OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
IPNU-CBP harus jadi Wadah Pemupukan Nasionalisme

Oleh :
Dian As’ad Mulyana
Komandan CBP PC IPNU Kabupaten Bogor

Alur perjalanan pergerakan perjuangan untuk mencapai Kemerdekaan bangsa
Indonesia pada awal abad 20 bisa kita bagi menjadi 3 kelompok. Pertama,
kelompok Tradisional yang dipimpin oleh para ulama-ulama Pesantren dan
tokoh agama. Kedua, kelompok Pelajar Sekolah berfaham Nasionalis. Ketiga,
kelompok Pelajar Sekolah yang berfaham Sosialis.

Untuk dua kelompok terakhir tersebut semua terpengaruh dengan gejolak yang
terjadi di dunia barat seperti yang kita ketahui muncul karena meletusnya
Perang Dunia ke-II antara dua Negara Adidaya Amerika dan Rusia. Namun untuk
kelompok pertama merupakan kelompok yang sudah mengakar dan tumbuh
berkembang di bumi Nusantara ini jauh sebelum abad 20. Seiring perjalanan
perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1920-an, gejolak politik
juga terjadi di tanah Arab antara kelompok wahabi sebagai pemberontak dari
pemerintahan resmi yang berpaham Ahlusunnah wal Jama’ah ‘ala Manhaj
Asy’ariyah wal Maturidiyah pimpinan Sultan Syarif Husein, yang kemudian
akhirnya pada tahun 1924 jatuh ke tangan kelompok pemberontak Wahabi
pimpinan Abdul Aziz bin Saud, ini cukup berpengaruh kepada dunia, khususnya
negara negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia,
yang juga pada saat bersamaan sedang berupaya memperjuangkan Kemerdekaan
itu sendiri.

Pasca peristiwa tersebut, tersebarlah berita penguasa baru yang akan
melarang semua bentuk amaliyah keagamaan ala kaum Sunni yang pada saat itu
memang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di Tanah Arab dan akan
menggantinya dengan model Wahabi.

Pengalaman agama sistem bermadzhab, ziarah kubur, tawasul, maulid nabi dan
sebagainya secepatnya akan segera dilarang.
Tidak hanya itu saja, Raja Ibnu Saud juga menginginkan supaya melebarkan
daerah kekuasaannya sampai ke seluruh dunia Islam.

Dengan dalil demi kejayaan Islam, ia berencana untuk meneruskan
kekhilafahan Islam yang telah terputus di Turki pasca runtuhnya Daulah Bani
Utsmaniyah. Sehingga untuk itu, Raja Ibnu Saud berencana menggelar Muktamar
Khilafah yang ada di Kota Suci Makkah sebagai penerus Khilafah yang
terputus tersebut.

Semua negara Islam di dunia akan diundang untuk menghadiri acara muktamar,
tidak terkecuali Indonesia yang sudah menjadi Negara dengan jumlah penduduk
muslim terbanyak di Dunia. Awalnya, utusan yang di percaya yaitu HOS
Cokroaminoto dari Serikat Islam, KH. Mas Mansur dari Muhammadiyah serta KH.
Abdul Wahab hasbullah mewakili Pondok Pesantren.

Akan tetapi, rupanya ada sedikit permainan licik di antara kelompok yang
mengusung para calon utusan Indonesia. Sebab Kiai Wahab tidak mewakili
organisasi resmi, maka nama beliau kemudian dicoret dari daftar calon
utusan.

Peristiwa tersebut akhirnya menyadarkan para ulama-ulama Nusantara yang
mukim di tanah Arab juga ulama-ulama Nusantara yang menjadi pengasuh
pesantren akan pentingnya sebuah organisasi. Sekaligus menyisakan sakit
hati yang mendalam, sebab tidak ada lagi yang bisa dititipi sikap keberatan
akan semua rencana Raja Ibnu Saud yang bertujuan akan mengubah model
beragama di Makkah.

Para ulama pesantren tentu tidak terima akan kebijakan raja yang anti
kebebasan bermadzhab, anti ziarah makam, anti maulid nabi dan lain
sebagainya. Bahkan, sempat terdengar pula berita bahwa makam Nabi Agung
Muhammad SAW berencana untuk digusur.

Menurut para kiai pesantren, pembaruan adalah suatu keharusan. KH. Hasyim
Asy’ari juga tidak mempersoalkan dan bisa menerima gagasan para kaum
modernis supaya menghimbau umat Islam kembali pada ajaran yang ‘murni’.
Namun, Kiai Hasyim tidak bisa menerima jika pemikiran mereka meminta umat
Islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab.
Di samping itu, sebab ide pembaruan yang dilakukan dengan cara melecehkan,
merendahkan serta membodoh-bodohkan, maka para ulama’ pesantren kemudian
menolaknya.

Menurut mereka, pembaruan akan tetap dibutuhkan, namun tidak dengan
khazanah keilmuan yang sudah ada dan masih bersangkutan. Karena kondisi
itulah maka Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ didirikan.
Pendiri resmi Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ sendiri tak lain adalah Hadratus
Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, satu-satunya pengasuh Pondok Pesantren
Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sedangkan yang bertindak sebagai arsitek
sekaligus motor penggerak yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah, pengasuh Pondok
Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. kiai Wahab ini adalah salah
satu santri utama Kiai Hasyim.
Namun dalam perjalanannya banyak rintangan dan cobaan yang harus di hadapi,
karena tidak bisa dipungkiri pada saat itu banyak yang berbeda faham dan
pandangan dengan ulama ulama NU, yang kemungkinan ikut terpengaruh dengan
peristiwa yang terjadi di tanah Arab.

Sehingga dalam perjalanannya perjuangan merebut Kemerdekaan Republik
Indonesia ini selain berhadapan dengan bangsa Asing sebagai Penjajah namun
di dalam negeri sendiri harus menghadapi pergerakan pergerakan yang
bertentangan faham seperti gerakan DI/TII Kartosuwiryo dan PKI-nya Muso
yang merupakan hasil dari perkembangan kelompok-kelompok terpelajar
(Sekolah/Akademisi) yang berpaham sosialis komunis.

Sehingga pasca Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, bibit-bibit
perbedaan faham itu tetap ada walaupun sudah di berantas, terutama sekali
dari kelompok sosialis  komunis hingga terjadi gerakan di tahun 1965 yang
dinamakan dengan gerakan G30SPKI,
Untuk kelompok Islam yang berbeda faham seperti kelompok DI/TII, dalam
perjalanannya mereka sepertinya sangat hati-hati, pola yang mereka pakai
mereka rubah dengan cara yang berbeda beda. Dan sepertinya cara mereka
cukup berhasil hingga sekarang, apalagi setelah terjadi perkembangan
gejolak di jazirah Arab yang terus menerus tidak berhenti dan melahirkan
faham-faham yang lebih radikal, dan ini cukup mempengaruhi pola pikir dan
pandangan dari masyarakat Indonesia secara umum, karna hasil
propaganda-propoganda mereka melalui media yang semakin berkembang.

Jadi jelas kita sebagai bangsa yang ingin memelihara keutuhan NKRI harus
lebih cerdas dan cermat dalam menyikapi persoalan-persoalan yang ada di
Negeri yang kita cinta ini. Senantiasa menjadi roda penggerak untuk
mensosialisasikan sebuah kebenaran yang kini amat sangat terpendam dalam
jutaan situs-situs Hoax propoganda golongan yang ingin menghancurkan NKRI.
Karena bagi kita selaku rakyat Indonesia, harus terus mengepalkan tangan
dan berteriak NKRI Harga Mati.

Walhasil, kader bungsu Nahdhatul Ulama lewat IPNU dengan CBP nya dan IPPNU
dengan KPP harus bisa menjadi agent of change di kalangan pelajar pada
umumnya dan sekolah tempat mereka belajar pada khususnya. Harus terus
belajar dan belajar guna menyerap informasi-informasi yang baru yang ada di
sekitar lingkungan kita.

Selaku adik bungsu maka seharusnya kita bertanya kepada kakak juga orang
tua kita tatkala ada sesuatu yang sekiranya ingin merobek-robek tenun
kebangsaan. Saling bekerjasama dengan mereka untuk menjaga keutuhan NKRI
demi terwujudnya Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia.

Lantang, Keluarkan dan berteriaklah bahwa NKRI ini Harga Mati

*amd

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar