OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
SMP NU 01 BP Bojong, Full Day School Bukan Cuma 5 Hari

Tegal – Ditengah maraknya polekmik program Full Day Scholl (FDS) yang menetapkan sekolah lima hari, SMP Nahdlatul Ulama 01 Berbasis Pesantren Bojong menerapkan aturan yang berbeda. Bukan hanya 5 hari, tapi enam hari belajar dalam satu minggu. Kini SMP NU 01 BP Bojong memasuki tahun kedua dari tahun pendirian.

Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hikmah Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal ini bukan tanpa alasan menerapkan sistem FDS. Tuntutan masyarakat yang menginginkan agar anaknya bukan hanya sekolah tetapi juga belajar agama di ponpes menjadi alasan utama berdirinya sekolah ini. Ponpes Nurul Hikmah merupakan pesantren salaf yang fokus pada pengajian dan pendalaman kitab-kitab kuning. Pengajaran disiplin ilmu keagamaan menjadi ciri khas di pesantren yang berjalan kurang lebih 30 tahun ini.

Sistem pembelajaran yang diterapkan di Ponpes Nurul Hikmah terdiri dari 2 sistem yaitu klasikal dan nonklasikal. Melalui sistem klasikal santri dikelompokan perkelas sesuai tingkat dan kemampuan. Sedangkan untuk nonklasikal pengaajaran berupa pengajian bersama, sorogan kitab kuning maupun bandongan. SMP NU 01 BP Bojong menggabungkan sistem pendidikan umum dan pesantren. Sistem pendidikan umum digunakan seperti layaknya pada sekolah-sekolah umum yang lain. Sedangkan sistem pesantren diadopsi untuk melengkapi kebutuhan pendidikan keagamaan.

Kegiatan di sekolah ini berupa shalat Dhuha berjamaah, pembacaan Asmaul Husna, dan Tadarus Al Qur’an yang dilaksanakan pukul 06:45 s/d 13:40 WIB, sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai. Kegiatan KBM berlangsung hingga pukul 14:50 WIB. Setelah jamaah shalat Ashar, siswa melakukan rutinitas berupa pembacaan surat Al Waqiah dan pengajian kitab Fathul Qorib. Ba’da Maghrib dan Shubuh digunakan untuk pengajian pembacaan Al Qur’an. Ba’da Isya hingga pukul 21:00 WIB untuk belajar wajib yang kemudian dlanjut istirahat/tidur.

Rutinitas kegiatan yang padat menjadikan sekolah ini mewajibkan siswanya untuk mondok. “Kami sediakan asrama, karena yang sekolah disini harus mondok. Kami tidak menerima siswa yang tidak mau menetap di dalam pondok (laju)”  ungkap Kamal Fuadi (31) kepala sekolah di SMP NU 01 BP Bojong. Mata pelajaran diniyah yang masuk dalam kurikulum sekolah diantaranya Fiqih, Hadist, Bahasa Arab, Aqidah Ahklak, Ke-NU-an, Nahwu, dan Tajwid. Sarana prasarana  yang telah tersedia yaitu asrama, marching band dan komputer.

Hari sabtu adalah awal pekan dari kegiatan dan aktifitas sekolah dan berakhir di hari Kamis. Hari Jum’at merupakan pengganti hari libur, tetapi aktifitas yang padat membuat seakan sekolah ini full tanpa libur. Pagi hari siswa dilatih unruk peduli kebersihan lingkungan sekitar dengan kegiatan roan kubro. Pukul 08:00 WIB latihan marching band hingga pukul 10:30 WIB. Kegiatan pramuka menjadi sesi penutup kegiatan di hari Jum’at yang dilaksanakan sore hari. Kegiatan ekstrakurikuler pesantren berupa ziarah dan tahlil di kamis sore, malamnya pembacaan maulid nabi dan latihan khitobah. Latihan khitobah bertujuan untuk melatih mental santri ketika terjun di tengah mayarakat.

“Sekolah disini full nggak pernah libur. Memang Jum’at libur, tapi ada ekstra, jadi kaya nggak libur.”  ungkap Maslikhatun (14) siswi asal Suradadi, Kab. Tegal. “Meski jadwal padat tapi seneng sekolah disini. Justru kalau libur malah bikin nggak betah, karena jadi ingin pulang” ungkap Adji Assyidiqi (13) siswa asal desa Siwungkuk, Kec. Wanasari, Kab. Brebes.

Meski telah membuka sekolah umum, sejatinya Ponpes Nurul Hikmah tetap merupakan pesantren salaf. Asrama santri yang bersekolah di SMP NU 01 BP Bojong dengan santri yang hanya mondok saja pun berbeda.

Penerapan FDS ala pesantren dinilai lebih baik daripada FDS yang digagas oleh pemerintah terbukti dengan meningkatnya minat masyarakat pada pendidikan formal yang diselenggarakan dibawah naungan yayasan pondok pesantren. Di pesantren bukan hanya diajarkan pendidikan umum tapi pendidikan moral keagamaan juga menjadi pilar utama yang tak dapat dipisahkan.

“Tujuan didirikannya sekolah ini bukan lain karena ingin memenuhi keinginan masyarakat. Alhamdulillah masyarakat memberi respon positif. Tahun pertama kami menerima 50 siswa pada awal tahun, tapi hanya 43 siswa yang bertahan hingga akhir semester 2. Tahun kedua ada 95 pendaftar, tapi karena kita hanya baru menerima 2 kelas, akhirnya hanya 64 siswa yang kami terima. Kelas VIII saat ini ada 47 siswa karena adanya pindahan” ungkap Kamal Fuadi.

“Kami berharap semoga kehadiran sekolah ini bisa memberi manfaat bagi masyarakat, dapat menciptakan penerus bangsa yang bukan hanya mumpuni di bidang pendidikan umum, tapi juga mumpuni kerohaniannya. Kami berpesan kepada para siswa untuk mengikuti kegiatan dengan maksimal. Lebih baik hina karena mencari ilmu, daripada hina karena menjadi orang bodoh. Hina karena ilmu cuma sebentar, sedangkan hina karena bodoh itu selama-lamnya”  Kamal Fuadi menutup pembicaraan.

(M. Afifudin/HF)

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar