OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Strategi Salahuddin Al Ayubi Dan Kh Cholil Yahya Staquf
Kh.cholil Yahya Staquf Sedang Memberikan Kuliah Umum Di Ajc Israel
Oleh Al Jahil Ajang M Abd Jalil (Koordinator Departemen Dakwah dan Kajian PC IPNU Kab.Tasikmalaya)

Ketika membaca status2 fitnahan MCA terhadap KH Yahya Staquf yang begitu luar biasa hebatnya ketika datang menemui Israel dan beridialog di media masa, tiba tiba saya teringat sebuah film berjudul Kingdom Of heaven.

Saya teringat pada saat Sultan Salahuddin Al Ayyubi dari Pihak islam menemui King Baldwin IV dan pada saat Sultan Saladin berdialog pula dengan Balian, mereka berdialog disaksikan Masa yang sangat banyak. Tentunya mengenai tawar menawar dengan pihak lawan demi kemerdekaan yerussalem. Apakah ada yang nyinyir kepada Sultan? Tentu ada, kalau zaman now ya semacam MCA sekarang lah. Selalu menyudutkan dan memfitnah NU, serta menyerang Kiyayi NU.

Percakapan dengan Baldwin hasilnya adalah, penarikan pasukan Saladin dari pertempuran, karena Baldwin siap mengurus kasus yang menyinggung umat islam kala itu.

Intinya, Sultan Saladin menginstrruksikan supaya semua prajuritnya pulang ke tempat masing dan membatalkan acara peperangan agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan ini bukan satu dua kali yang dilakukan oleh beliau, dan pada akhirnya tidak jarang pula cemoohan dan fitnahan kepada Sultan bahwa Sultan adalah Antek kristen, antek pasukan salib dst.

inilah kecerdasan dan kepiawaian sultan, beliau lebih memilih jalan diplomasi dan sebisa mungkin menjauhi pertumpahan darah.

Begitupun dialog sang sultan dengan Balian, sang sultan meminta perundingan dengan Balian, pada dialog tersebut Saladin meminta kepada Balian untuk menyerahkan Yerusalem kepadanya, namun Balian menolak untuk menyerahkannya, karena di mata Balian, islam Radikal, keras, pembunuh, kalau zaman sekarang “ISLAM ITU TERORIS” Sederhananya seperti itu.

Tetapi apa jawaban Saladin, beliau menjawab dengan elegan serta memancarkan wibawa tinggi di hadapan Balian, Saladin berkata; “Aku tidak seperti mereka, aku Salahudin, Salahudin..” inipun sama dengan jawaban KH Cholil dalam percakapan tersebut, Islam NU bukan seperti Islam radikal, tetapi Islam Nusantara yang ramah.

Pada akhirnya tanah yerussalem diberikan kepada sang Sultan karena sang sultan dengan sebisa mungkin diambil tanpa resiko pertumpahan darah, janji “Islam yang damai”. Dan islam Toleran, Islam yang Rahmatan lil’alamin” yang akan di gaungkan itu, bukan sekedar slogan, tetapi semua lapisan masyarakat hidup dengan damai berdampingan.

Inilah kecerdasan dan kepiawaian sultan, untuk membentuk suatu kedaulatan islam yang ramah, bukan islam yang marah. Seliau lebih memilih jalan diplomasi dan sebisa mungkin menjauhi Radikalisasi dan menghindari segala upaya yang menjurus kepada pertumpahan darah.

Kira-kira yang dilakukan KH Cholil Staquf seperti itu, sebuah diplomasi dan sosialisasi islam yang damai, di samping itu, islam sangat menentang keras segala bentuk kekerasan dan terorisme dalam bentuk apapun dan siapapun, bahkan daro golongan islam itu sendiri.

author IPNU Kab. Tasikmalaya

Nama saya Husni Mubarok Addakh dan saya adalah Pelajar NU dariKab. Tasikmalaya

Komentar