OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754

Magelang – Semakin kuatnya perkembangan zaman ke arah modernisasi membuat beberapa kalangan masyarakat daerah lupa akan sejarah Nusantara ini. Modernisasi sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat. Dampak yang ditimbulkan tersebut dapat berupa positif maupun negatif, tergantung bagaimana masyarakat menyikapi hal tersebut.

Modernisasi seakan meracuni fikiran masyarakat dan membuat mereka seolah amnesia akan sejarah Nusantara. Seperti contoh kecil yang sudah terjadi di Indonesia saat ini terhadap permainan tradisional. Dahulu kala, masyarakat berbondong-bondong untuk bergabung dan bermain permainan-permainan tradisional seperti Petak Umpet, Gobah Sodor, Tarik Tambang, Lompat Tali, dan lain lain. Ketika malam hari mereka masih asyik dengan permainan Jamuran. Bahkan ketika malam bulan purnama, halaman rumah akan ramai dengan masyarakat yang bermain Jamuran dan Petak Umpet atau di Jawa sering disebut Golekan.

Namun naasnya, permainan tradisional kini sudah jarang sekali ditemui di kalangan masyarakat. Mereka lebih suka memainkan Gadget-nya. Ketika mereka butuh permainan, mereka dapat memperolehnya dengan cara instan tanpa harus berlari-larian di halaman rumah dengan penuh keceriaan. Hal itulah yang membuat masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih egois dibanding masyarakat zaman dahulu. Kini sudah tidak ada lagi jerit canda tawa masyarakat yang bermain Jamuran di malam hari.

Untuk mencegah hilangnya nilai sejarah permainan tradisional yang ada di indonesia ini, Borobudur memiliki tempat wisata yang menawarkan berbagai macam edukasi yang berupa permainan tradisional zaman dahulu. Tempatnya diberi nama “Kampung Dolanan” yang letaknya di desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 2 km ke arah Timur dari area Taman Wisata Candi Borobudur.

“Kampung Dolanan” ini berdiri semenjak tahun 2013 atas ide dari para seniman asal Jakarta dan juga Abbet Nugraha yang merupakan seniman asal semarang. Tujuannya tak lain adalah sebagai tempat wisata yang memperkenalkan dan menawarkan berbagai macam permainan tradisional daerah. Bowo Sutrisno, Aktivis “Kampung Dolanan” mengungkapkan bahwa didirikannya “Kampung Dolanan” di Borobudur ini bertujuan agar para seniman tersebut dapat menggali dan menjaga permainan tradisional, agar nantinya tidak hilang ditelan zaman modernisasi yang semakin hebat di indonesia ini. Karena melalui pernainan tradisional tersebut, dapat didapatkan berbagai edukasi yang mampu membangun karakter anak bangsa, seperti kejujuran, kerja keras, kekompakan, keberanian, kelincahan, kreatifitas, logika dan lain sebagainya.

Selain itu, “Kampung dolanan” ini juga bertujuan untuk meningkatkan tradisi gotong royong dan juga agar dapat munumbuhkan rasa njawani atau melestarikan adat dan budaya Jawa. “Kampung Dolanan” ini kini sudah mulai diminati beberapa wisatawan domestik maupun mancanegara.

(Vinanda Febriani)

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar