OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
OPINI 12/10/2017 9:59

Warta Langit

Warta Langit

Oleh: Arga Ramadhan Setyo Nugroho

Mantan Komandan DKC CBP Wonosobo

Langit sore begitu jingga, burung gereja bertolak ke timur kembali ke kandangnya disela-sela atap gedung kota. Di paruhnya membawa sepucuk beras atau biji agung untuk bayi-bayinya yang masih berumur dua hari. Di sudut lain, halte bis kota penuh berhimpit bercengkrama, termangu-mangu pedagang asongan promosi productnya. Mahasiswa menancapkan headset di kupingnya tak mau tahu di sekilingnya. Pengemis duduk mengusap keringat yang mengembun di dahi dan pipinya. Pengamen menyetel suara gitarnya agar ketika konser external lebih nadawi dan nyaring.

Jalan protocol Jend. Ahmad Yani begitu dominan dengan sepeda motor yang melaju lurus dengan kecepatan yang dipantaskan agar tidak menabrak deretan truk pengangkut pasir dengan bemper yang mengandung pesan moral nan etis “Pulang Malu Tak Pulang Rindu.Aktivitas manusia di sore bercampur aduk menjadi satu ditikari trotoar dan jalan raya, dipagari tembok kota dan pedagang kaki lima disisinya, diatapi daun beringin yang mendarat tertiup maruta.

Turem dan rekan-rekannya sangat bahagia hari ini. Setelah kerja seharian, ia dan teman–temanya melepas lelah di terowongan jembatan beton. Rasa syukurnya kepada tanah surga terlintas jelas digaris hidupnya. Hitam mukanya menandakan tekat hidupnya tinggi, mengkilat punggungya dihujani keringat menandakan sang pekerja keras. Di tanah surga ini, Turem masih mampu menggali berlian walaupun dalam bentuk rongsokan. Bagi dirinya, itulah seni karena hidup butuh seni. Seni alat untuk mendapatkan uang, uang seni untuk hidup, rongsok seni tak teranggukkan. Kata adik Turem yang bernama Markonah, “Seni itu kencing!!!!.”

Gemuruh atap rumah mereka gemblodak, truk lalu-lalang, klakson berteriakan, ambulan minta didahulukan namun berpapasan dengan truk, nguingg!!! nguing !!! Pemadam kebakaran diarah yang berlawanan, seketika jalan macet berantakan, didalam ambulan pasien hampir wasallam. Keluarganya panik tak karuan ingin membacakan do’a namun tidak hafal karena bukunya ketinggalan di rumah. Perawat menopang agar bersabar, inilah yang kita sebut emergency kawan.

Dibawah jembatan, anak udik bergigi gingsul sedang cengengesan menarik senar layang-layang tak mau tau urusan diatas, kesusahan bergentayangan. Di ujung lorong, Turem sedang menyuapi adiknya dengan ayam kremes bekas dimakan orang hasil temuannya di tong sampah depan Restaurant Ayam Kampoeng. Sudah menjadi kewajiban baginya menjadi kakak sekaligus ibu bagi adiknya, karena bapaknya minggat, ibunya mati saat ia kelas dua SMA.

Teringat momen masalalu yang meremukkan jantungnya, kering hidupnya seakan pasifik tiada airnya lagi. Banjir air matanya hampir setiap hari, seperti sahara disiram tsunami. Bangku sekolah menguap di kepalanya, rumah milik orangtua disita negara, bersyukur masih ada rumah kedua tempat kami hidup yaitu jalanan.

Semua menjadi saudara, dari tukang bakso, tukang semir sepatu, pedagang lap, pedagang cilok, pedagang ketoprak, pengamen, pedagang kue terangbulan, pedagang mie ayam, pedagang cendol, tukang sulap alibi, cleaning service, pedagang pakaian dalam, pedagang gulali, pedagang es gosok  flavor orson lima ratusan, pedagang tahu bulat, manol, tukang ojek, tukang cukur, maling, rampok, begal, satpam, tukang las, dan tukang rongsok.

Tak lupa karibnya, Kokoh Mahmud Estafet (Komet), Tohar Imadudin alias Tarim, Parto Eri Triyadi alias Patet, dan Burhan Siantap alias Busi. Ada juga kakak beradik yang kemanapun selalu bersama bak sandal jepit  yaitu Taharun Nanda dan Kiwil Prakoso atau lebih yuridis  disebut secara konstitusi “Tahanan KPK”. Dan preman yang garang  tersohor di pasar Sapulak,  namun baik hati karena ketika temannya meriang  ia rela memijit punggung rekannya tanpa memandang suku, bangsa, agama, dan golongan, namanya Sapari Udin  Jaya Gatra, alias Sapujagat. Tak kalah canggih, Turem memiliki nama asli yang gagah yaitu Tugino Redi Memori, sebuah komunitas yang tak diizinkan pemerintah namun dirindukan habitat.

Akhir drama, gemrubyuk sore itu ditandai turunnya layang-layang si bocah gingsul. Sore ini menang tarung di udara tiga kali, laying-layang silver hitamnya yang dinamai “Jet Collet” memborbadir musuhnya, agaknya seperti drama Pearl Harbor hingga senar gelasnya luntur karena gesekan pertarungan sengit. Lambat namun pasti, matahari sudah lelap dibungkus gulita.

Turem selesai bersih-bersih di sungai dan kembali ke gubuknya yang luasnya tiga kali empat meter, dengan tembok sepanduk bekas, berwarna-warni coraknya. Samping kanan terdapat tulisan “Kredit Motor Murah” dengan icon Valentino Rossi mengacungkan jempol kepada pemirsa.  Sisi kiri, dengan wallpaper  warna merah terdapat gambar Gita Gutawa tertawa, membawa megafon seakan bersabda: “Promo!!!! Sabun colek murah beli dua gratis satu” dan sebagai pintunya terdapat spanduk bergambar manusia yang selalu tersenyum agar orang tidak meriang masuk kedalam gubuk illegal yang sewaktu-waktu siap dibombardir pak Satpol PP, gambar orang dengan tangan  dikepal meninju langit, gitarnya dikalungkan, rambutnya seperti bonsai, kacamatanya sepesat tutup gelas,  pesan moralnya pun relative kurang lebih seperti ini: “Bongkar kebiasaan lama orang Indonesia, minum white coffe.

“Kak, kapan kita punya rumah sendiri?” tanya Markonah melas. “Bersabarlah dik, besok kalau kakak sudah punya uang banyak kita beli rumah untuk tempat tinggal biar tidak diusir orang terus” agak ngilu Turem mengungkapkan. Namun Turem sadar, tidak mudah mengubah realita, semoga adiknya bias tenang dan nyenyak. “Iya kak, terima kasih kakak, besok kalau sudah besar adik mau bantu kakak kerja, biar kakak sama adik bisa sekolah” tambah Markonah. “Iya dik, sekarang adik tidur ya? Sudah malam” jawab Turem.

Melihat Markonah yang semakin kurus, tak tega rasanya Turem, usianya masih terlalu kecil, namun jalan hidupnya seperti dalam penjara berjalan. Melihat adiknya yang sudah terlelap, Turem keluar untuk bergabung dengan teman-temanya didepan api unggun sembari melepas malam. “Turem, bisakah kau bernyanyi?” tanya Patet si pengamen Terminal. “Ooo tentu bung, apakah bung mau saya nyanyikan sembari di aliri gitarmu?” jawab Turem. “Ok, silahkan kalian berduet sembari aku menyiapkan kopi hitam untuk kita semua, ingat jangan lagu politik haram disini” sahut Busi yang sedang menuang kopi sachet di gelas plastic.

