OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
Ternyata, Hukum Mudik itu Seperti ‘Haji’ !!!

Oleh : Slamet Tuhari

Sekali-kali saya akan membahas tentang mudik dalam perspektif Islam. Biar kaya orang sebelah, apa aja dihubungkan sama agama. Sampai-sampai saya pernah baca sebuah artikel tentang Mudik dalam pandangan Islam yang kesimpulannya bahwa mudik itu tidak ada perintahnya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Ya bener sih, tapi cobalah dipikir lagi, apakah segala sesuatu diatur dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara spesifik?

Sambil baca, sambil tak pikir, “ya iya lah, moso al-Qur’an dan as-Sunnah bicara spesifik tentang mudik, memang di Arab ada mudik lebaran? Kecuali kalau Nabi turun di Indonesia, mungkin ada perintah mudik.”Jangankan perintah mudik, lha wong rukun shalat saja ngga ada di al-Qur’an. Jadi, yang harus diketahui juga bahwa mudik itu asalnya dari bahasa Jawa “mulih ndisik” atau “mulih ndhilik” yang artinya pulang dulu. 

Nah, lalu apa hukumnya mudik dalam persepktif Islam? Menurut saya, hukum mudik itu seperti haji. “Wajib bagi yang sudah mampu.” Kenapa begitu, karena di dalam mudik ada unsur mempererat tali silaturahim antar keluarga dan semua umat Islam. Di dalamnya juga termasuk ada tradisi saling maaf-maafan, yang seharusnya maaf beneran bukan maaf-maafan. Hehehe…

Bagaimana dengan yang tidak mampu untuk melakukan mudik? Tentu saja, bagi yang tidak mampu hukumnya tidak wajib. Kemampuan ini, dalam artian kemampuan melakukan perjalanan yang salah satunya menjadikan kemampuan fisik sebagai salah satu syaratnya. Jadi kalau kondisinya tidak sehat, atau lagi sakit ya ngga usah dipaksakan mudik. Dalam kaidah fiqihnya “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih,” yang artinya mencegah kemudaratan lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan. Intinya, kalau kondisi fisik tidak memungkinkan tidak usah dipaksa, karena akan membahayakan bagi diri sendiri.

Selain mampu secara fisik, syarat mampu ini seperti halnya haji adalah mampu secara finansial. Ini menjadi faktor yang penting karena untuk melaksanakan mudik, dibutuhkan biaya. Baik sebelum, selama dan setelah mudik. Sebelum mudik butuh persiapan untuk beli tiket. Tentu harga tiket kalau musim mudik tidak seperti biasanya. Mau itu bus, kereta, kapal apalagi pesawat. Kecuali, naiknya odong-odong, tiga lagu tarifnya cuma lima ribu rupiah. Hehehe…. Tapi khan ini mau mudik, bukan mau ke pasar malam, jadi meskipun murah, odong-odong tidak bisa dijadikan alternatif transportasi.

Selama mudik anda juga butuh uang untuk makan dan minum diperjalanan dan jangan lupa angpao untuk keluarga. Hehehe…. itung-itung itu bagian dari sedekah. Karena kita pernah jadi anak kecil, dan yang ditunggu-tunggu saat lebaran itu selain baju baru ya angpao. Jadi karena sekarang sudah tua ya gantian. Adapun setelah selesai mudik, anda juga harus memiliki kemampuan finansial untuk memastikan pulang lagi ke tempat anda bekerja. Syukur-syukur, orang tua ditinggalin, jangan malah minta sangu untuk berangkat. “Opo ora isin?”  Sudah pulang cuma bawa 1 kaleng biskuit Sun Go Khong, giliran berangkat sama orang tua dibawain beras setengah kwintal, ayam lima ekor, belum termasuk sayur-mayur, kalau perlu bumbu dapur juga dibawain. Eh,, masih minta sangu buat balik ke tempat kerja. Kata Bang Haji, “Terlalu!!!”

Nah, kalau kemampuan fisik dan finansial ini tidak kita miliki, maka akan lebih baik anda menunda rencana mudiknya di lain waktu. Tapi resikonya ya tidak ikut merasakan grengnya idul fitri, opor ayam sudah habis, ketupat sudah ngga segi empat lagi, suara mercon sudah berubah jadi merdu, dan kembang api sudah tidak lagi bermekaran di langit malam.  

Lalu apa bedanya antara haji dan mudik? Bedanya, jika wajibnya haji itu sekali seumur hidup, kalau mudik lebih sering lebih afdol. Tapi ingat, sekali lagi, jika tidak mampu maka kembalikan pada kaidah  fiqh “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih,” yang artinya mencegah kemudaratan lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan. Jangan sampai, demi mudik kita menghalalkan segala cara yang justru akan beresiko pada diri kita sendiri. 

Oh, ya Nabi itu dulu juga pernah mudik lho, kalau arti mudik seperti yang kita pahami mulih ndisik. Kapan? Ketika Fathu Makkah tanggal 10 Ramadhan 8 H. Sebelumnya beliau berhijrah ke Madinah, dan akhirnya pada 10 Ramadhan 8 H beliau dan umat Islam ‘mudik’ ke Mekkah, tapi kemudian Nabi kembali lagi ke Madinah. Itu contoh, bahwa kalau mudik itu ya balik lagi bukan terus menetap di kampung. Karena kalau menetap namanya pulang kampung bukan mudik alias mulih ndisik. 

Dan satu syarat wajib yang harus dipenuhi oleh seorang pemudik adalah “pastikan anda memiliki kampung halaman!!!” Kalau ngga ada, terus mudiknya mau kemana? Hehehe…. Terimakasih.

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar Berjuang Bertaqwa

Komentar