You are here
CABANG WILAYAH 

Tolak FDS, Ketua PW IPNU Jawa Barat Siap Laksanakan Perintah Kiai


Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017 Tentang Hari Sekolah menuai kecaman dan penolakan. Ketidaksukaan itu ditunjukkan oleh beberapa elemen, lembaga, dan organisasi yang ingin menyelamatkan eksistensi madrasah diniyah dan pondok pesantren. Sebab, disana penguatan karakter keagamaan dilakukan.

 

Pengurus PW IPNU Jawa Barat secara tegas menolak Full Day School (FDS) atau Lima Hari Sekolah (LHS) dengan 8 jam dalam sehari. Ketua PW IPNU Jawa Barat menilai bahwa FDS belum jelas arah, tujuan, dan hasilnya. Karena tidak memiliki hubungan antara pembentukan karakter dengan kuantitas waktu di sekolah.

 

Selain itu, dia menambahkan, keberadaan FDS akan mematikan madrasah dan pesantren secara sistemik. Dengan tegas, dia menolak Permendikbud nomor 23 tahun 2017 itu dan siap melakukan konsolidasi kepada seluruh pelajar se-Jawa Barat untuk melakukan aksi penolakan. Baginya, hal itu sudah menjadi ketentuan mutlak untuk melontarkan aspirasi dalam mewujudkan nilai keadilan dan kemaslahatan.

 

Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat edaran kepada seluruh warga NU, baik kultural maupun struktural, untuk merespon wacana FDS itu. Menanggapi hal tersebut, Ziyad merasa mendapat kewajiban untuk bertindak sesuai instruksi.

 

“Apa pun perintahnya, dalam kondisi apa pun, kami akan siap melaksanakan perintah dari kiai. Karena bagi IPNU, perintah kiai adalah perintah yang harus dilaksanakan karena merupakan hal yang penting. Apalagi ini dawuh kiai yang berkaitan dengan madrasah dan pesantren,” kata Ziyad saat ditemui usai Halaqah yang membahas terkait FDS di Kantor PWNU Jawa Barat, Lingkar Selatan, Lengkong, Kota Bandung, pada Sabtu (12/7) siang.

 

Ziyad mengimbau, jangan pernah melupakan sejarah tentang madrasah dan pesantren. Karena sejarah telah membuktikan bahwa keduanya merupakan aset terbesar sekaligus tempat perjuangan bangsa Indonesia.

 

“Madrasah dan pesantren sebagai pewaris nilai-nilai keagamaan, sosial-budaya, dan nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Karena di kedua tempat itu, kita dicetak untuk menjadi kader agama, bangsa, dan negara,” tutupnya.

Related posts

Leave a Comment