OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Santri Dan Ketahanan Pangan
Ilustrasi

Santri dan pertanian merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Dimana disitu ada pondok pesantren, maka hadir pula tanah yang luas yang hasil buminya dapat dinikmati oleh para santri. Indonesia, yang diberkahi  tanah yang subur oleh Allah, harusnya mampu memanfaatkan sumber daya alam kita ini untuk kepentingan ekonomi santri dan juga negara.

Namun, mengapa Indonesia bukan merupakan negara yang mampu bertumpu dari sektor pertanian? Apa kendala kita untuk menjadi negara nomor satu dalam bidang pertanian? Jawabannya akan saya uraikan sebagai berikut:

Pertama, kebijakan dari pemerintah sangat tidak pro rakyat. Daripada memikirkan bagaimana mencetak lapangan kerja baru dan mencetak wirausahawan muda dalam bidang pertanian, kita malah sibuk memikirkan bagaimana menarik minat investor untuk berinvestasi di Indonesia dengan sumber daya alam yang kita miliki.

Kedua, lahan pertanian kita masih sedikit yang betul-betul dikelola oleh petani. Kebanyakan lahan yang digunakan petani merupakan pinjaman semata dari juragan tanah di kampung tersebut. Kalau seperti ini, akan susah bagi Indonesia untuk mencapai pemerataan pendapatan. Salah satu langkah jitu yang telah dilakukan pemerintah zaman sekarang adalah dengan mendistribusikan sertifikat lahan kepada para petani di pedesaan agar mereka tidak perlu mengabdi seumur hidup mengerjakan sesuatu yang bukan miliknya.

Ketiga, permodalan sangat sulit sekali bagi petani untuk mengembangkan usahanya agar produk petani tersebut bisa menguasai pangsa pasar dalam negeri. Diperlukan adanya kebijakan pemerintah dalam hal ini melalui Bank-bank nasional agar memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada petani ini agar inovasi yang mereka miliki bisa diterapkan di masyarakat.

Keempat, pemerintah harus mengkerdilkan kuasa tengkulak atas produk-produk petani. Selama ini produk pangan kita selalu dipermainkan oleh kuasa para tengkulak yang membeli hasil pangan dari petani dengan harga murah dan menjualnya lagi dengan harga mahal di pasar. Praktek seperti ini harus dihentikan lantaran tidak hanya memiskinkan petani dan masyarakat luas, namun juga mencengkram ekonomi Indonesia agar tidak mampu berdaulat. Maka dari itu, disinilah pemerintah harus berperan aktif dengan membeli produk pangan langsung dari petani dan menjualnya di pasar induk, tanpa perantara perusahaan swasta. Jika tidak ada campur tangan swasta, akan lebih mudah untuk menyesuaikan tarif dikala ada faktor-faktor eksternal seperti cuaca dan bencana alam yang mampu mempengaruhi harga produk pangan.

Kelima, perlu adanya kesinambungan antar kementrian dalam menggalakkan program ini. Dalam hal ini, kementrian pertanian dan kementrian ristekdikti bisa bekerja sama untuk menciptakan teknologi terbarukan yang dapat meningkatkan produksi petani. Dan juga membuat sektor industri pangan kita tidak ketinggalan dari negara lain.

Lalu, apa hubungan semua itu dengan santri? Santri adalah golongan pemuda yang masih memiliki jiwa kepemudaan dan jiwa kewirausahawan yang tinggi. Jika pemerintah menggaet pesantren di Indonesia untuk program ini, maka niscaya akan banyak anak-anak muda yang tertarik untuk mengembangkan industri pertanian kita. Merekalah tulang punggung generasi muda kita yang dapat memajukan sektor pertanian dalam negeri, dan menerapkan ilmu agama hablumminannas untuk lingkungannya sendiri. Dari mereka, kita bisa meregenerasi para petani yang sudah tua dan lansia yang tidak mampu bertani lagi. Kita manfaatkan pengetahuan mereka yang luas untuk diterapkan pada lingkungannya.

author IPNU Jakarta Utara

Nama saya Edmund Khovey dan saya adalah Pelajar NU dari Jakarta Utara. Saya non muslim yang tertarik dengan NU.

Komentar