OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
OPINI 05/10/2017 7:58

Laptop Impian

Laptop Impian

Oleh: Afina

Fia memandang benda yang ada didalam lemari kaca tanpa berkedip. Sebuah laptop warna putih dengan sedikit corak lengkungan warna biru muda dipojok kanan bawah. Sudah setahun belakangan ini Fia sangat mendambakannya. Fia ingin mempunyai laptop itu saat usianya tepat 17 tahun yang itu berarti tiga hari lagi waktunya. Tapi ayahnya belum punya cukup uang untuk membelikan laptop itu, apalagi memberinya sebagai kado ulang tahun. Fia cemburu melihat semua teman-teman dekatnya sudah mempunyai laptop. Ada yang berwarna merah, hitam, biru dan abu-abu, hanya Fia seorang yang belum mempunyai laptop sendiri.

Sampai di rumah, Fia langsung masuk ke kamar dan membuang tasnya disembarang tempat. Fia sebal melihat teman-teman dekatnya di sekolah membawa laptop semua dan memamerkan koleksi film baru mereka. “Huh !! kapan aku bisa punya laptop kayak mereka?” keluh Fia.

Di ruang makan, ayah baru saja selesai menyiapkan makan siang. Ayah memasak makanan kesukaan Fia, ikan pari goreng dan sayur asem plus sambal terasi yang super pedas. Ayah memanggil Fia untuk segera keluar dari kamarnya. “Fia!!! Ayo makan siang dulu nak, nanti keburu masakannya dingin.”

Fia yang saat itu sedang badmood karena kejadian tadi di sekolah membuatnya enggan untuk beranjak dari tempat tidur kesanyangannya. Tapi karena ayah sudah memanggil tiga kali, akhirnya Fia pun menuju meja makan setelah selesai ganti baju dan segera bergabung dengan ayah untuk makan siang bersama. Fia tampak tidak bersemangat untuk makan, pikirannya hanya tertuju dengan laptop yang ada di toko pojok gang tersebut.

“Lho Fia kenapa? Kok anak perempuan ayah nggak semangat gitu makannya. Biasanya sudah habis dua piring?” goda ayah sambil terkekeh. “Fia nggak kenapa-napa yah” jawab Fia. “Kamu sedang ada masalah? Coba cerita ke ayah, barangkali ayah bisa bantu?” tanya ayah. “Nggak ada yah. Fia masuk ke kamar dulu, ada tugas rumah yang harus segera Fia selesaikan” jawab Fia sambil berlalu ke kamar. Ayah hanya tersenyum melihat tingkah anak perempuan kesayangannya itu. Ayah tidak akan banyak bertanya jika Fia sudah bertingkah demikian.

Senin pagi cuacanya sangat cerah, secerah hati Fia yang hari ini usianya tepat 17 tahun. Walaupun sebenarnya hari Senin adalah hari yang tidak disukai Fia, tapi karena tepat dengan ulang tahunnya, akhirnya rasa tidak suka itu hilang untuk sementara waktu. Fia berangkat ke sekolah seperti biasa diantar ayah. Di sekolah, Fia mengikuti pelajaran seperti biasanya. Hanya saja hari ini sedikit berbeda karena teman-teman dan gurunya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Fia, apalagi teman-teman dekatnya memberikan Fia kado seperti ulang tahun sebelum-sebelumnya.

Jam pulang pun berbunyi, Fia dan anak-anak yang lain segera bergegas menuju rumahnya masing-masing. Fia sudah tidak sabar, kejutan apa yang akan diberikan oleh ayah karena ayah berjanji akan pulang lebih awal hari ini. Sesampainya di rumah, Fia segera membuka pintu dengan tidak sabaran, tapi tidak ada siapa pun di rumah.

Fia berjalan gontai menuju ruang keluarga dan segera menyalakan TV sambil menunggu ayah. Sudah hampir setengah jam Fia menunggu ayah pulang, tapi tidak kunjung datang. Akhirnya Fia menuju kamarnya, saat pintu kamar dibuka, Fia termangu melihat benda berbentuk segi empat warna putih dengan corak lengkungan biru di pojok kanan bawah bertengger manis diatas meja belajarnya. Belum habis keterkejutan Fia, ayahnya tiba-tiba muncul dari belakang Fia sambil membawa kue tart kesukaan Fia dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

“Selamat ulang tahun yang ketujuh belas putri kecil ayah. Waaah sudah tidak menjadi putri kecil lagi sekarang” ucap ayah sambil menggoda Fia. “Terimakasih ayah, ini kejutan paling indah selama ini” kata Fia sambil memeluk ayah dengan erat. “Sama-sama sayang. Ayah tau, kamu sudah lama menginginkan laptop itu, makanya ayah sering pulang terlambat untuk bisa menabung dan membelikan laptop itu untuk Fia. Maafkan ayah yang sudah membuat Fia menunggu lama untuk mempunyai laptop tersebut” kata ayah. “Ayah tidak perlu minta maaf. Harusnya Fia yang meminta maaf karena sudah merepotkan ayah. Sekali lagi terimakasih ayah, Fia sayang ayah” peluk Fia dengan erat.

Fia sangat bahgia hari ini, akhirnya Fia dapat memiliki laptop yang selama ini diinginkannya. Fia bersyukur mempunyai ayah yang sangat menyayangi dan mengerti akan semua kondisinya. Fia berjanji untuk menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan akan merawat laptop tersebut dengan baik.

Editor: HF

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar