OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Menjadi Pembelajar Sejati
Ilustrasi Pelajar

Tasikmalaya – Sebuah proses dari tidak tahu menjadi ingin tahu, semakin tahu, merasa semakin ingin tahu dan tidak merasa sudah tahu adalah sebuah karakter yang dimiliki oleh seorang pembelajar sejati.

Belajar adalah sebuah proses pengembangan kemampuan yang akan mengantarkan para peserta didik agar menjadi manusia yang seutuhnya, belajar adalah satu-satunya cara untuk mencapai cita-cita, namun faktanya “ritual” belajar saat ini malah menjadi sebuah ritual yang sangat menjemukan, menakutkan dan memuakkan.

 

Dalam gambaran imajinasi para pelajar, yang ada adalah guru galak, serius, papan tulis yang penuh tulisan, buku tebal, diktat kuliah, mengetik di depan laptop dsb. Sehingga kerap kali hal tersebut membuat para pelajar “kumeok memeh dipacok” kalah sebelum berperang, membleh saat kegiatan belajar mengajar.

 

Padahal sejatinya hal tersebut menjadi style atau gaya para pelajar itu sendiri. Menyenangi baca buku-buku, ketagihan menulis, menjadi pecandu diskusi, dan tertuntut pribadi untuk mengamalkan ilmu yang telah didapat.

Hampir setiap pelajar lebih berbahagia ketika mendengar libur daripada giat belajar, segala cara dilakukan untuk menghindari kegiatan tersebut, bahkan yang lebih parah, mereka lebih memilih sakit daripada harus mengikuti kegiatan proses mencapai cita-cita tersebut.

 

Sebuah mindset yang kini diderita bangsa ini adalah fenomena mencontek, seakan menjadi budaya yang mesti terjadi, sudah bukan rahasia lagi bahwa contekan adalah rutinitas tahunan yang terjadi banyak diberbagai sekolah. Baik itu negeri ataupun swasta.

Saya rasa hal ini patut menjadi sorotan yang sangat penting untuk disikapi lebih serius lagi oleh pemerintah, karena ini berdampak sangat besar bagi pembentukan mental bangsa. Bayangkan saja, jika dari kecil sudah terbiasa mencontek sehingga menjadi ahli, lama kelamaan menjadi skala besar, budaya plagiarisme tidak akan bisa dihindari.

Untuk lebih besarnya lagi, fenomena bisnis gelap pembuatan makalah, jual beli skripsi dan tesis, onani intelektual sehingga dampaknya adalah pemerkosaan jabatan cendekiawan yang akan menghasilkan para pendidik dan generasi yang tidak berkualitas karena di proses dengan cara karbitan (contek mencontek).

Sebuah pepatah yang pernah dikatakan oleh Nelson mandela “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia” dalam artian bahwa pendidikan adalah faktor utama yang menunjukkan maju mundurnya sebuah peradaban.

Bagaimana bangsa ini akan maju, sementara pendidikannya saja jauh dari kata “Berkualitas”. Seperti fenomena mencontek tersebut, belum lagi masalah tata kelola sekolah yang banyak berkutat dalam masalah  sehingga kurang memerhatikan wilayah praktis kegiatan belajar di lapangan, apalagi masalah aktualisasi pembelajaran yang saat ini stagnan, padahal seharusnya hal ini harus diperhatikan secara seksama, karena berdampak besar.

 

Seharusnya pendidikan juga menyuguhkan aktualisasi yang sangat akurat dengan keadaan psikologis, sosiologis, geografis dan antropologis masa kini, sehingga ilmu-ilmu yang disajikan dari setiap institusi berisi materi pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Pengentasan kemiskinan misalnya. Relevansi teori mata pelajaran dengan kebutuhan perlu adanya keselerasan yang akurat agar lembaga pendidikan mendapat peran dalam menentukan nasib bangsa.

Sindrom yang  menjangkiti para pelajar adalah adalah “kegiatan belajar” hanya dilakukan saat menjelang ujian saja, atau menghadapi testing saja, jika jauh dengan jarak itu, maka kegiatan belajar sering dijauhi bahkan dihindari. Sebuah pertanda kejemuan akut yang dihasilkan dari sistem yang stagnan.

Sudah seharusnya setiap pelajar memilih dan menemukan metode belajar yang cocok dengan karakter individu, diakui atau tidak, setiap orang mempunyai cara tersendiri yang lebih disukai untuk mendapatkan ilmu. Dalam buku Quantum learning  kategori atau metode belajar itu secara garis besar terbagi kedalam tiga bagian, yaitu; Visual, Auditorial dan Kinestetik.

Dengan menyesuaikan ritme belajar yang sistematis dan akurat sesuai karakter pribadi, kiranya akan memberikan dampak dan hasil yang signifikan, sehingga membuahkan pemahaman yang lebih maksimal.

Coba bayangkan jika seandainya budaya mencontek atau juga yang sama mengerikan yaitu SKS atau Sistem Kebut Semalam yang hanya dilakukan saat ujian tiba, maka sempurnalah sebuah kemerosotan intelektual yang tengah terjadi dalam negara ini.

Lain halnya jika sistemasi belajar ini bisa diterapkan secara  massif dan total, maka sebuah pemahaman yang ditangkap akan mampu diandalkan saat ujian tiba, bisa digunakan untuk memecahkan setiap permasalahan yang dialami didunia nyata, karena terbangun dengan sistematis. Materi yang diajarkan bukan hanya sebagai monumen ilmiah saja yang ketika terjun kedunia nyata menjadi tak berarti apa-apa, tetapi menjadi solusi tepat guna dan tepat sasaran.

Setelah lulus jenjang pendidikan, kegiatan belajar tidak hanya berhenti sampai di situ, ia akan menjadi seorang pembelajar sejati dengan mengeja kehidupan dan terbiasa melakukan eksperimen-eksperimen sendiri di dunia nyata, menghadapi masalah dan mencarikan solusi dari setiap persoalan yanh dihadapinya.

Fenomena saat ini adalah setelah lulus dari jenjang pendidikan adalah seperti kuda lepas tina gedogan, mereka melakukan aksi balas dendam dengan menjauhi segala aktivitas yang berbau belajar semisal membaca dan menulis.

Buku-buku LKS dan Buku paket yang dulu menjadi sumber utama dengan setia dibawa kemana-kemana oleh pelajar, kini hanya menjadi sekedar tumpukkan barang bekas yang siap dijual di pasar loak atau hanya menjadi terusan dari pemantik  api ketika pertama kali menyalakan tungku, terutama di kampung-kampung yang terdapat di pelosok desa.

Seharusnya buku-buku tersebut menjadi pegangan dan bahkan menjadi pedoman untuk hidup sehingga menghiasi dinding rumah yang elok dipandang. Dan dibaca ketika menemukan permasalahan hidup yang sebenarnya.

Pelajat sejati tentunya akan memuliakan dan menyayangi buku-buku tersebut, menyenangi aktivitas membaca, kecanduan menulis dan berbagai aktivitas lain yang erat kaitannya dengan mengasah otak dan berbau literasi.

Pelajar sejati tidak harus melakukan sebuah pencitraan yang menunjukkan dirinya bisa, bahkan tidak perlu terjangkit dengan virus narsisme seperti yang tengah mendera umat manusia zaman now.

Pelajar sejati yaitu setiap mereka menjadikan kegiatan belajar itu adalah budaya dan ritual yang mesti dilakukan sehari-hari, menjadi kewajiban, tuntutan di setiap waktu, menjadikan senam otak yang akan melatih kerja fikiran serta menjadikan ilmu sebagai makanan pokok ruhani.

Pelajar sejati adalah yang senantiasa berdzikir tanpa henti, yang menjadikan buku sebagai tasbihnya.

Sikap “Pelajar sejati” itulah yang disinyalir oleh Rasulullah saw dalam hadits yang cukup terkenal

اطلبوا العلم من المهد الى اللحد

Yang secara leksikal bisa diartikan Jadilah seorang pelajar sejati.

Cipasung, 8 juli 2018.

Oleh Ajang M Abdul Jalil. (Koordinator Departemen Dakwah dan Kajian PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya)

 

author IPNU Kab. Tasikmalaya

Nama saya Husni Mubarok Addakh dan saya adalah Pelajar NU dariKab. Tasikmalaya

Komentar