OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
OPINI 18/10/2017 8:27

Santri Zaman Now

Santri Zaman Now

“Hidup jauh dari keramaian, bahkan lebih cenderung seakan diasingkan. Saat kembali dituntut berjuang di barisan terdepan”. Mereka identik bersarung dan berpeci. Pakain ala kadarnya nyaris tak ada yang istimewa baginya. Bahkan tak jarang mereka dianggap buta tekhnologi. Pantaskah mereka menjadi generasi penerus masa depan bangsa?

Santri, generasi yang lahir dari lingkungan pesantren. Aktifitas 24 jam dalam sehari dipantau dan dibatasi dengan peraturan. Bukan keterbatasan berfikir dan berkarya melainkan keterbatasan pada sifat-sifat duniawi. Sistem pendidikan melalui kajian kitab kuning membentuk karakter santri berbeda dengan lainnya. Diantara karakter santri yaitu mandiri, pantang menyerah, tangguh dan lillahi ta’ala. Karakter yang melekat pada santri bukan hanya melalui proses belajar belaka, praktik keseharian menjadikan bukan hanya ilmu dipelajari tapi juga diamalkan.

Pendidikan karakter amatlah penting di era globalisasi saat ini. Pendidikan moral dan akhlak haruslah menjadi perhatian lebih. Melalui pendidikan akhlak yang matang seseorang akan terhindar dari perbuatan yang tidak diinginkan.

كَذَاكَ اَدَبْتُ حَتَّى صَارَ مِنْ خُلُقِى # اَنِّى وَجَدْتُ مَلَاكَ الشِّيْمَةِ الاَدَبُ

Artinya: “Dengan pendidikan seperti itulah aku dididik, sehingga hal tersebut menjadi akhlakku. Aku telah menemukan, sesungguhnya pembentukan akhlak itu benar-benar melalui pendidikan.” (Syarah Ibnu Aqil Ala Alfiyah ibni Malik, bab dzonna wa akhwaatuha)

Generasi penerus bangsa haruslah terdidik dengan jiwa, kepribadian, sikap jujur, bertanggungjawab, dan berjiwa nasionalisme. Santri sejak sebelum kemerdekan terbukti sebagai garda depan pejuang kemerdekaan. Pasca kemerdekaan santri senantiasa menjaga dan merawat perjuangan para pahlawan bangsa. Hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) bukan hanya diucapkan tapi direalisasikan dengan melawan sekte-sekte yang mencoba menghancurkan Indonesia.

Pengabdian pada masyarakat menjadi hal yang penting saat santri telah kembali ke negeri asal. Bukan hanya ilmu kitab kuning, keahlian dan keterampilan khas pesantren pun turut dipersembahkan pada masyarakat. Pengetahuan bukan untuk bekal masa depan belaka melainkan pula untuk hari ini. Ilmu bukanlah hanya yang dipelajari tapi apa yang bisa diberi dan diamalkan.

وَاعْلَمْ فَعِلْمُ الْمَرْءِ يَنْفَعُهُ # اَنْ سَوْفَ يَأْتِى كُلُّ مَا قُدِرَا

Artinya: “Ketahuilah, karena pengetahuan seseorang itu bermanfaat bagi dirinya, bahwa kelak akan datang semua yang telah dipastikan (Allah). (Syarah Ibnu Aqil Ala Alfiyah ibni Malik, bab inna wa akhwaatuha)

Santri di era milenial dituntut untuk melek dengan isu yang berkembang. Pendirian negara khilafah, full day school (FDS), dan isu kebangkitan PKI adalah contoh kecil dari apa yang terjadi pada saat ini. Selain harus peka pada isu diatas, santri harus melek dengan media. Kemajuan teknologi membuat dunia tak bersisi, dunia maya nampak seakan asli dan nyata.

Perkembangan teknologi haruslah dikuasai. Santri haruslah aktif mengisi situs jejaring media sosial dengan ilmu yang dimiliki. Gunakan teknologi untuk berdakwah. Sebagian besar media sosial kini dikuasai oleh faham radikal dan intoleran. Jika santri tidak bermedia sosial tentu isu-isu miring dan negatif di dunia maya tidak bisa dibendung.

“Sing waras ojo ngalah” dalam melawan penyebaran hoaks, tidak berlaku ungkapan “sing waras ngalah” begitulah ungkapan KH. Mustofa Bisri. Faham radikalisme dan intoleran menginginkan perpecahan terhadap bangsa Indonesia. Jika kita yang tidak menjaga, lalu siapa yang akan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini?

Selain faham radikal, terdapat pula aliran-aliran yang meresahkan umat seperti Wahabi, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Cirinya mereka gemar mengkafirkan golongan yang tak sepaham dan menganggap diri paling benar. Pengikut aliran Wahabi di Indonesia-pun cukup banyak. Promosi melalui televisi, jejaring sosial semisal youtube menjadikan mereka cepat eksis dan dikenal khalayak.

Santri zaman now dituntut bukan hanya bisa membaca kitab kuning. Kemajuan tekhnologi harus dikuasai agar dakwah bukan hanya pada lingkungan masyarakat sekitar, tapi bisa mencakup zona yang lebih luas. Era globalisasi santri harus kreatif, baik dalam bidang usaha maupun dakwah. Dakwah bisa melalui media sosial, sedangkan usaha bisa dengan menciptakan produk-produk kreatif. Pemasaran bukan hanya melalui pasar konvensional, melainkan melaui basis internet.

Santri jangan takut menjadi seorang pemimpin. Banyak tokoh pemimpin negeri ini yang asalnya santri seperti presiden ke-4 KH. Abdurrahman Wahid, menteri sosial Dra. Khofifah Indar Parawansa serta wakil Bupati Tegal Dra. Hj. Umi Azizah. Santri sosok ideal pemimpin bagi masyarakat, garda terdepan penjaga keutuhan NKRI dan generasi yang siap disegala kondisi dan situasi.

Oleh : Muhammad Afifudin/HF

 

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar