OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
ASWAJA 08/11/2016 1:50

Nadia

Nadia

siluet-muslimahHujan mengguyur bumi. Membasahi gundukan tanah yang baru saja dipakai. Maksudnya yang baru diisi oleh sesosok makhluk. Sesosok makhluk yang denyut nadinya hilang ditelan kesedihan. Nadia, kembaranku. Ia selalu membelaku dan terus bersamaku… Namun kini, Aku hanya sendiri. Mungkin itu salahku, aku mengingat kejadian itu. Aku merasa bersalah, aku aku… Aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Bercampur antara kesal, sedih, bersalah, dan marah kepada diriku sendiri. Aku telah menyesal atas kejadian itu. Aku ingin mengulang waktu dan tidak melakukan itu. Ahhh, wajahku kini seperti cuaca. Mendung, hujan juga mengguyur wajahku. Berbondong-bondong semua pergi dari pemakaman. Aku menetap di pemakaman dan sedikit menaburkan bunga melati sebagai tanda perpisahan.

“Nadia mengidap leukemia,” tutur bunda sedih saat itu. Saat aku dan Nadia berusia 8 tahun. Nadia sedang menjalani perawatam di rumah sakit. karena saat itu, ia mimisan dan akhirnya pingsan. Setelah kondisinya pulih, ia akan menjalani kemotherapy setiap minggu. Aku yang masih kelas 4, masih polos belum tahu apa-apa. Aku bertanya kepada bunda,
“Kok aku gak tidur sama Nadia bun?” bunda dan ayah menangis tak bisa menjelaskan. Aku sedih, melihat bunda dan ayah menangis.
“Bunda, ayah. Kok bunda dengan ayah nangis? Nada minta maaf ya… Kalau bunda dengan ayah sedih, Nada juga akan sedih. Apalagi Nadia, Nada minta maaf ayah, bunda,” aku hampir menangis. Ayah dan bunda tersenyum lemah mengusap air matanya.

Setiap minggu, aku hanya mengantar sebatas luar ruangan saja. Maksudku, mengantar Nadia untuk kemotheraphy. Sebenarnya, aku tidak tahu apa itu kemotheraphy. Setiap bertanya, hasilnya nihil. Ayah dan bunda menangis dan seperti itu berulang-ulang. Setiap selesai kemotheraphy, wajah Nadia lesu dan terdapat sedikit bekas. Aku juga heran, mengapa harus beberapa jam aku menunggu Nadia di luar. Aku bingung sebenarnya apa itu leukemia? Pernah aku bertanya dengan ibu Carissa, guru IPAku. Katanya, leukemia itu kanker darah. Aku saja tak tahu kanker itu apa. Aku bertanya lagi-lagi Ibu Carissa menjawab sekaligus mempraktekan serta menuliskan penjelasannya di papan tulis. Kurasa itu sudah sangat lengkap. Dan aku mulai mengerti saat umurku dan Nada menginjak usia 10 tahun saat aku sudah menduduki kelas 6 SD.

2 minggu lagi adalah ulang tahunku dan Nadia. Saat ini, ia sedang sakit dan terbaring di rumah sakit. Aku sangat sedih melihat Nadia yang terus sengsara. Kini aku mengerti, kulitnya kini tak mulus lagi. Namun, untungnya kondisi Nadia sedikit membaik. Walau dia sering mimisan dan pingsan. Aku setiap hari membawa buah dan menyuapi Nadia sop ayam kesukaannya. Serta membawa teman-teman untuk menjenguk kembaranku ini. Aku tak ingin menyakitinya. Aku dan para sahabatku telah menyiapi kejutan untuk Nadia. Rencananya kami ingin melempari air dan tepung untuk Nadia. Setelah ia kembali sehat. Ternyata, memang keberuntungan memihak kepada kami. Nadia dalam waktu 2 hari sudah sehat dan kuat. Senyumnya kembali bersinar dan batang hidungnya sudah terlihat di sekolah.

“Aku senang kau kembali,” Cherly memeluk Nadia dan melompat kegirangan. Nadia tersenyum simpul.
“Sudahlah, kau ini tak usah berlebihan. Lihat, ia terlalu lelah karena berdiri,” seru Monic dengan nada tinggi mempersilahkan Nadia duduk. Aku tersenyum bahagia melihat kami berempat kembali bersatu. Oh ya, rencana kami selama 2 hari menjauhi Nadia. Walau aku seorang Nada juga ulang tahun, namun aku ingin membuat Nadia bahagia. Selama ini, ia yang menjagaku. Sehingga ia terlihat pucat dan mengalami penyakit leukemia… Huft, aku kembali sedih mengingat penyakitnya yang sudah menyebar hampir di seluruh tubuhnya. Cherly dan Monic juga ikut sedih. Mungkinkah ini kebersamaan kami yang terakhir? Ahh, aku berpikiran buruk. Ingat, positive thinking.

2 hari menjelang ulang tahunku dan Nadia yang ke-12. Aku, Monic, dan Cherly sedang menjalankan aksi kami. Maksudnya, perencanaan kejutan ulang tahun Nadia. Saat istirahat, tanpa mengajak Nadia kami pergi menuju kantin dan memesan bakso serta teh botol. Cherly menambahkan saos yang sangat banyak.
“Hot hot hot, ini sangat pedas,” itu yang diucapkan Cherly setiap kali makan. Setiap makan ia kepedasan dan setiap makan pula ia tidak jera. Saos itu tak memberikan efek jera. Sedangkan Monic, ia menyampurkan kecap, saos tomat, dan saos cabai dalam jumlah banyak. Tak lupa, ia mengaduk-ngaduk air yang berada di mangkok. Lalu ia tambahkan dengan satu tetes teh botol melewati sedotan. Diaduknya lagi, serta tak lupa Monic menambahkan garam dan gula yang berada di meja. Ia mencicipinya, tentu saja rasanya akan aneh. Sama dengan Cherly, Monic tak pernah jera dan selalu mempraktekannya setiap hari. Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua sahabatku itu.

Sementara, kulihat Nadia mendekati kami. Kami semua pura-pura cuek dan melanjutkan makan dengan tampang biasa.
“Hai, maaf aku telat,”
“Iya,” ucap Monic singkat. Sedangkan Cherly memasang muka pucat, cemberut. Dan aku memasang muka masam tak peduli dengan perkataan Nadia,
“Lho, Cherly kamu kenapa? Sakit, ke UKS aja,” seru Nadia panik.
“Aku gak papa,”
Ia tersenyum lega dan duduk memesan bakso bergabung bersama kami. Aku, Monic dan Cherly segera membayar biaya makan kami dan pulang ke kelas. Nadia menatap kami bingung. Cherly tersenyum menatap Aku dan Monic. karena belum waktu masuk. Aku, Monic, dan Cherly segera berdiskusi tentang kue dan lain sebagainya.

“Soooo, bagaimana tentang kue?” tanya Cherly tak sabar.
“Bagaimana, jika di kafe Sweet heart. Aku yang memesan kuenya dan pestanya akan diadakan di sana,” tukas Monic cepat dan bersemangat.
“Aku setuju, acaranya jam berapa?” tanyaku.
“Hmm jam 3.30 saja,” jawab Monic lagi.
“Lalu, air dan tepung?” tanya Cherly yang sedari tadi diam.
“Sehabis pulang sekolah,” jawabku.
“Bagaimana setuju gak?” lanjutku lagi.
“Setuju!” timpal Monic dan Cherly serempak.
“Ssshhtt… Nadia datang,” seru Cherly heboh. Aku, Monic dan Cherly diam dan membaca buku.
“Haii…” sapa Nadia bergabung dengan kami.
“Hai,” Monic berkata tanpa mengalihkan pandangan.
“Kalian baca buku apa? Kok kayaknya seru banget,”
“IPA, kan setelah ini test IPA,” timpal Monic lagi.
“Ohh, boleh aku gabung?” tanya Nadia lagi-lagi. Kami diam dan tetap membaca buku kami.

Hari yang ditunggu-tunggu telah datang, yaitu hari ini. Aku mengingat kejadian semalam. Semoga Nadia tak sedih. Aku meninggalkan Nadia yang sedang mengikat tali sepatu di halaman rumah. Tanpa pamitan dan mengajak Nadia pergi, aku menancap gas maksudku mengayuh pedal sepeda menuju sekolah yang berada di dekat rumahku dan Nadia. Samar-samar kudengar teriakan Nadia,
“Nada, tunggu akuuu,” namun suara itu tak terdengar lagi. Aku masuk menuju lokalku dan menaruh tas. Kulihat Nadia berlari ngos-ngosan. Napasnya terengal-engal. Dalam hati, aku panik. Biasanya, jika begitu Nadia akan mimisan dan tak lama akan pingsan. Tidak hari ini, ia sedang mengatur napas dan segera duduk. Nadia tertunduk lesu, dengan cepat ia minum air putih yang dibawakan oleh bunda. Kulihat Monic datang dengan wajah masam, sesuai rencana kami.
“Hai Monic, ke perpustakaan yuk,” tegur Nadia sekaligus mengajak Monic pergi.
“Udah, jangan ganggu aku. Aku laper belum makan,”
“Lha?” ucap Nadia bingung.
“Aku mau ke kantin,” seru Nadia dingin dan berlalu.

Beberapa saat, Cherly datang.
“Cherly!!! Main yuk,” ajak Nadia hati-hati. Namun, Cherly mengabaikan Nadia dan berlalu pergi bersama Farah. Tanpa sedikitpun membalas perkataan Nadia. Nadia kembali duduk menyendiri dengan lesu. Wajahnya mendung. Bahkan, saat pelajaran. Aku pandangi kembaranku ini. Ia tak fokus, saat disuruh mengerjakan di depan kelas,
“Ada yang belum jelas?” tanya bu Sindry kepada sisi kelas. Semuanya diam, tak ada yang berani menjawab.
“Nadia Ramadhani!” panggil bu Sindry ketika beliau mendapati Nadia hanya melamun.
“Ya!” Nadia menjawab secara terkejut.
“Kamu tidak memperhatikan saya?” tanya bu Sindry dengan nada menginterogasi.
“Saya memperhatikan bu,” jawab Nadia berbohong dan menjawabnya dengan mantap.
“Coba kamu ke depan untuk mengulangi perkataan saya tadi,” ujar bu Sindry galak. Wajah Nadia terlihat pucat pasi. Tubuhnya bergemetar hebat, tiba-tiba dia ingin pergi ke kamar kecil.
“Ayo!” teriak bu Sindry.
“Tadi ibu bilang ‘Ada yang belum jelas?’” seru Nadia mantap menahan rasa takutnya. Seisi kelas menahan tawa termasuk Aku. Memang Nadia ini hebat, hahaha…
“Ya ampun Nadia, itu bukan maksud ibu,” bu Sindry menepuk keningnya dan alisnya mengerut.
“Tapi ibu bilang ulangi perkataan ibu tadi,”
Semua tak bisa menahan emosi. Seisi kelas tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nadia yang tampak lucu. Nadia adalah orang yang cerdik.

Selang beberapa waktu, akhirnya bu Sindry menyerah.
“Baiklah, Monic ke depan untuk mengulangi penjelasan ibu tadi,”
“Ya,” tegas Monic berani dan melangkah menuju depan kelas. Sedangkan Nadia kembali duduk. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Aku tahu tanda itu, ia belum bisa menghilangkan rasa menuju kamar kecil. Setelah bel berbunyi, Nadia berlari untuk pergi menuju kamar kecil. Setelah selesai, kami bertiga menjalankan aksi kejutan. Cherly dan aku menumpahkan tepung sedangkan Monic air. Lalu, dengan serempak kami beteriak,
“Happy birthday NADIAAA,”
“Kalian?” ketus Nadia cemberut. Ia baru menyadari bahwa kamilah yang melemparkan tepung dan air. Kini pakaiannya telah basah dan kotor dipenuhi tepung. Cherly tertawa terbahak-bahak. Sampai sakit perut,
“Hahahaahahahaha,”
“Sudahlah,” teriak Nadia dengan memasang wajah palsu.
“Tak usah dihiraukan. Kita akan merayakan ulang tahun kalian di kafe sweet heart. Jam setengah empat ya, kami pulang dulu,” tegas Monic dan Cherly bersamaan menuju rumahnya yang satu komplek.
“Okay,” ucapku dan Nadia serempak.

Aku bahagia. Bukan karena kafe itu, namun karena Nadia. Nadia akhir-akhir ini tidak mimisan dan tidak pingsan. Aku bersorak dan mendoakan kesembuhan leukemia. Aku kembali teringat, kankernya telah mencapai stadium 3. Apakah itu parah? Hmm… Entahlah, aku mengubah topik yang aku pikirkan. Aku melihat Nadia terlihat anggun dengan gaun yang dikenakannya. Gaun hitam dan merah yang penuh dengan Kristal putih yang kecil. Ditambah dengan rambutnya yang disanggul. Serta hak tinggi berwarna hitam. Aku tersenyum manis melihatnya. Aku? Sama dengan Nadia. Tentu saja, karena kami adalah saudara kembar. Setelah siap, aku dan Nadia pergi menuju kafe dengan sepeda kami. Sampai di sana, Monic dan Cherly telah datang. Mereka juga terlihat cantik.

Kami merayakannya dengan bahagia. Acara dimulai dengan berdoa yang dipimpin oleh Harry. Teman lelaki kami yang kami memang undang untuk acara serta sebagai pembuka dan penutup. Setelah itu, nyanyian merdu Monic. Lagu buatan kami bertiga dan berempat. karena pada saat itu, memang Nadia tak ikut. karena saat itu ia sedang sakit. Acara kedua, pembacaan puisi oleh Cherly. Dan yang ketiga pertunjukkanku… Melukis… Acara keempat, berdansa. Setelah berdansa, memotong kue, serta acara makan-makan. Saat Cherly sedang mengambil minum, Monic mendorong Cherly sehinga menyebabkan air Cherly tumpah mengenai Nadia. Saat itu, emosiku tak bisa diatur sehingga…
“Cherly, kamu ini gimana sih? Gak bisa lihat ya! Lihat, gaun Nadia jadi kotor dan basah!” teriakku dengan nada tinggi.
“Kok aku yang disalahin, Monic yang dorong aku!” Cherly membela diri dengan teriakan yang tak kalah kuat denganku.
“Udah Nad… Cherly dan Monic gak sengaja. Lagi pula, masih bisa dibersihin kok,” balas Nadia dengan nada lembut dan tersenyum lemah.
“Apa!! Nadia, aku sudah membelamu. Tapi kau membela Cherly. Gimana sih? Gak tahu balas budi!” Bentakku kepada Nadia. Aku marah dan segera ke luar dari acara. Aku menenangkan diri di luar kafe. Sedangkan Nadia berlari. Monic dan Cherly ingin mencegah Nadia. Namun Nadia sudah terlanjur lari.

Aku menyaksikan kejadian pilu. Hujan deras membasahi gaun Nadia. Sebuah truk coklat yang terkena lumpur menabrak Nadia. Aku tak kuat menyaksikannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesal telah membentak Nadia. Sehingga ia berlari dan akhirnya tertabrak truk. Sebuah ambulans mengangkat Nadia ke rumah sakit. Aku segera menyusulnya dan menangis. Monic dan Cherly mengiringiku pergi ke rumah sakit. Mengapa di hari ulang tahunku dan Nadia yang seharusnya bahagia malah kecelakaan. Dan semua itu disebabkan olehku. Aku sadar, aku mempunyai kesalahan yang sangat banyak. Nadia masuk UGD. Sampai besok pun ia belum sadar. Aku memutuskan untuk tidak masuk ke sekolah dan tidur di kamar rawat inap Nadia. Untungnya, kini ia sudah pindah dari UGD.

2 hari telah berlalu. Selama 2 hari berturut-turut, Monic dan Cherly turut membesuk Nadia.
“Aku minta maaf membuat suasana menjadi kacau,” sesalku kepada Cherly dan Monic dengan perasaan bersalah.
“Itu hanyalah kecelakaan, dan itu juga kesalahanku,” Monic meneteskan air mata.
“Monic, Cherly maaf suasanaku menjadi keruh. Dan maaf membuat kalian menjadi sedih, ini memang salahku. Lebih baik aku yang mati!”
“Tidak, mungkin sudah cukup kehilangan Nadia. Kami tak mau kehilanganmu juga,” ucap Cherly terisak-isak.
“Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Leukemia Nadia telah mencapai stadium akhir,” tutur Monic menjelaskan sedangkan Cherly tangisnya pecah. Kami bertiga menangis sejadi-jadinya. Aku yakin, tahun ini adalah tahun terakhir kami bersama. Maksudku kami berempat, kata Cherly dan Monic umur Nadia tak lama lagi.

Kubaca surat dari Nadia untuk kami…

Hai sobat, bagaimana kabar kalian? Aku harap baik-baik saja. Maaf ya, aku meninggalkan secepat ini dan membuat kalian sedih. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku tak ingin kalian terlalu memikirkanku. Aku ingin kalian tak marah denganku. Aku ingin berterima kasih kepada kalian yang telah memberiku kebahagiaan pada hari terakhirku berada di sisi kalian. Terima kasih atas semua hadiah yang kalian berikan. Terima kasih telah mengizinkanku jadi sahabat kalian. Selepas aku pergi, tetaplah jaga nama persahabatan kita dan jangan sampai persahabatan kita hancur. Kalau itu terjadi, aku tidak akan memaafkan kalian! Aku harap setelah aku pergi, kalian tetap sering berkunjung ke rumahku dan Nada. Sampaikan salamku kepada teman-teman.

Selendang hitam melingkari leherku, Cherly, dan Monic. Kami menangis dan berdoa untuk Nadia. Berlama-lama di sana. Hujan mengguyur Kota Cirebon. Aku tersenyum mencoba mengikhlaskan atas kepergian Nadia, adik kembarku. Aku meminta maaf karena aku tak dapat menjagamu dengan baik. Aku meminta maaf atas kesalahanku saat itu. Tak seharusnya aku membentakmu sampai kecelakaan. Dan saat itu, aku berdoa agar kau diselamatkan. Namun, takdir berkata lain. Aku pergi dari makammu dan segera berlalu pulang ke rumah. Aku harap, kau memaafkan kesalahanku saat itu, salam dariku di dunia untukmu. Nadia oh Nadia… Selamat tinggal Nadia… Aku menyayangimu…

Tamat

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar Berjuang Bertaqwa

Komentar