• November 21, 2020
  • syakirnf
  • 0

Wapres RI Ungkap Peran IPNU untuk Siapkan Pemimpin Masa Depan

Bogor, Media IPNU

Sebagai salah satu organisasi badan otonom di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) memiliki peran sangat besar dalam memberikan kontribusi maksimal untuk mencapai Indonesia emas pada 2045 kelak.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) KH Ma’ruf Amin dalam sambutan membuka agenda Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) IPNU secara virtual, pada Jumat (20/11).

Dikatakan Kiai Ma’ruf, IPNU adalah organisasi pelajar terbesar di Indonesia yang saat ini terdiri dari 5,6 juta anggota, 415 Pimpinan Cabang di kota/kabupaten, dan 27 Pimpinan Wilayah di tingkat provinsi di seluruh Indonesia.

Menurutnya, data tersebut sangat penting karena IPNU menjadi kelompok strategis dari anak bangsa Indonesia. Dengan jumlah kader yang merata di berbagai daerah, ditambah hirarki organisasi yang tersusun rapi dari pusat hingga ranting di tingkat desa, IPNU punya peran penting untuk mempersiapkan generasi muda.

“Terutama persiapan generasi muda untuk menjadi calon pemimpin bangsa di masa depan,” katanya.

Lebih jauh, ia mengutip sebuah kaidah yang sangat terkenal di kalangan NU yakni al-muhafadzhatu ala qadimish-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Artinya, menjaga nilai tradisi lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik.

“Paradigma itu menggambarkan bahwa NU, melalui IPNU, harus menjaga tradisi. Kemudian mengawal kebiasaan-kebiasaan yang baik tapi juga harus melakukan transformasi untuk mengambil hal-hal baru yang lebih baik walaupun datangnya dari luar,” tutur Kiai Ma’ruf.

Namun menurutnya, paradigma tersebut belum cukup. Karena itu, NU tidak hanya menjaga tradisi dan melakukan transformasi. Kiai Ma’ruf menegaskan, NU juga harus melakukan inovasi, perbaikan, dan perubahan.

“Maka itu saya tambahkan satu paradigma lagi yaitu al-ishlah ilaa maa huwal ashlah, tsummal ashlah fal ashlah. Melakukan upaya perubahan dan perbaikan kepada yang lebih baik dan secara terus menerus lebih baik untuk melakukan inovasi secara berkelanjutan,” tegasnya.

Kiai Ma’ruf melanjutkan bahwa hal tersebut menjadi tugas NU, khususnya IPNU, untuk memajukan bangsa di semua sektor. Salah satunya adalah sektor pendidikan karena menjadi salah satu prioritas pembangunan.

“Pendidikan juga merupakan amanat konstitusi yakni mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Inilah amanah yang harus kita wujudkan dan perjuangkan, karena pendidikan hakikatnya adalah investasi jangka panjang dan menjadi kunci kemajuan peradaban bangsa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, juga secara virtual, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan seluruh kader IPNU untuk senantiasa dinamis dan progresif menghadapi tantangan zaman. Terlebih kader-kader IPNU merupakan pelanjut organisasi NU di masa yang akan datang.

“IPNU yang memegang estafet menerima amanah keberlangsungan NU di masa depan sesuai dengan kebutuhan zaman,” katanya.

Hal itu sesuai dengan bahasa yang digunakan Allah dalam Al-Qur’an. Kiai Said menyampaikan bahwa Al-Qur’an selalu menggunakan fiil mudari dalam hal-hal tertentu, seperti dalam pemahaman agama dan dakwah.

Artinya, Kiai Said menegaskan harus aktual. Misalnya saja, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu menyebut, Al-Qur’an Surat At-Taubah (9) ayat 122, liyatafaqqahu fiddin wa liyundziru qaumahum.

“Tugas tafaqquh fiddin harus menjawab tantangan zaman, harus sesuai tantangan zaman. Begitu juga metode dakwah, harus diperbaharui, harus ditemukan ide-ide baru.” Katanya.

Lebih dari itu, Kiai Said berharap kader IPNU harus progresif dalam mewujudkan peradaban dan kebudayaan yang lebih kuat. Tidak saja adaptif dengan temuan baru, tetapi membuat temuan baru tersebut.

“Kitalah yang menemukan temuan-temuan baru. Minimal dari luar, kita mampu adaptasi,” ujar kiai yang pernah mengenyam studi pesantren di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan Krapyak, Yogyakarta itu.

Hal tersebut merupakan bagian dari amanat ijtihadiyah, amanat yang mendorong dan mengharuskan kita cerdas, dinamis, progresif, dan tidak boleh berhenti. “Harus selalu mempunyai gagasan baru. Itu namanya ijtihadiyah. Dari sinilah, kita mampu membangun,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia kembali menegaskan bahwa generasi IPNU harus dinamis dan progresif terkait zaman. Hal itu bisa dilakukan dengan membangun jejaring lintas budaya, agama, dan negara. Lalu, yang tak boleh ketinggalan adalah profesionalisme dan akuntabilitas.

“Semua pimpinan IPNU harus punya semangat tanggung jawab atas keberlangsungannya IPNU,” kata kiai kelahiran Cirebon itu.

Selain amanat yang bersifat ijtihadiyah, amanat lain yang diemban NU adalah amanat agama. amanat ini berisi dua hal, yakni aqidah keyakinan teologi dan syariah, ritual, ibadah.

“Aqidah syariah kita sudah selesai, tidak usah lagi diperbincangkan. Apapun suara orang yang tidak senang, tidak usah didengar. Kalau prinsip kita taqlid kepada Imam Asy’ari, Imam Syafi’i, dan Imam Ghazali,” katanya.

Untuk diketahui, Rapimnas IPNU yang bertema ‘Satu Tekad Pelajar NU Bangkit, Mandiri, Maju’ ini diselenggarakan di Aquarius Orange Resort, Cisarua, Bogor, hingga Ahad (22/11) lusa.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan sangat ketat. Para peserta Rapimnas terlebih dulu dites rapid sebelum memasuki ruangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Pembukaan Rapimnas dimeriahkan oleh paduan suara dari Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Kabupaten Bogor dan penampilan tari dengan latar musik sunda dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Bogor.

Pembukaan Rapimnas ini juga dihadiri secara virtual oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua DPR RI H Abdul Muhaimin Iskandar. Acara ini ditutup dengan doa oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor KH Bundari Abbas.

Pewarta: Aru Lego Triono