OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Refleksi Penguatan Pendidikan Karakter  : Karakter Pelajar Terhadap Diri Sendiri

Seiring dengan diterbitkannya Perpres tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang merupakan jawaban atas maraknya kebijakan FDS (Full Day Scholl) yang menuai pro dan kontra. Akhirnya  dengan kebijakan presiden mengeluarkan peraturan tentang Pengenguatan Pendidikan Karakter (PPK) teratasi sudah masalah FDS, yaitu dengan mengembalikan seperti semula program lima hari sekolah menjadi enam hari lagi.

Berkaitan dengan pendidikan karakter, sebenarnya sistem ini sudah dilakukan oleh kalangan pondok pesantren di Indonesia sejak dulu, yaitu menanamkan nilai karakter kepada teman, kiai, lingkungan dan bangsa. Nah, yang ingin saya ulas disini adalah “Karakter Pelajar Terhadap Diri Sendiri”. Dikutip dari kitab  Adabul ‘alim wal muta’alim karya  Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, menjelaskan ada 10 karakter yang harus dimiliki pelajar terhadap diri  sendiri:

Pertama, membersihkan hati dari akhlak tercela. Akhlak tercela yakni iri hati, dengki, kebohongan, kepalsuan dan sebagainya, kita harus menjauhi dan membersihkan hati kita dari hal tersebut dengan senantiasa membaca istighfar setiap waktu, agar mudah menerima ilmu dan menghafal pelajaran.

Kedua, membagusi niat belajar, dengan tujuan semata-mata belajar hanya mencari ridha Allah SWT, mengamalkan ilmu, menerangi hati dan menghias nurani. Bukan niat ingin menjadi pintar dan pandai, apalagi niat untuk mencari ijasah. Mencari ijasah usahakan bukan niat yang pertama. Niat yang pertama adalah mencari ilmu, ridha Allah SWT.

Ketiga, memaksimalkan waktu untuk belajar, ini hanya mungkin ketika anak-anak diberi batasan untuk pegang HP dan menonton televisi oleh orang tua. Maka jangan sia-siakan waktu muda untuk belajar dan memaksimalkan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan kembali lagi.

Keempat, bersikap qana’ah dalam sandang, pangan dan papan. Yaitu berpenampilan sederhana, apa adanya tidak sombong dengan apa yang dimilikinya, baik harta, tahta ataupun kepintaran. Karena sejatinya kita tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah SWT. Imam Syafi’i RA berkata: “Sungguh tidak akan sukses orang yang menuntut ilmu disertai kehormatan diri dan ekonomi melimpah. Akan tetapi orang yang menuntut ilmu disertai kerendahan diri, ekonomi sederhana, dialah yang akan sukses.”

Kelima, manajemen waktu dan tempat beajar, pelajar harus mengatur waktunya serta memanfaatkannya sebaik mungkin. Waktu terbaik untuk menghafal pelajaran adalah waktu sebelum subuh, pertengahan siang untuk menulis dan malam hari untuk belajar dan mengingat kembali. Adapun tempat yang terbaik untuk menghafal adalah kamar. Tidak baik menghafal ditempat yang dekat pepohonan, tanaman hijau, sungai-sungai maupun tempat-tempat yang bising.

Keenam, menyedikitkan makan dan minum. Hal ini karena jika kekenyangan akan menghalangi ibadah dan memberatkan badan, sehingga malas untuk bergerak/beribadah.

Ketujuh, menjaga diri dari syubhat dan haram. Pelajar harus memperhatikan halal dan haramnya makanan, agar hatinya menjadi terang, mudah menerima ilmu serta meraih manfaatnya.

Kedelapan, menghindari makanan dan aktivitas penyebab lupa, aktivitas penyebab lupa antara lain, mengkonsumsi makanan bekas gigitan tikus, membaca batu nisan kuburan serta membuang kutu rambut dalam keadaan hidup-hidup.

Kesembilan, manajemen waktu tidur, istirahat dan bermain.

Kesepuluh, mengurangi kadar pergaulan yang kurang bermanfaat. Pelajar harus selektif dalam memilih teman bergaulnya, jika temannya baik, maka ia akan jadi baik, sebaliknya, jika temannya buruk, maka ia akan menjadi buruk pula. Maka dari itu, carilah teman bergaul yang dapat membawa anda menuju surga-Nya Allah SWT, baik itu di lingkungan rumah, kantor dan sebagainya.

Oleh : Imam Syahrul Romadon, S.Pd.I  (Sekretaris PAC IPNU  Kecamatan Cilongok)

Editor: Humam Fauyi

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar