OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480

Seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, orang-orang memahami bahwa sebenarnya ilmu merupakan suatu hal yang tak pernah terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Jika melihat pepatah itu melalui kacamata filsafat, akan timbul pertanyaan yg sungguh mendasar, “Tuntutlah Ilmu” Tuntut? Mengapa dituntut? Ilmu dituntut? Apakah Ilmu bersalah? Apa Salah Ilmu? Kenapa harus menuntut Ilmu? Apakah Ilmu pernah melakukan tindakan kriminal? hehe.. Bagi orang awam terdengar agak aneh, tapi begitulah filsafat, satu dasar atau asumsi bisa menimbulkan beratus-ratus pertanyaan selanjutnya, disinilah kita diajak berpikir, secara ilmiah, menggunakan pengkajian mendalam. Kata tuntut memiliki definisi bahwa kita harus meminta dengan keras, dalam artian dalam upaya menggapai sesuatu yang dalam hal ini Ilmu diharuskan apapun jalannya kita harus lewati, dimanapun ilmu itu berada kita harus mencarinya, baik dari bangku sekolah, forum, tekstual, maupun non-tekstual. Apalagi melalui kebudayaan kita masyarakat Indonesia, ialah duduk bersama, ngopi bersama, berdiskusi, saling sharing pengetahuan, wawasan, disamping kita mendapatkan ilmu, kita juga ikut serta berperan dalam pelestarian kebudayaan Nusantara, yg dalam hal ini Musyawarah, saling bertukar pikiran.

Kebudayaan yang sudah diturunkan ke kita cucu ibu pertiwi ini, sudah kewajiban kita menjaganya. Jadi dalam memperoleh ilmu dalam perspektif keNusantaraan erat kaitannya dengan budaya, budaya rakyat Indonesia berbagi sejarah daerah, juga harus dipertahankan hingga sekarang. Maka dari itu betapa pentingnya yang namanya Regenerasi Kader, proses sharing pengetahuan dan pengalaman kepada para orang lain termasuk kepada para bibit-bibit generasi Indonesia juga diperlukan, Perkara proses transfer ilmu ini juga tak boleh berhenti, dengan kata lain harus berjalan secara kontinu, dari generasi, ke generasi. Dari sinilah lahirlah para generasi-generasi cerdas, yg mampu memandang segala realita yg ada, dan dibarengi dengan solusi-solusi reduktif, bukan apatis. Terbuminya Kecerdasan, Maka tercapainya cita-cita kebangsaan.

(Hendrawan Datukramat, Kader IPNU Komisariat SMK Negeri 1 Kaidipang, Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara)

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar