OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Meneladani Kemoderatan K.H. Chudlori Tegalrejo

Foto K.H. Chudlori Tegalrejo

Bagi mayoritas penduduk berdomisili Magelang, pastinya sudah tidak asing lagi dengan nama K.H. Chudlori. Seorang ulama Islam moderat pendiri Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Beliau terkenal dengan fatwanya yang sangat moderat, beliau selalu memilih suatu jalan tengah dalam kebenaran untuk menjaga keseimbangan dalam segala aspek.

Diceritakan pada suatu hari, masyarakat suatu desa mendapatkan bantuan dana yang cukup besar. Rencananya, dana itu akan digunakan untuk pembuatan masjid di daerah tersebut. Namun, mayoritas masyarakat daerah tersebut menolak dan mengusulkan supaya dana itu dibelanjakan untuk keperluan kesenian masyarakat. Para tokoh-tokoh agama di daerah itu dilema dengan keputusan yang diperoleh mereka. Akhirnya para tokoh agama memilih jalan untuk bersilaturahmi kepada K.H. Chudlori dan menanyakan fatwa mengenai penggunaan dana untuk desa tersebut. Lebih baik untuk dana pembangunan masjid atau untuk membelanjakan peralatan kesenian masyarakat.

“Mohon maaf Kyai, di desa kami ada bantuan dana yang cukup besar. Kami berniat untuk menggunakan dana tersebut untuk pembangunan masjid di desa kami. Namun, mayoritas masyarakat di desa kami menolak dan menginginkan supaya dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan kesenian. Menurut panjenengan (red: anda) bagaimana kyai?” tanya seorang tokoh agama kepada K.H. Chudlori. “Sebaiknya dana tersebut digunakan untuk membelanjakan alat-alat kesenian” jawab K.H. Chudlori.  Bagi orang awam mungkin masih bingung ketika mendengar jawaban K.H. Chudlori tersebut. Begitu pula dengan para tokoh agama ini, mereka kebingungan. Namun kemudian beberapa tokoh agama yang bersilaturahmi kepada K.H. Chudlori itu berpamitan untuk pulang. Namun, ada salah satu dari mereka yang belum puas dengan jawaban K.H. Chudlori. Akhirnya orang tersebut kembali silaturahmi di rumah K.H. Chudlori.

“Kyai, mohon maaf. Kenapa keputusan panjenengan mengenai dana di desa kami tersebut lebih baik digunakan untuk pembelian peralatan kesenian masyarakat?” tanyanya sambil sedikit terheran-heran. “Jadi begini, apabila dana tersebut digunakan untuk pembangunan masjid. Maka dana yang tidak seberapa itu tidak akan cukup hingga pembangunan masjid selesai. Namun, jika dana tersebut digunakan untuk keperluan masyarakat terlebih dahulu, maka masyarakat akan merasa lega, mereka akan bersemangat membantu pembangunan masjid di desamu itu” jelas K.H. Chudlori.

Benar dawuh K.H. Chudlori. Dana tersebut kemudian dialokasikan kepada masyarakat untuk pembelian peralatan kesenian masyarakat desa. Selang beberapa hari, ada proyek pembangunan masjid yang dipelopori oleh tokoh yang menerima dana tersebut. Masyarakat dengan senang hati membantu, menjadi donatur jasa, tenaga maupun dana supaya pembangunan masjid tersebut cepat terselesaikan. Bahkan bantuan masyarakat melebihi dana yang dialokasikan untuk pembelian peralatan kesenian desa tersebut. Beberapa bulan kemudian, masjid itu telah selesai dibangun dan menjadi masjid yang indah.

Dari cerita ini dapat kita simpulkan bahwasanya para kyai dan ulama NU menanamkan sikap moderat. Mementingkan apa yang sekiranya lebih bermanfaat untuk masyarakat supaya masyarakat berbondong-bondong mencintai Islam khususnya Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah seperti sepenggal cerita diatas. Karena NU faham betul bahwa Islam itu menjunjung tinggi sikap tawasuth, tasamuh, dan ta’adul, tidak egois dan serba menang sendiri. Islam mengutamakan musyawarah mufakat demi kesejahteraan ummat.

Oleh : Vinanda Febriani

Cerita ini di ambil dari pemaparan Ustadz Dimyati (Guru Aswaja NU di MA Maarif Borobudur) pada Kamis, 10 Agustus 2017.

 

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar