OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Nahdlatul Ulama dan Indonesiaku Oleh KH. Muhammad Yusuf Chudlori

(Pemaparan KH. Muhammad Yusuf Chudlori saat mengisi materi dalam acara Latihan Instruktur PW IPNU IPPNU Jawa Tengah di Gedung BLK Wonosobo, 23 September 2017 pukul 16.00 WIB)

Para ulama terdahulu mempunyai kesadaran tentang cinta tanah air sudah sejak lama, bahkan ratusan tahun yang lalu. Kenapa? Karena para ulama kita atau kyai sepuh (red: tua) sangat memahami bahwa untuk kesempurnaan  ibadah membutuhkan tanah air. Darul aman tanpa memiliki tanah air atau negara yang aman maka syariat dan ibadah tidak bisa sempurna.

Kalau ditarik dalam suatu kaidah fiqih, ada satu kaidah fiqih yang menyatakan ma laa yatimmul wajib illa bihii fa huwa wajib”. Suatu perkara yang tidak bisa sempurna perkara yang wajib tanpa hukumnya perkara tersebut, maka perkara tersebut hukumnya ikut menjadi wajib. Yang wajib itu sholatnya, membayar zakat atau syari’atnya. Kita tidak bisa sholat dalam keadaan tenang kalau kita tidak memiliki negara sendiri. Maka memperjuangkan tanah air dan kedaulatan negara hukumnya menjadi wajib.

Kita bisa melihat salah satu contoh yang terjadi pada suku Rohingya di Myanmar. Suku Rohingya yang 100% muslim jumlahnya ratusan ribu, tetapi tidak memiliki tanah air, tidak punya negara, dan tidak diakui kedaulatanya di Myanmar. Mereka  diusir, di Bangladesh diusir, susahnya orang tidak punya negara. Hidupnya di wilayah tempat yang setiap waktu bisa diusir kapan saja. Dengan kondisi seperti itu, jelas sangat tidak mungkin mereka bisa sholat dengan tenang, tidak mungkin juga anaknya bisa belajar. Contoh lain kita juga bisa melihat Palestina, tidak semua warga Palestina muslim, bahkan hanya 38% saja, selebihnya penganut agama Kristen, Nasrani dan agama lainya.

Kutipan pesan beliau (Gus Yusuf) “Jika ada yang mengatakan bahwa kasus di Palestina itu isu keislaman bukan semata-mata HAM, itu semua karena persoalan  kedaulatan negara. Saudara kita di Palestina setiap hari berhadapan dengan Masjidil Aqsa, masjid sejarah dan masjid yang terekam saat Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassallam. Kita tahu setiap muslim pasti punya keinginan untuk shalat di Masjidil Aqsa. Namun saudara kita yang sudah jelas-jelas didepan mata tak bisa menjalankan shalat di Masjidil Aqsa. Bahkan, Jum’at pekan lalu direwangi gepuk-gepukan karo tentara nganti akeh sik mati (red: dibantu saling hantam dengan tentara sampai banyak yang meninggal). Kenapa? Karena kedaulatan Palestina sampai hari ini belum diakui oleh negara. Maka berangkat dari situlah kyai-kyai kita sebelum NU lahir sudah menggelorakan yang namanya perjuangan kemerdekaan.”

Maka sebelum ada NU, dulu ada Nahdlatul Wathan yang didirikan dengan kesadaran pada kecintaan akan tanah air. Setelah itu ada Tashwirul Afkar, pondasi landasan sebagai pemurnian pemikiran, lahan diskusi, agar cinta tanah air tidak hanya sekedar cinta namun juga harus pintar. Ada lagi Nahdlatut Tujjar, perserikatan saudagar, pedagang dari embrio-embrio itulah menjadi Nahdlatul ‘Ulama. Kemudian pendiri Nahdlatul Ulama punya slogan Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman), artinya  ketika melaksanakan sholat, puasa, dan zakat namun dalam badan tidak terbesit untuk mencintai tanah air, perlu diragukan keimanannya maka imanya belum sempurna.

Rasulullah salallahu alaihi wassallam bersabda: “Sempurnanya iman adalah dengan jihad, barang siapa yang tidak ikut berjihad makan imanya tidak akan sempurna.’’ Jadi, setiap langkah pergerakkan para ulama itu pasti berlandaskan terhadap Al-Qur’an, hadits, dan kaidah-kaidah fiqh, tetapi tidak pernah merubah dalil. Lebih pada aplikasi, tidak pada teks. Semua ada dalilnya soal mencintai tanah air. Sekali lagi bagi kyai-kyai kita yang terpenting bukan teori, namun lebih ke praktek dilapanganya. Percuma punya dalil seabreg tapi tidak ada aplikasinya.

Sampai KH. Hasyim Asy’ari dalam menanamkan rasa cinta tanah airnya pernah mengharamkan umat Islam waktu itu makan menggunakan garpu dan sendok. Diharamkan orang Islam memakai celana panjang, jas dan dasi karena saat itu yang melakukan semua itu adalah penjajah. “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum” (barang siapa yang menyerupai perilaku sebuah kaum, maka dia adalah bagian dari kaum tersebut).

Mengapa diharamkan? Tujuannya adalah untuk  memberikan depresiasi yang jelas antara orang Indonesia dengan orang Belanda, agar tingkat kepercayaan diri orang Indonesia berbeda dengan mereka. Semua itu diharamkan pada awal-awal pergerakan, tapi “al-hukmu yadurru ma’al illati wujudan wa adaman” (hukum itu ada kalanya berputar sesuai dengan sebab dan akibat).

Saat  itu, makan menggunakan  garpu diharamkan, pakai jas diharamkan, tapi begitu Indonesia merdeka, perkara haram itu kemudian diperbolehkan karena Belanda sudah tidak menjajah Indonesia lagi. Begitulah kyai-kyai kita dahulu kala menanamkan rasa cinta tanah air. Segala sesuatu diatur sedemikian rupa untuk menggelorakan cinta tanah airnya.

Tahun 1920-an sebelum NU lahir, Belanda dalam melakukan perlawanan menggunakan beberapa strategi. Awal pergerakan menggunakan kekerasan fisik, kemudian karena mungkin kewalahan dan menghabiskan biaya banyak untuk Indonesia. Akhirnya setelah melakukan riset untuk mencari titik lemah pergerakan, Belanda menggunakan strategi yang kedua, melalui pendekatan ekonomi.

Pergerakan terus terjadi, namun Belanda tak kehabisan akal untuk menemukan simpul-simpul pergerakan dikalangan kyai dan santri (dikutip dari buku Agus Sunyoto). Akhirnya setelah melihat titik kelemahan itu Belanda membuat beberapa usaha yaitu pendirian pabrik tebu didepan pesantren.Tujuannya untuk menyibukkan  masyarakat atau jamaah-jamaah agar bekerja di pabrik tebu dari pagi sampai sore, mendapat upah lantas malam lupa digunakan untuk berfoya-foya. Maka tidak ada waktu untuk jamaah atau masyarakat ngaji, strategi Belanda untuk mengutip mata rantai antara santri dengan kiai dengan cara ekonomi itu berhasil.

Namun Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari bukanlah kyai biasa. Beliau faham betul langkah-langkah yang akan dilakukan Belanda. Kalau dilawan secara frontal mungkin berat, namun akhirnya beliau membuat benteng di depan pesantren dengan mendirikan mushola/langgar  yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari pabrik. Mbah Hasyim membuat satu kelonggaran untuk para pekerja pabrik dengan mengatakan “Wis kowe esuk ning pabrik ora papa, tapi sore lamon wis rampung balik meneh marang pesantren, kowe nyambut gawe nang Londo rak popo, tapi sore balik ngaji meneh nang pesantren’’.

Setelah itu Belanda mendirikan pabrik tebu lagi di daerah Kediri, kemudian Mbah Hasyim dawuh kepada santrinya untuk membentengi lagi dengan  mendirikan Pesantren Lirboyo. Berdiri lagi pabrik di Pare, ada lagi Pesantren Darul Ulum. Akhirnya di Jawa Timur berdiri banyak pabrik  sekitar 9-11  yang berada didepan pesantren. Tujuan Mbah Hasyim memerintah santrinya untuk membuat pesantren agar membentengi jama’ah dari pergerakan penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh Belanda.

Pergerakan Belanda tidak berhenti sampai disitu, mereka memperluas usaha mereka mendirikan pabrik di berbagai daerah. Kemudian Mbah Hasyim berfikir kalau membuat pabrik ini persoalan mudah, tinggal ada bangunan, ada masjidnya, ada uang, jalan. Tetapi untuk menutup pabrik dengan  membuat pesantren tidak semudah itu.

Akhirnya muncul ide cerdas beliau membuat pesantren tanpa dinding dan atap, lahirlah Nahdlatul Ulama. Itu salah satu faktor disamping tentu ada persoalan aqidah yang waktu itu sedang mulai berkuasanya khalifah Ibnu Saud tahun 1925 di Hijaz atau yang saat ini kita kenal dengan Saudi Arabia. Adanya persoalan aqidah di Hijaz kemudian Mbah Hasyim mengirim utusan ke Hijaz. Tidak hanya itu, misi yang kedua karena di tanah air sedang menghadapi masalah pergerakan penjajah Belanda dari dua hal. Itulah yang melatarbelakangi lahirnya NU untuk mempertahankan aswaja dan memerdekakan NKRI.

 

NU Adalah Pesantren Besar Sementara Pesantren Adalah NU Kecil

Ditinjau dari struktural pesantren, biasanya ada pengasuh atau dewan masayikh. Sedangkan di Nahdlatul Ulama ada syuriyah, syuriyah itu adalah owner. Kalau di pesantren lurah pondok itu dewan pelaksana dan jajaran pengurus itu adalah pelaksana, di NU ada tanfidziyah yaitu kordinator pelaksana atau pelaksana eksekutif. Di pesantren ada santri yang dibimbing setiap hari, di NU ada Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU & IPPNU.

Kita ini adalah santri–santri Nahdlatul Ulama, tugasnya sama, kyai di pesantren mengajar ngaji di mushola/ndalem, NU juga mengajar ditempat perkotaan & lapangan. Kyai istighosah di Mushola, NU istighosah di pendopo atau lapangan. Sama tugasnya, kyai di pesantren juga terus menggelorakan perjuangan cinta terhadap tanah air dan kepedulian itu tetap ada sampai hari ini.

Di Magelang ada Museum Diponegoro, disana anda bisa melihat kuda yang ditunggangi Pangeran Diponegoro. Disitu ada ulasan kitab Fathul Qarib, sejarahnya begini: “Dulu saat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Pangeran Diponegoro masih memegang fathul qorib dan tasbih. Artinya apa? Tanggung jawab atau peran Pangeran Diponegoro (KH.Abdul Hamid) adalah mendirikan Laskar Diponegoro lewat santri-santri. Setiap hari KH. Abdul Hamid rutin mendidik santrinya ngaji, siang ngajar fathul qorib, sore gerilya sembari mujahadah. Disitu bukti otentik masih ada kitab ulasan Pangeran Diponegoro. Jadi, kemanapun Pangeran Diponegoro berada pasti membawa kitab, beliau itu muallim guru ngaji. Jadi jangan kaget jika ada kyai yang nyambi jadi ketua partai, ini kesadaran muallim sebagai pembimbing tetapi juga punya kesadaran mencintai tanah air (hubbul wathon minal iman).”

Hal itu terus berlanjut sampai masa kemerdekaan, bahkan pasca kemerdekaan muncul resolusi jihad saat Belanda membonceng NICA masuk lagi lewat Surabaya. Kemudian KH. Hasyim Asy’ari mengumpulkan para kyai untuk melakukan kajian panjang. Setelah melakukan diskusi, menentukan masa fathul qastri daerah yang boleh meng-qashar sholat adalah jarak 75 km. Intinya yang dalam radius 80 km, bagi laki-laki aqil baligh hukumnya fardlu ‘ain berangkat ke Surabaya untuk melawan penjajah, kalau diluar wilayah itu hukumnya sunnah muakad.

Jadi ada kajian-kajian yang intinya dalam resolusi jihad yang kemudian ditetapkan pada tanggal 22 Oktober. Resolusi jihad puncaknya adalah 10 November yang saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Tidak akan ada peristiwa 10 November kalau tidak ada 22 Oktober, tidak ada heroik arek-arek Surabaya kalau tidak ada resolusi jihad KH. Hasyim Asy’ari. Akhirnya sejarah mulai mencatat, pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Tidak hanya berhenti disitu, para founding father berdiskusi membahas negara ini selanjutnya akan dibawa kemana? Setelah merdeka, Indonesia bentuknya mau seperti apa? Saat itu ada yang mengusulkan bentuk negara federal, ada yang menentukan negara dibawah satu agama. Intinya saat itu bahwa gerakan Islam kanan menginginkan negara ini dibentuk dengan negara syariat Islam, sementara kaum nasionalis dan komunis tidak sepakat bahkan ada ancaman perpecahan kalau jadi mendeklarasikan agama Islam.

Maka akan muncul negara Hindu Bali, bahkan negara Kristiani Sulawesi. Dari situ, kearifan kyai-kyai  kita muncul, ada salah satunya kyai Wahid Hasyim ayah dari Gus Dur yang saat itu berusia 26 tahun. Dalil politik yang dipakai sederhana, yang paling terkenal dan sering dipakai Gus Dur itu “Dar’qul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih’’. Mereka yang menginginkan berdirinya  negara berdasarkan syari’at Islam mungkin adalah jalbil mashalih, itu dianggap sebuah kemaslahatan tetapi yang nampak didepan mata adalah mafsadat kerusakanya.

Saat itu Indonesia baru saja merdeka, kalau tiba-tiba ada ancaman perpecahan maka mashalih-nya masih diperjuangkan tetapi mafsadat-nya jelas didepan mata. Oleh karena itu, kyai-kyai  NU waktu itu berdiskusi dengan mereka kaum nasionalis dan menyatakan “Kita tidak bisa membuat negara dibawah satu agama tertentu karena jelas yang memperjuangkan NKRI tidak hanya satu agama saja. Kita mengenal jasa para syuhada lain dari agama Nasrani, Budha, dsb., mereka juga berhak diakui. Kalau umat Islam mengklaim kemerdekaan ini miliknya, memperjuangkanya, menurut para kyai itu namanya ghazab.”

Jika saat itu umat Islam ngotot membentuk negara Islam, itu bukan memperjuangkan kita sendiri. Akhirnya disepakatilah bentuk negara Indonesia adalah NKRI. Itu hasil ijtihad-nya para founding father termasuk didalamnya para kyai dan juga kemudian lahir yang namanya Pancasila. Lantas apalagi yang diragukan dari Pancasila? Kalau sekarang masih ada yang menggelorakan syari’at Islam adalah solusi, Khilafah Islamiyah adalah solusi, itu adalah orang-orang yang bermimpi.

Kurang syari’at Islam apalagi Indonesia ini? Kita tahu syari’at Islam sebagian besar di Republik Indonesia ini sudah berjalan. Syari’at Islam jangan hanya difikir potong tangan atau leher, jangan disederhanakan kalau syari’at Islam itu tangan dipotong dan sebagainya. Kita sholat lima waktu itu syari’at Islam dan di negera ini tidak ada yang menghalang-halangi kita sholat lima waktu, tidak ada larangan untuk berzakat, dsb. Bahkan kita melakukan semua itu sudah difasilitasi oleh negara. Menghormati orang tua saja birrul walidain atau menghargai tetangga saja sudah termasuk syariat Islam. Di Republik Indonesia ini hampir sudah menjalankan syariat Islam, kok malah masih ingin membuat negara Islam NII (Negara Insyaallah Islam) masih ingin Khilafah Islamiyah. Coba dilihat, syariat Islam kurang apalagi?

Para kiai terdahulu lebih mengedepankan konten dari pada wadah, Pancasila juga didalamnya terdapat nilai-nilai Islami. Nilai Islam yang terkandung dalam Pancasila:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa. (QS. Al-Ikhlas ayat 1)
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. (QS. Al-Adalah)
  3. Persatuan Indonesia. (Ukhuwah)
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. (Wasawirhu fil amr)
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sudah jelas bahwa nilai-nilai Pancasila sesuai dengan syariat Islam. Makanya para kyai tidak meragukan sedikitpun untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila sudah final, karena itu dulu sudah melalui kajian panjang para kyai dan nasionalis.

Allahu Yarkham Mbah KH. Ahmad Shidiq yang saat itu menjadi Rais ‘Aam PBNU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Orang mungkin melihat NU itu lentur atau apalah, tetapi NU selalu berfikir untuk kemaslahatan ummat tidak berfikir untuk dirinya sendiri. Maka disitulah “Dar’qul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih’’.

Waktu itu, menerima bentuk negara tidak berdasarkan agama terpenting tetapi lebih kepada nasionalisme, kebersamaan membangun negara kesatuan. Perjuanganpun tidak hanya berhenti saat itu saja, ketika tahun 1948-1965 pergoncangan ancaman dari komunisme, kyai-kyai NU juga ikut tampil menyelamatkan Indonesia. Sampai hari ini, ketika ada yang coba mengganggu NKRI, kebhineka-an dan Pancasila, maka Nahdlatul Ulama siap menjadi garda terdepan menyelematkan NKRI dan Pancasila.

Penulis: Suci Amaliyah, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PC IPPNU Kabupaten Tegal

Editor: Humam Fauyi

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar