OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Kajian dalam Student Crisis Center (SCC) IPNU Kabupaten Sleman

Sleman (11/06/2016)

IPNU sebagai organisasi yang berdiri dengan di latar belakangi oleh Nahdlatul ‘Ulama sebagai wadah bagi kaum pelajar dan sebagai gerbang kaderisasi bagi Nahdlatul ‘Ulama sendiri perlu mengkaji segala aspek yang di lakukan oleh NU sebab IPNU adalah organisasi di bawah naungan Nahdlatul ‘Ulama dan sebagai pintu penguatan kepelajaran yang nantinya mereka akan menjaga dan memperjuangkan paham Ahlussunnah Waljama’ah.
Dalam agenda kali ini SCC sebuah lembaga yang berada di IPNU mencoba mensinergikan penguatan kapasitas kepelajaran, karena motto dari IPNU sendiri salah satunya adalah belajar. Tahlil dan Yasinan merupakan tradisi yang terus di jaga oleh NU, tahlil secara bahasa kita adalah mengucapkan kalimat Laa Ilaa Ha Illallah (tiada Tuhan selain Allah) namun dalam budaya kita tahlilan ini merupakan sebuah tradisi rutin yang di laksanakan setiap malam jum’at.
Tahlil ini pula menjadi ciri dari organisasi yang berada di bawah naungan NU. Seperti IPNU, IPPNU, PMII, Fatayat, Muslimat, Gerakan Pemuda Ansor, dan organisasi lain yang berada di bawah naungan NU. Sebuah prinsip yang sering kita dengar adalah Al-Muhaafadhatu ‘alaa Qadiimisshaliih Wal-akhdu bil jadiidil ashlah (Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik) kaidah yang membuktikan bahwa NU adalah organisasi yang menjaga semangat ulama salafusshalih dan tidak menutup diri dari persoalan-persoalan kekinian (modern).
Kaum muslimin meyakini bahwa islam di sebarkan di Nusantara oleh para ulama salaf yang sholih. Mereka melakukan inovasi dan melestarikan tradisi-tradisi islam yang berlangsung hingga sekarang seperti yasinan, tahlilan, dan lain-lain. Belakangan ini kaum wahabi mulai masuk ke Nusantara mulai terjadi gugatan terhadap beragam tradisi yang berkembang sebelumnya. Wahabi beralasan bahwa tradisi tersebut tidak memiliki dalil, padahal seperti yang kita ketahui bahwa kaum wahabilah yang sebenarnya miskin dalil. Setelah para ulama menjelaskan dalil-dalil tersebut, wahabi masih bertingkah dan berkilah “itu mendalili amal bukan mengamalkan dalil” tentu saja karena wahabi tidak mampu menjawab dalil-dalil yang di kemukakan oleh para ulama.
Tradisi dan Budaya
Salah satu ciri paling mendasar dari konsep Aswaja adalah moderat (tawasuth). Konsep ini tidak hanya mampu menjaga para pengikut Aswaja tidak terjerumus pada perilaku keagaamaan yang ekstrim, berdakwah secara destruktif (merusak), melainkan mampu melihat dan menilai fenomena kehidupan masyarakat secara proporsional.

Dalam kehidupan, tidak bisa dipisahkan dari yang namanya budaya. Karena budaya adalah kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam memperbaiki kualitas hidupnya. Salah satu karakter dasar dari setiap budaya adalah perubahan yang terus-menerus sebagaimana kehidupan itu sendiri. Menghadapi budaya atau tradisi, yang terkandung dalam ajaran Aswaja telah disebutkan dalam sebuah kaidah:
اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ
yaitu mempertahankan kebaikan warisan masa lalu, mengambil hal yang baru yang lebih baik.

Sebenarnya inti pokok dari golongan yang menyoroti tradisi kebudayaan Nahdlatul Ulama semisal Tahlilan, Maulidan dsb adalah berpangkal dari tidak menerimanya mereka dengan pembagian bid’ah menjadi hasanah dan dhalalah. Mereka bersikukuh bahwasanya bid’ah hanya satu, yaitu Dhalalah.
Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar masalah ini. bahkan perdebatan ini menjurus pada perpecahan. Padahal tidak harus demikian, justru perbedaan itu adalah rahmat, asalkan kita mau berlapang dada, maka dari itu disini perlu kami (SCC IPNU Sleman) kupas terlebih dahulu mengenai apa itu bid’ah.

Definisi dan Pembagian Bid’ah

Menurut Imam Nawawi didalam kitab Tahdzibul Asmaa’ wal Lughaat juz III halaman 22, mendefinisikan bid’ah sbb :

اَلُبِدْعَةُ بِكَسْرِ الْبَاءِ فِي الشَّرْعِ هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يِكُنْ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى: حَسَنَةٍ وَقَبِيْحَةٍ

“Bid’ah didalam syara’ adalah mengada-adakan perkara yang tidak ada pada masa Rasulullah
shalullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan itu terbagi menjadi hasanah dan qabihah”.

Diskusi tentang pembagian bid’ah ini telah menjadi perdebatan hangat para ulama kita sejak dulu hingga sekarang. Di antara mereka ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yakni bid’ah hasanah dan dhalalah, sebagaimana pandangan Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya, seperti Imam An Nawawi, Imam Abu Syamah. Selain itu juga Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hazm, dan Imam al Qurthubi.
Namun, tidak sedikit ulama yang menolak keras pembagian itu, bagi mereka tidak ada bid’ah hasanah, apalagi hingga lima pembagian. Bagi mereka semua bid’ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)”. Mereka adalah Imam Malik, termasuk ulama moderat Syaikh Yusuf al Qaradhawy

Para Ulama yang Mengakui adanya Bid’ah Hasanah
Para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, bukan tanpa alasan. Di antara hujjah mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

حدّثني زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ. حَدّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الحَمِيدِ عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مُوسَىَ ابْنِ عَبْدِ اللّهِ بْنِ يَزِيدَ وَ أَبِي الضّحَىَ، عَنْ عَبْدِ الرّحْمَنِ بْنِ هِلاَلٍ الْعَبْسِيّ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ. قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنَ الأَعْرَابِ إِلَىَ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم. عَلَيْهِمُ الصّوفُ. فَرَأَىَ سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ. فَحَثّ النّاسَ عَلىَ الصّدَقَةِ. فَأَبْطَؤُوا عَنْهُ. حَتّىَ رُؤِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ.
قَالَ: ثُمّ إِنّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرّةٍ مِنْ وَرِقٍ. ثُمّ جَاءَ آخَرُ. ثُمّ تَتَابَعُوا حَتّىَ عُرِفَ السّرُورُ فِي وَجْهِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: “مَنْ سَنّ فِي الإِسْلاَمِ سُنّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا. وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنّ فِي الإِسْلاَمِ سُنّةً سَيّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ”.

“Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahaala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.”

(Shahih Muslim juz IV halaman 2058 hadits nomor 1017, cetakan Daar Ihyaa al Turaats al ‘Araby)

Kemudian Imam Nawawi Rahimahullah menjelaskan hadits di atas:

قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا
وَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم : ” كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ” ، وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ اَلْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ هَذَا فِيْ كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ ، وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ : وَاجِبَةٌ وَمَنْدُوْبَةٌ وَمُحَرَّمَةٌ وَمَكْرُوْهَةٌ وَمُبَاحَةٌ .

“Pada hadits ini terdapat takhsis (spesifikasi/pengkhususan/penyempitan) dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Yang dimaksud oleh hadits ini adalah hal-hal baru yang batil dan bid’ah tercela. Telah berlalu penjelasan tentang ini pada pembahasan “Shalat Jum’at”. Kami menyebutkan di sana , bahwa bid’ah ada lima bagian: wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah”.

(Syarh An Nawawi ‘alaa Shahiih Muslim, juz III halaman 461)

Dalam kitab yang sama Imam Nawawi mengomentari hadits: “Kullu bid’atin dhalaalah”, Beliau menjelaskan sebagai berikut:

قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم : وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
هَذَا عَاٌم مَخْصُوْصُ ، وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ . قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ : هِيَ كُلُّ شَيْءٍ عُمِلَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ . قَالَ الْعُلَمَاءُ : اَلْبِدْعَةُ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ : وَاجِبَةٌ وَمَنْدُوْبَةٌ وَمُحَرَّمَةٌ وَمَكْرُوْهَةٌ وَمُبَاحَةٌ

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ”Setiap bid’ah adalah sesat” , ini termasuk ‘am makhshus (lafazh umum yang dikhususkan), karena bid’ah adalah setiap amalan yang tidak ada contoh sebelumnya.”
Kemudian Al Hafidh Abu Nu’eim meriwayatkan sebuah atsar dari Imam Syafi’i sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرٍ الْآجُرِّي ثَنَا عَبْدُاللهِ بْنِ مُحَمَّدٍ العطشي ثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ الْجُنَيْدِ ثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu: “Bid’ah itu ada dua; bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Maka, apa-apa saja yang sesuai dengan sunah maka itu terpuji, dan apa-apa saja yang menyelisihi sunah maka itu tercela.” Beliau beralasan dengan ucapan Umar dalam qiyam Ramadhan: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini.”

(Hilyatul Auliya karya Abu Nu’eim Ahmad ibn Abdullah al Ashbahani juz IX halaman 113, cetakan ke IV tahun 1405 H, Daar al Kitaab al ‘Araby)

PC.  IPNU-IPPNU Sleman-Mumuh MAM

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar Berjuang Bertaqwa

Komentar