OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Santri Sebagai Penggerak dan Benteng Pelajar Dalam Mengatasi Krisis Radikalisme di Indonesia

Oleh : Mochammad Yudha Bhakti

PC IPNU Kabupaten Jombang

Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa!

Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia kini sedang dalam masalah yang bisa dikatakan sangat serius. Seperti halnya banyak pelajar Islam yang berpacaran dan kadang berbuat yang tidak senonoh, bahkan mereka tidak segan-segan untuk mengunggahnya di media sosial. Kemudian permasalahan yang kedua adalah tentang gadget yang begitu menjadi raja bagi mereka-mereka, ibaratkan sehari saja tanpa gadget bagaikan sebulan tanpa makan.

Misalnya seperti tertera dalam data, berdasarkan Survey Lentera tahun 2015, sebanyak 45% jumlah remaja di Indonesia pada usia 13 hingga 19 tahun sudah merokok. Dan bahkan kita sering menjumpai banyak sekali berita di televisi yang menayangkan tentang kasus-kasus yang terjadi dikalangan pelajar. Seperti salah satunya adalah berita yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta yakni tentang gladiator pelajar yang menyebabkan kematian.

Namun dari beberapa masalah tersebut, terdapat masalah yang lebih serius yakni yang berkaitan dengan aqidah agama mayoritas penduduk kita yakni aqidah Islam. Pancasila sebagai dasar negara kita terancam hancur karena kepentingan-kepentingan kelompok yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam, karena Pancasila menurut mereka adalah suatu hukum yang bertentangan dengan hukum Allah SWT.

Ulama dan kyai sebagai orangtua santri ketika di pondok pesantren telah mengajarkan banyak hal terkait indahnya berkehidupan dengan penuh kedamaian, toleransi antar umat beragama, dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Indonesia merdeka bukanlah hal yang sangat mudah untuk dilakukan, butuh banyak sekali perjuangan dan pengorbanan baik berupa material ataupun immaterial, bahkan tak tanggung-tanggung nyawa pun akan dikorbankan.

Santri adalah bagian dari generasi muda Indonesia yang memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup negara republik Indonesia dan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita perjuangan ulama serta cita-cita bangsa Indonesia. Dimanapun dia berada harus dan memang suatu kewajiban dalam menjaga dan membentengi pelajar-pelajar Islam untuk tidak jatuh kedalam jurang permusuhan dan kebencian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pendidikan adalah bidang yang memang harus kita garap sebagai bidang yang sangat vital dalam rangka menanamkan nilai-nilai aqidah Islam yang sesuai dan tidaklah radikal seperti apa yang telah terjadi. Para santri harus mampu menyelami ruang batin dunia pendidikan kita. Tanggung jawab sejarah tersebut harus terus diperjuangkan jika tidak ingin organisasi kepelajaran ini dianggap latah dalam menghadapi tantangan global.

Lantas, dengan apa santri-santri akan bergerak? Paling tidak, santri mampu menjadi semangat perjuangan untuk mendapatkan hak-hak pendidikan bagi pelajar Indonesia.  Ideologi ahlussunnah wal jama’ah haruslah ditanamkan pada para pelajar Islam mulai sejak kecil. Karena masa kecil merupakan masa dimana anak akan mulai meniru dan mengingat-ingat dengan jelas apa yang telah diajarkan dalam kehidupannya.

Toleransi antar sesama manusia memanglah sangat penting kita jaga. Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, bahwasannya beliau ketika berperang melawan kaum kafir tidak menyerang dan menyakiti musuh yang telah tidak berdaya. Musuh-musuh tersebut bukanlah orang-orang yang beragama Islam dan pengikut Rasulullah SAW, tetapi beliau tetap memiliki rasa toleransi yang sangat luar biasa. Bahkan musuh-musuh tersebut diobati dan diberi makanan berupa roti.

Selain itu, pemuda Indonesia pada  tanggal 28 Oktober 1928 mendeklarasikan tentang kesatuan, persatuan dan keutuhan. Bahwasannya mereka bersumpah untuk berbangsa, berbahasa dan bernegara satu yakni Indonesia. Merefleksikan kembali peristiwa sumpah pemuda yang terjadi 83 tahun silam adalah bagian dari upaya menatap masa depan. Semangat kesatuan senasib sepenanggungan dan rasa memiliki tanah air menjadi alasan mengapa tercetusnya momentum sumpah pemuda. Kemudian nasionalisme adalah bekal para golongan muda masa itu untuk berhimpun dan bersatu dalam peristiwa heroik 28 Oktober 1928.

Peran penting dari seorang pemuda adalah pada kemampuannya melakukan perubahan. Seperti dikutip dari sebuah artikel yang dimuat oleh media Kompasiana bahwa “Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan suatu perubahan melahirkan sosok pribadi yang berjiwa optimis”.

Apa yang dapat diberikan pada negara tercinta ini tentu berbeda dengan masa 1928-an. Bila pada masa itu para pemuda mempertaruhkan nyawa dan raga untuk meraih kemerdekaan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan, kita tidak perlu lagi melakukannya. Wajar mengapa golongan muda selalu dielu-elukan sebagai ahli waris estafet perjalanan bangsa di masa yang akan datang. Sebab, generasi muda adalah golongan yang mampu berdiri atas idealismenya dan berjuang menurut sisi-sisi keidealan. Maka dari itu, kita sebagai generasi muda dan tentunya seorang santri harus dapat senantiasa menjaga dan melaksanakan amanat sejarah akan pentingnya rasa persatuan dan toleransi guna menanamkan benih-benih kecintaan kita terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam rangka menghalau radikalisme dan menjaga persatuan antar pelajar, maka disinilah kita harus mulai merancang suatu strategi jitu yang dapat membangun benteng ideologi Aswaja yang kokoh. Sehingga perlahan demi perlahan akan timbul rasa bahwa kehidupan ini sangatlah indah apabila tanpa radikalsime. Baru-baru ini banyak sekali aliran baru yang bermunculan yang membawa nama Islam tapi berjiwa teroris. Mereka jihad menggunakan bom dan kebanyakan mereka merekrut pelajar.

Dan sekali lagi peran santri disini adalah sebagai benteng agar kita mempunyai fondasi ajaran ahlussunnah wal jama’ah yang kuat sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh aliran-aliran baru tersebut. Untuk itu perlu sesegera mungkin diambil langkah yang memungkinkan dapat menangkal dan menghilangkan paham radikalime.

Berikut adalah langkah yang dapat kita lakukan sebagai santri yang peduli akan masa depan bangsa Indonesia, terutama dikalangan pelajar Islam Nusantara:

  1. Memperkenalkan Ilmu Pengetahuan dengan Baik dan Benar

Hal pertama yang dapat dilakukan untuk mencegah paham radikalisme dan tindak terorisme ialah memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan baik dan benar. Pengenalan tentang ilmu pengetahuan ini harusnya sangat ditekankan kepada siapapun, terutama kepada para generasi muda. Hal ini disebabkan pemikiran para generasi muda yang masih mengembara karena rasa keingintahuannya. Apalagi terkait suatu hal yang baru seperti sebuah pemahaman terhadap suatu masalah dan dampak pengaruh globalisasi.

Dalam hal ini, memperkenalkan ilmu pengetahuan bukan hanya sebatas ilmu umum saja, tetapi juga ilmu agama yang merupakan pondasi penting terkait perilaku, sikap, dan juga keyakinannya kepada Tuhan. Kedua ilmu ini harus diperkenalkan secara baik dan benar, dalam artian haruslah seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama. Sedemikian sehingga dapat tercipta kerangka pemikiran yang seimbang dalam diri.

2. Memahamkan Ilmu Pengetahuan dengan Baik dan Benar

Hal kedua yang dapat dilakukan untuk mencegah pemahaman radikalisme dan tindak terorisme ialah memahamkan ilmu pengetahuan dengan baik dan benar. Setelah memperkenalkan ilmu pengetahuan dilakukan dengan baik dan benar, langkah berikutnya ialah tentang bagaimana cara untuk memahamkan ilmu pengetahuan tersebut. Karena tentunya tidak hanya sebatas mengenal, pemahaman terhadap yang dikenal juga diperlukan. Sedemikian sehingga apabila pemahaman akan ilmu pengetahuan, baik ilmu umum dan ilmu agama sudah tercapai, maka kekokohan pemikiran yang dimiliki akan semakin kuat.

Dengan demikian, maka tidak akan mudah goyah dan terpengaruh terhadap pemahaman radikalisme sekaligus tindakan terorisme dan tidak menjadi penyebab lunturnya bhinneka tunggal ika sebagai semboyan Indonesia. Karena dengan pemahaman yang baik dan benar maka pemikiran seseorang tersebut akan sejalan serta sesuai dengan apa yang telah disampaikan.

3. Meminimalisir Kesenjangan Sosial di Kalangan Pelajar

Kesenjangan sosial yang terjadi juga dapat memicu munculnya pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme. Sedemikian sehingga agar kedua hal tersebut tidak terjadi, maka kesenjangan sosial haruslah diminimalisir, terutama dikalangan pelajar yang sejatinya mereka haruslah saling peduli satu sama lainnya. Apabila tingkat pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme tidak ingin terjadi, maka kesenjangan antar pelajar haruslah diminimalisir.

4. Menjaga Persatuan dan Kesatuan

Menjaga persatuan dan kesatuan juga bisa dilakukan sebagai upaya untuk mencegah pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme di kalangan pelajar, terbelih di tingkat Negara. Sebagaimana kita sadari bahwa dalam ranah sekolah pasti terdapat keberagaman atau kemajemukan. Oleh karena itu, menjaga persatuan dan kesatuan dengan adanya kemajemukan tersebut sangat perlu dilakukan untuk mencegah masalah radikalisme dan terorisme. Salah satu yang bisa dilakukan dalam kasus Indonesia ialah memahami dan menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, sebagaimana semboyan yang tertera disana ialah Bhinneka Tunggal Ika.

5. Mendukung Aksi Perdamaian

Aksi perdamaian mungkin secara khusus dilakukan untuk mencegah tindakan terorisme agar tidak terjadi. Kalaupun sudah terjadi, maka aksi ini dilakukan sebagai usaha agar tindakan tersebut tidak semakin meluas dan dapat dihentikan. Namun apabila kita tinjau lebih dalam bahwa munculnya tindakan terorisme dapat berawal dari munculnya pemahaman radikalisme yang sifatnya baru, berbeda, dan cenderung menyimpang sehingga menimbulkan pertentangan dan konflik. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah agar hal tersebut (pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme) tidak terjadi ialah dengan cara memberikan dukungan terhadap aksi perdamaian yang dilakukan.

6. Meningkatkan Pemahaman Akan Hidup Kebersamaan Dikalangan Pelajar

Meningkatkan pemahaman tentang hidup kebersamaan juga harus dilakukan untuk mencegah munculnya pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme. Meningkatkan pemahaman ini ialah terus mempelajari dan memahami tentang artinya hidup bersama-sama dalam bermasyarakat bahkan bernegara yang penuh akan keberagaman, termasuk Indonesia sendiri. Sehingga sikap toleransi dan solidaritas perlu diberlakukan, disamping mentaati semua ketentuan dan peraturan yang sudah berlaku dimasyarakat dan Negara.

Dengan demikian, pasti tidak akan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan karena kita sudah paham menjalankan hidup secara bersama-sama berdasarkan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan ditengah-tengah masyarakat dan negara. Terutama dikalangan warga yang memang dari kyai-kyainya dan ulama setempat telah banyak mengajarkan bahwa hidup dengan penuh rasa kebersamaan memanglah sangat indah dan inilah yang memang menjadi identitas dari umat Islam.

7. Memberi Pengetahuan Bahwa Kita Harus Menyaring Informasi yang Didapatkan

Menyaring informasi yang didapatkan juga merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme. Hal ini dikarenakan informasi yang didapatkan tidak selamanya benar dan harus diikuti. Terlebih dengan adanya kemajuan tekhnologi seperti sekarang ini, dimana informasi bisa datang dari mana saja. Sehingga penyaringan terhadap informasi tersebut harus dilakukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, dimana informasi yang benar menjadi tidak benar dan informasi yang tidak benar menjadi benar. Oleh karena itu, kita harus bisa menyaring informasi yang didapat sehingga tidak sembarangan membenarkan, menyalahkan, dan terpengaruh untuk langsung mengikuti informasi tersebut.

8. Mensosialisasikan Bahaya Radikalisme dan Terorisme

Mensosialisasikan disini bukan berarti kita mengajak untuk menyebarkan pemahaman radikalisme dan melakukan tindakan terorisme, namun kita mensosialisasikan tentang apa itu sebenarnya radikalisme dan terorisme. Sehingga nantinya akan banyak pelajar yang mengerti tentang arti sebenarnya dari radikalisme dan terorisme tersebut. Dimana kedua hal tersebut sangatlah berbahaya bagi kehidupan, terutama kehidupan yang dijalani secara bersama-sama dalam dasar kemajemukan atau keberagaman. Jangan lupa pula untuk mensosialisasikan tentang bahaya, dampak, serta cara-cara untuk bisa menghindari pengaruh pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme.

Harapan kita sebagai seorang santri dapat turut serta memberantas paham radikalisme yang mengancam kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Oleh karena itu, upaya pencegahan juga harus lebih ditekankan dan dilakukan kepada para generasi muda yang merupakan ujung tombak penerus bangsa di masa depan.

Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa!

Daftar Referensi

Panduan_HSP_ke_84_2012.pdf

http://www.kompasiana.com/yhoeldy/nilai-nilai-sejarah-pergerakan-pemuda-indonesia

http://www.kompasiana.com/simanungkalitrai/menangkal-radikalisme-penguatan-radikalisasi-pancasila-harus-dilakukan

http://surabaya.tribunnews.com

http://desminarsianturi.blogspot.co.id/2017/01/data-kenakalan-remaja.html

www.academia.edu/7388425/buku

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar