OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Surat (nggak) “Sakti” Gus Dur

Oleh : Slamet tuhaeri

Minggu pagi, mari membaca sebuah cerita yang terjadi di Ponpes Tarbiyatut Tholabah, Lamongan. Cerita ini saya dengar dari Cak Abdullah Mas’ud, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Ponpes Tarbiyatut Tholabah, Lamongan. Menurutnya, peristiwa ini terjadi sekitar awal 2005 di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Muhammad Baqir Adlan tersebut. Perlu diketahui bahwa K.H. Muhammad Baqir Adlan adalah salah satu gurunya Gus Dur. Letak pesantren ini berada di Desa Kranji, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Nah, kalau mungkin pernah baca cerita tentang “surat sakti” Gus Dur, maka kali ini saya akan menceritakan tentang “Surat Nggak Sakti”nya Gus Dur.

Jadi, suatu ketika, pasca terjadi musibah Tsunami di Aceh pada akhir 2004, Ponpes tersebut mengadakan acara do’a bersama untuk korban Tsunami Aceh. Selain acara doa bersama, juga digelar pelantikan pengurus ikatan alumni pesantren. Dalam acara itu, pihak pesantren mengundang Gus Dur untuk menjadi pembicara. Bahkan, panitia datang langsung ke Jakarta untuk bertemu dan menyampaikan undangan.

Karena yang mengundang adalah gurunya sendiri, maka Gus Dur pun mengiyakan permintaan tersebut. Namun sayang, menjelang digelarnya acara, Gus Dur sakit dan menurut dokternya, ia tidak boleh ke luar kota sampai menunggu kesehatannya pulih.

Gus Dur pun mengikuti arahan dokter dan dengan berat hati ia batal hadir ke acara doa bersama untuk mengisi ceramah. Karena tak enak hati, Gus Dur mengutus Inayah, putri bungsunya untuk hadir ke Lamongan. Inayah pun mengikuti perintah Gus Dur dan datang ke acara tersebut.

“Saya disuruh Bapak untuk hadir, ngormati acara ini,” ucap Mbak Inayah kepada KH. Baqir Adlan. Meski tanpa kehadiran Gus Dur, acara doa bersama tetap berjalan dengan lancar.  Kini tibalah saatnya acara mauidhoh hasanah yang seharusnya disampaikan oleh Gus Dur.

Alhasil, KH. Baqir Adlan pun menelepon Gus Dur karena melihat antusiasme para hadirin yang didominasi oleh santri yang ingin sekali mendengarkan ceramah dari Gus Dur. Demi mengobati kerinduan para santri pun, Gus Dur bersedia menyampaikan ceramahnya melalui teleconference yang disambungkan ke pengeras suara agar bisa didengarkan seluruh hadirin. Meski Gus Dur menyampaikan ceramahnya dari kediamannya di Ciganjur, Jakarta, namun kerinduan para hadirin pun bisa terobati.

Setelah rangkaian cara usai termasuk ceramah dari Gus Dur, Inayah berpamitan dan memberikan sebuah surat titipan dari Gus Dur yang ditujukan kepada KH. Baqir Adlan. Kemudian, Inayah pun pergi meninggalkan lokasi acara. Tak lama berselang, KH. Baqir Adlan segera membuka surat dari Gus Dur yang masih terbungkus rapat itu. Dan betapa kagetnya KH. Baqir ketika membaca isi suratnya yang kurang lebih isinya: “Mohon maaf Kiai, saya tidak bisa hadir karena kurang sehat. Saya sudah mengutus Inayah untuk menggantikan saya ngisi mauidhotul hasanah.”

KH. Baqir pun tertawa setelah membaca surat itu. Begitu pula dengan para alumni santri yang masih di kediaman beliau. Salah satunya Cak Abdullah Mas’ud. Ternyata Gus Dur masih kalah “cerdik” dengan Inayah. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Mbak Inayah ngasih suratnya setelah acara selesai??? Hehehehe…. 1-0 untuk Mbak Inayah. Untuk guru kita, Gus Dur, lahul fatihah….

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar