OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
NEWS 14/07/2017 9:20

Menyoal Full Day School

Menyoal Full Day School

Oleh : Wahyono An Najih

Mengingat Ki Hajar Dewantara sebagai seorang peletak dasar pendidikan di Indonesia dalam bukunya Bagian I Pendidikan (1994) menerangkan bahwa pendidikan merupakan suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya kembangnya manusia untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada sebagai masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup setinggi-tingginya.
Ada tiga hal penting yang ingin disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan yaitu budi pekerti (akhlak secara lahir dan batin), pikiran (intelektual), dan jasmani (kesehatan tubuh). Ketiganya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam membentuk anak yang berkarakter sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para tokoh bangsa. Sampai saat ini, ketiga konsep itu dipakai dalam dunia pendidikan, namun belum membuah hasil.
Pendidikan Saat Ini
Program Full Day School merupakan wacana baru yang dikemukakan dalam dunia pendidikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yaitu Muhadjir Effendy. Wacana ini sangat buming diperbincangkan oleh masyarakat, terkhusus orang yang bergelut di dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Pendidikan merupakan hal yang sangat sentral bagi keberlasungan suatu bangsa. Segala kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan sangat mempengaruhi kehidupan berbangsa bernegara dan beragama.
Full Day School apakah akan menjadi solusi pendidikan atau justru menjadi masalah baru? Pertanyaan ini banyak bermunculan di media sosial. Terus bagaimana siswa nantinya? Tidakkah ia menjadi orang yang stress karena diformat menjadi seperti robot yang haris belajar satu hari penuh?
Dalam pandangannya menyoal full day school bahwa pendidikan dari pagi hingga menjelang sore setiap hari senin sampai jum’at merupakan kondisi ideal pendidikan di Indonesia untuk membentuk karakter dan pengetahuan anak. Seperti apa yang diinginkan Jokowi (Presiden RI) bahwa jenjang Sekolah Dasar, siswa mendapatkan 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen pengetahuan umum. Sementara Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu 60 persen untuk pendidikan karakter, dan 40 persen pengetahuan umum.
Menurut seorang ahli pendidikan Prof. H. Mahmud Yunus: Yang dimaksud pendidikan yaitu suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. (Sutanto, 2015)

Baik Buruk Full Day School
Secara logis, konsep full day school akan mampu menekan kenakalan anak, karena dengan kondisi seperti ini, seorang anak tidak memiliki waktu untuk berbuat aneh-aneh setelah pulang seperti nongkrong, geng motor, pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Sebagian orang tua mungkin setuju, jikalau ayah dan ibu dari sang anak tersebut bekerja yang biasa pulang sore, karena tidak bisa mengawasi sang anak di siang hari.
Tentu harapan mereka adalah anaknya mendapat pendidikan moral dan akhlak yang baik serta pengetahuan yang cukup. Orang tua memiliki keterbatasan waktu berinteraksi dengan sang anak dikarenakan bekerja. Selain itu, libur dihari sabtu dan minggu memberikan ruang bagi keluarga untuk mendidik anak secara penuh dalam dua hari, sehingga pendidikan secara langsung dari keluarga dapat memberikan kedekatan sang anak dengan orang tua.
Banyaknya pujian tak menyurutkan masyarakat untuk mencoba mengkritik dan meninjau langsung kondisi sosial pendidikan di Indonesia ini. Dimana selain pendidikan formal, di Indonesia juga terdapat pendidikan nonformal seperti madrasah-madrasah diniyyah, pondok pesantren, dan lainnya.
Sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yaitu tidak setuju mengenai full day school yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2017/2018 tentu berdasarkan fakta yang terjadi di Indonesia, dimana di sore hari terdapat pendidikan nonformal, yang merupakan pendidikan agama berbasis moral dan karakter. Sejalan dengan PBNU, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tidak setuju karena jika full day school diterapkan akan membuat madrasah-madrasah dan pendidikan nonformal akan gulung tikar.
Dalam sejarah dunia pendidikan, full day school bukan merupakan wacana baru lagi menurut penulis. Konsep ini dipakai sejak dulu oleh para ulama dan wali terkhusus Nahdliyin untuk memberikan pengajaran agama secara total kepada santri dan murid di dunia pesantren, kedaton, dan peguron. Namun konsep yang sampai saat ini bertahan adalah pesantren, selain belajar ilmu agama, juga belajar mengolah hati, pikiran, dan rasa. Hidup manusia di dalam kehidupan pesantren diajarkan menghargai makhluk hidup sesame manusia maupun alam.
Dengan kondisi Indonesia seperti ini, penulis melihat sekolah-sekolah yang ada di Indonesia belum semuanya merata dan dengan fasilitas yang memadai. Ini akan menambah daftar panjang trial and error dalam sistem pendidikan nasional. Karena dengan kondisi tersebut sekolah belum mampu memberikan sepenuhnya konsep pendidikan karakter, dan pengawasan yang ketat bagi para siswa.
Harapan
Penulis menyarankan kepada seluruh praktisi pendidikan untuk memikirkan dan mengembangkan kurikulum dan pemerataan kompetensi guru yang merata. Sehingga pelayanan standar pendidikan nasional dapat dirasakan di seluruh pelosok negeri. Pemerintah seharusnya menghentikan segala hal yang berbau dengan pencintraan, ditengah kondisi masyarakat yang tidak stabil dan penuh kerasahan selepas politik DKI Jakarta.Sudah saatnya pemerintah berbenah diri, memperbaiki diri, dan menjawab keresahan masyarakat dikalangan orang tua, guru, dan tentunya para peserta didik.
Sistem pendidikan yang baik semestinya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik daerah dan budaya yang berkembang di daerah. Namun yang perlu diperhatikan adalah pendidikan langsung dari orang tua, bagaimana pun anak tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh pendidikan orang tua dan keluarga. Maka penulis berharap apapun konsep yang akan diterapkan, orang tua harus tetap dan bahkan menambah intensitasi dan interaksi dengan sang anak, dengan tujuan mendidik dan memberikan moral secara langsung kepada sang anak. Tujuannya tak lain adalah membentuk karakter anak melalui pendidikan keluarga. Sehingga anak menjadi generasi yang diharapkan orang tua, bahkan bangsa, Negara, dan agama.

Penulis adalah Pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNUI) 2015-2018

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar