seekor burung emprit (pipit) di dunia, maka saya mengasihinya di ahirat” hasil terjemahan sendiri dari kitab usfuriyah hlm 2, jika ada yang salah maka mohon masukannya yang sifatnya membangun”

Demikianlah kisah asal mula kitab usfuriyah, kini burung pipit tadi lestari menjadi sebuah nama kitab.
{ والله اعلم بالصواب والعلم عند الله } اللهم انفعنی بماعلمتنی وعلمنی ماينفعنی وزدنی علما.
امين. ۩ مجاهدين الفقير الی رحمۃربه القدير ۩

 

MUJAHIDIN:۞ INI 5 FAKTA MENARIK KITAB USFURIYAH YANG MUNGKIN TIDAK DISADARI PARA SANTRI ۞ {1}– Kitab al-Mawaidh…

PKPT IPNU IPPNU UNNESさんの投稿 2018年5月19日(土)

author IPNU Kab. Demak

Imam Syarif Ainun Nizar / Pelajar NU dari Desa Pasir Kec. Mijen Kab. Demak Ranting IPNU IPPNU Desa Pasir PKPT IPNU IPPNU UNNES #hashshashin

Komentar