OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
KH Hasyim Muzadi: Jagalah Aqidah Dengan Do'a Dan Ilmu

Pada akhir-akhir ini, agama kita, Islam; dan madzhab pemikiran kita yang biasa disebut ASWAJA, menghadapi banyak tantangan. Karena ASWAJA itu sebuah pemikiran dan sebuah cara memahami agama Islam, maka tantangannya juga pada bidang yang sama. Ada yang beragama Islam, namun memahami Islam secara liberal yang artinya memahami Islam seenaknya saja. Istilahnya (Menghukumi berdasarkan akal semata). Ada juga yang beragama Islam, namun membawa Islam dengan cara keras, ngebom, bakar sana bakar sini. Di tengah-tengah itu ada orang yang merusak aqidah, seperti mengaku sebagai nabi baru, mengaku sebagai Malaikat Jibril, membuat shalat dua bahasa, mengaku sebaga Koordinator para waliyullah.

Dengan demikian, kita harus berhati-hati, jangan sampai terseret ke kiri dan ke kanan. Sedangkan kehati-hatian ada dua macam, yaitu: 1) Berdo’a supaya Islam kita lurus, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW; 2) Dalam bentuk pengertian dan ilmu; agar kita menjalankan agama ini berdasarkan ilmu. Istilahnya: Amal yang ilmiah dan ilmu yang amaliah. Karena yang diganggu adalah aqidah dan amaliah agama kita, maka kita harus memperkuat agama, aqidah, syari’ah dan manhaj dengan pengertian dan ilmu pengetahuan, sehingga nggak gupuh tok. Kenapa orang Islam gupuh?, karena wis ngamalno, gurung ngilmoni. Wis gelem istighosah, tapi durung ngerti dalile. Akhire ketika dipoyo’i wong, ora iso njawab, sehingga bisanya cuma marah-marah saja. Istilahnya: ngamu’an, tapi kalahan.

Adapun do’a yang paling bagus adalah Ayat Al-Qur’an dalam Surat At-Taubah : 128-129

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.

Maksudnya:

Telah datang kepada kalian, seorang Rasul dari jenis kalian sendiri (yaitu manusia). Rasul ini sungguh menyayangi kalian, ketika kalian mengalami kesulitan dan kesengsaraan hidup. Rasul ini juga senantiasa berusaha melindungi kaum mukminin. Rasul ini adalah Rasul yang pengasih, penyayang, dan pelindung.

Berdasarkan Ayat ini, orang harus peduli terhadap kebutuhan dan kesulitan umat Islam; dan harus sayang kepada umat Islam, ketika umat ini dilanda berbagai macam kebingungan. Akan tetapi, ketika banyak orang yang ingkar terhadap pokok-pokok di atas, yaitu tentang memenuhi kebutuhan orang Islam; bersikap kasih sayang dan lemah lembut kepada umat Islam; kemudian pokok-pokok ini ditentang dan diganti dengan yang lain, maka peganglah apa yang dipakai oleh Rasulullah SAW. Ketika banyak orang tidak seperti itu, maka katakan:

“Tujuanku hanyalah Allah; tiada tuhan selain Dia. Kepada-Nya saya bertawakkal. Dan Dia adalah Tuhan penguasa ‘Arsy yang Agung”

Yang dimaksud dengan tawakkal adalah orang yang berserah diri setelah ikhtiyarnya notok (maksimal). Jadi, jangan bertawakkal sebelum ikhtiyar, karena ikhtiyar adalah bagian dari tawakkal. Yang dimaksud dengan ‘Arsy di sini adalah semua makhluk selain Allah SWT. Bumi, srengenge, galaksi, alam semesta, yang tampak, yang ghaib, semuanya adalah makhluk Allah SWT.

Berdasarkan Ayat di atas, memang ada kalanya yang batil itu melanda (tawallau), yang tidak bener merebak, yang bener kecepet; jika hal itu sedang terjadi, maka bacalah Ayat di atas secara terus menerus, supaya hati menjadi tidak goncang.

Bacalah Ayat di atas, niscaya hati kita akan menjadi tegak; nggak katut yang tidak-tidak. Yang demikian ini penting dilakukan. Jangan hanya mengandalkan otak, karena otak kita bisa hancur oleh kepentingan kita. Banyak wong pinter, lek kenek kepentingan, iso bodoh ndadak; karena dia dikalahkan oleh kepentingannya sendiri. Wis ngerti perkoro iki salah, namun karena berkepentingan, perkara yang salah itu tetap dilakukan saja. Jadi, akal atau otak kita bukanlah instansi yang terakhir, karena yang terakhir adalah bertawakkal sepenuhnya kepada Allah SWT.

(KH. Hazim Muzadi)

Disadur dari:

http://alhikam.kukusan.org/tausyiah/9.html?judul=Menjaga+Aqidah+Dengan+Do%27a+Dan+Ilmu

Foto: https://pasarkaki5.blogspot.co.id/2016/11/aksi-411-dituduh-ditunggangi-kh-hasyim.html

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar