You are here
NEWS PESANTREN WARTA 

Tebuireng Terima 4 Santri Bule dari The King’s College New York


Jombang – Setidaknya ada empat mahasiswa dari The King’s College (TKC), New York, Amerika Serikat yang “diterima” sebagai santri di Pesantren Tebuireng Jombang. Hal tersebut sebagai buah dari kerja sama yang telah dilakukan tahun sebelumnya, dan mereka akan mempelajari sistem pendidikan Islam dan pesantren di Indonesia.

Keempatnya adalah Rachel Cline, Cassidy Fahey, Stuart Clay, dan Nick Gulley. “Mereka juga didampingi satu orang dosen pembimbing bernama Robert Dwight Carle,” kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng Abdul Ghofar, Kamis (18/5).
Menurut Gus Ghofar, selama di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari tersebut, mereka akan berdiskusi tentang beragam topik, mulai dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, peran Tebuireng dalam perjalanan bangsa Indonesia, hingga sistem pendidikan dan metode pembelajaran di pesantren. Sehingga yang dikunjungi nantinya tidak semata Pesantren Tebuireng.
Yang menarik, menurut Gus Ghofar, adalah keseriusan mereka untuk mengikuti tradisi santri. “Hari pertama, mereka berjuang keras untuk belajar memakai sarung sebelum sowan kepada KH Salahuddin Wahid. Karena butuh waktu untuk belajar memakai sarung itu, agenda sowan di Dalem Kasepuhan sampai harus tertunda lebih dari setengah jam,” ungkapnya.
Dalam beberapa kegiatan diskusi, mereka juga memilih pakai sarung. Seperti saat mengunjungi Madrasah Muallimin dan Madrasatul Quran Tebuireng. “Dua mahasiswi yang ikut juga selalu memakai kerudung layaknya santriwati,” imbuh lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini.
Saat berkunjung ke Madrasatul Quran Tebuireng, rombongan mahasiswa dari kampus Kristen di New York ini terkesan dengan sistem pembelajaran tahfidz yang diterapkan. “Melihat mereka saling menyimak bacaan (Al-Qur’an) temannya, menurut saya adalah sesuatu yang mengesankan,” ujar Nick Gulley, salah seorang mahasiswa.
Robert D. Carle, guru besar teologi dan sejarah agama-agama yang mendampingi rombongan mahasiswa mengungkapkan, pihaknya ingin mendalami Islam Indonesia karena karakternya yang toleran dan moderat.
“Selama ini, banyak orang hanya melihat Timur Tengah sebagai representasi dunia Islam. Padahal Islam Indonesia yang ramah dan toleran justru bisa menjadi alternatif,” ungkap pria yang akrab dipanggil Bob ini.
Selain berkunjung ke Tebuireng, rombongan juga akan mengunjungi situs-situs bersejarah yang menjadi bukti toleransi antarumat beragama di Indonesia. Seperti GKJW Mojowarno, Gereja Pohsarang Kediri, serta beberapa candi dan Maha Vihara di Trowulan Mojokerto.
Selain itu, rombongan juga akan berkunjung ke Makam Bung Karno di Blitar, serta Pesantren Baitul Quran di Mojokerto dan Pesantren Gontor Ponorogo. “Terakhir, mereka akan menikmati pemandangan di Bromo saat sunrise,” tambah Gus Ghofar.
Sebelum kunjungan ini, dua profesor dari TKC telah mengunjungi Pesantren Tebuireng akhir Juli 2016 lalu. “Mereka akan mengirimkan 4-5 mahasiswanya untuk belajar tentang Islam di sini. Tahun berikutnya, kemungkinan kami yang akan mengirimkan santri ke sana,” tutur KH Salahuddin Wahid di Dalem Kasepuhan Tebuireng, saat menerima kunjungan Robert D. Carle dan Anthony B. Bradley tahun lalu.
Menurut Gus Ghofar, rencana semula memang akan ada lima mahasiswa yang ikut dalam rombongan. “Tapi, seminggu sebelum keberangkatan, satu orang mahasiswa membatalkan keberangkatan karena salah satu anggota keluarganya wafat,” jelasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)
Setidaknya ada empat mahasiswa dari The King’s College (TKC), New York, Amerika Serikat yang “diterima” sebagai santri di Pesantren Tebuireng Jombang. Hal tersebut sebagai buah dari kerja sama yang telah dilakukan tahun sebelumnya, dan mereka akan mempelajari sistem pendidikan Islam dan pesantren di Indonesia.
Keempatnya adalah Rachel Cline, Cassidy Fahey, Stuart Clay, dan Nick Gulley. “Mereka juga didampingi satu orang dosen pembimbing bernama Robert Dwight Carle,” kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng Abdul Ghofar, Kamis (18/5).
Menurut Gus Ghofar, selama di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari tersebut, mereka akan berdiskusi tentang beragam topik, mulai dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, peran Tebuireng dalam perjalanan bangsa Indonesia, hingga sistem pendidikan dan metode pembelajaran di pesantren. Sehingga yang dikunjungi nantinya tidak semata Pesantren Tebuireng.
Yang menarik, menurut Gus Ghofar, adalah keseriusan mereka untuk mengikuti tradisi santri. “Hari pertama, mereka berjuang keras untuk belajar memakai sarung sebelum sowan kepada KH Salahuddin Wahid. Karena butuh waktu untuk belajar memakai sarung itu, agenda sowan di Dalem Kasepuhan sampai harus tertunda lebih dari setengah jam,” ungkapnya.
Dalam beberapa kegiatan diskusi, mereka juga memilih pakai sarung. Seperti saat mengunjungi Madrasah Muallimin dan Madrasatul Quran Tebuireng. “Dua mahasiswi yang ikut juga selalu memakai kerudung layaknya santriwati,” imbuh lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini.
Saat berkunjung ke Madrasatul Quran Tebuireng, rombongan mahasiswa dari kampus Kristen di New York ini terkesan dengan sistem pembelajaran tahfidz yang diterapkan. “Melihat mereka saling menyimak bacaan (Al-Qur’an) temannya, menurut saya adalah sesuatu yang mengesankan,” ujar Nick Gulley, salah seorang mahasiswa.
Robert D. Carle, guru besar teologi dan sejarah agama-agama yang mendampingi rombongan mahasiswa mengungkapkan, pihaknya ingin mendalami Islam Indonesia karena karakternya yang toleran dan moderat.
“Selama ini, banyak orang hanya melihat Timur Tengah sebagai representasi dunia Islam. Padahal Islam Indonesia yang ramah dan toleran justru bisa menjadi alternatif,” ungkap pria yang akrab dipanggil Bob ini.
Selain berkunjung ke Tebuireng, rombongan juga akan mengunjungi situs-situs bersejarah yang menjadi bukti toleransi antarumat beragama di Indonesia. Seperti GKJW Mojowarno, Gereja Pohsarang Kediri, serta beberapa candi dan Maha Vihara di Trowulan Mojokerto.
Selain itu, rombongan juga akan berkunjung ke Makam Bung Karno di Blitar, serta Pesantren Baitul Quran di Mojokerto dan Pesantren Gontor Ponorogo. “Terakhir, mereka akan menikmati pemandangan di Bromo saat sunrise,” tambah Gus Ghofar.
Sebelum kunjungan ini, dua profesor dari TKC telah mengunjungi Pesantren Tebuireng akhir Juli 2016 lalu. “Mereka akan mengirimkan 4-5 mahasiswanya untuk belajar tentang Islam di sini. Tahun berikutnya, kemungkinan kami yang akan mengirimkan santri ke sana,” tutur KH Salahuddin Wahid di Dalem Kasepuhan Tebuireng, saat menerima kunjungan Robert D. Carle dan Anthony B. Bradley tahun lalu.
Menurut Gus Ghofar, rencana semula memang akan ada lima mahasiswa yang ikut dalam rombongan. “Tapi, seminggu sebelum keberangkatan, satu orang mahasiswa membatalkan keberangkatan karena salah satu anggota keluarganya wafat,” jelasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Related posts

Leave a Comment