OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar

Anggota MPR RI H Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan tentang respons negara-negara lain yang mengagumi penerapan Islam yang moderat di Indonesia. Hal itu karena dilihatnya berjalan dengan baik, sehingga terciptanya keadamaian.

“Ini barangkali kita harus pertahankan: Islam yang ramah, Islam yang moderat, Islam yang tawasuth, yang menjadi kekuatan kita,” kata Zainut saat mengisi Sosialisasi 4 Pilar yang diselenggarakan PP IPNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/8).

Indonesia juga disebut tercatat sebagai negara Islam yang berhasil menjalankan demokrasi dengan baik. Keadaan ini tidak terjadi di negara-negara yang ada di Timur Tengah, seperti Syiria, yakni terjadi konflik yang berkepenjangan. Bahkan, katanya, akibat dari konflik itu membuatnya menjadi negara gagal.

“Sementara Indonesia dengan mayoritas menganut agama Islam bisa melaksanakan kehidupan demokrasi dengan baik,” ucapnya. 

Pria yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat ini mencontohkan bagaimana Indonesia telah mengadakan beberapa kali Pemilu dan Pilpres, tapi berjalan dengan lancar dan damai. 

“Pemilu terakhir yang kita khawatirkan kita akan menjadi negara di Syria sana,   alhamdulillah tokoh-tokohnya bisa kembali rukun, bisa merajut perdamaian, keadamaian yang kemudian membangun dialog. Mudah-mudahan ke depan tokoh-tokoh negarawan ini bisa terus mengembangkan demokrasi yang baik,” terangnya.

Menurutnya, perbedaan adalah suatu keniscayaan, dan kebinekaan adalah anugerah yang harus disyukuri. Bukan sebaliknya, yakni menjadikan sesuatu yang dipertentangkan.Ia lantas menggambarkan keindaha perbedaan dengan beragam warna bunga.

Menurutnya, jika dalam suatu taman hanya berisi bunga yang berwarna merah atau hijau, terlihatnya tidak indah. Berbeda jika dalam taman tersebut terdapat beragama warna: merah, hijau, kuning, maka menjadi pemandangan yang indah.

“Kebinekaan adalah sebuah hal yang niscaya yang harus kita pertahankan,” ucapnya.

Ia meminta kepada peserta agar terus menumbuhkan toleransi terhadap penganut agama lain agar kerukunan tetap berlangsung. Dalam perjalanan bangsa Indonesia, umat Islam yang merupakan pendudukan mayoritas, telah menjadi warga yang toleran. Di antara contoh yang dapat disebut, ialah penerimaan terhadap Bhineka Tunggal Ika. 

Menurutnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang menganut agama Buddha. Namun, sambungnya, walau pun dari Buddha, umat Islam mampu menerimanya.

“Ini bentuk toleransi yang sangat luar biasa dan itulah menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Kebinekaan itu harus kita pertahankan,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar Berjuang Bertaqwa

Komentar