”Tur, sudah siap? Biar aku petik merdu,” tanya Patet. “Sebentar Tet, ada satu lagu ini tentang kisah cintamu ditolak bakul jamu di depan kantor polisi itu bung, judulnya semoga?” jawab Turem. “Wah, okelah bung semoga masih ada harapan untuk mendapatkanya dari nyanyian ini bung? Kau kan pernah sekolah, jadi aku nurut kau saja bung?” sahut Patet. “Ok Tet, mainkan intronya,” Patet memetik gitar sangat menghayati. Kakinya beralas sandal jepit bergerak  menepuk  bumi, matanya seakan memandang Melisa si bakul jamu obat kuat yang diidam-idamkan namun tak pernah direspon. Kasihan Patet, sungguh naas, kepalanya mengangguk mengikuti irama gitar. Patet terbang tanpa sayap seakan imajinasinya berada di panggung duet dengan Bon Jovi, walau kenyataanya di kolong jembatan diterangi api unggun ban bekas yang menyala, dijamu segelas kopi pahit, sepahit nasib.

Tibalah aku mengambil suara yang tak kalah heroic dari gitarisnya.“Merenungkanmu kini, menggugah haruku, berbagai kenangan berganti, masa yang telah lalu, sebenarnya ku ingin menggali hasrat untuk kembali, melukiskanmu lagi, didalam  di situ……… (reff). Adakah waktu mendewasakan kita, kuharap masih ada hati bicara. Mungkinkah saja terurai satu persatu, pertikaian yang dulu, bagai pintaku…….. Semoga”.

Patet terisak-isak menangis memeluk Busi yang sedang mengaduk kopi. Patet begitu menghayati lagu yang Turem nyanyikan. Patet begitu iba kepada dirinya sendiri hidup gelandangan, susah makan, hingga ditolak mentah-mentah cinta pertamanya kepada Melisa bakul jamu. Busi menepuk bahu Patet, melantunkan syair berdarah  demi menghibur kawanya:

“Patet kawanku,

Badai pasti berlalu,

Cinta adalah misteri,

Jangan kau menangis karenanya,

Wanita memang memesona,

Namun bidadari lebih menggoda,

Prahara kehidupan tidak lama,

Semua kembali pada waktunya.”

Selesai dari menangis, Patet melepas pelukannya terhadap Busi. Tangan Patet memegang dahi Busi, “Tumben kau waras?” tanya Patet. “Bung Patet my friend, wajahmu yang sangar seperti satpam kantor polisi namun menangis karena Melisa bakul jamu, sungguh memalukan” ejek Busi. “Ngomong-ngomong, sejak kapan di kantor polisi ada satpam si?” tanya Patet. “Sejak satpam selingkuh dengan istri polisi hehehe” jawab Busi. Seketika meledak tawa mereka memeriahkan malam yang terang. Turem meneguk kopi dengan senyum khas bemper sedan civic yang mlipit, menandakan kopi Busi sudah mulai lumayan manis, tidak seperti biasanya seperti pil Kina.

Gingsul Merajalela

Seperti biasa, sepulang dari kerja Turem  dan teman-temanya sekolong jembatan beraktifitas melepas lelah. Kali ini Sapu Jagat membawa bola dari pasar  Sapulak berkat pemberian pedagang mainan anak- anak, bola tending warna putih pleret merah, menggoda warga kolong jembatan untuk menendangnya. Tanpa waktu yang lama, mereka datang mengerumuni Sapu Jagat, Turem ternganga, air liurnya jatuh ke tanah takjub tak disangka. Ia kini bisa bermain bola sungguhan, sebelumnya Turem dan kawan-kawanya hanya menggunakan bola plastik.

Tim pun segera dibagi menjadi dua kesatuan. Tim Turem ada Patet, Busi, Rami, Dongbang, dan Erik sedangkan tim lawan ada Sapu Jagat, Komet, Tahanan KPK, dan Boni. Mereka berembuk sesama team menerapkan strategi terbaik, disini kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya, menerima masukan masing-masing pemain untuk ditempatkan di posisinya. Turem menjabat sebagai kapten sekaligus kipper, Patet sebagai penyerang utama, Busi yang badanya agak gempal menjadi pemain bertahan dibantu Rami, pengatur serangan Dongbang yang gesit (maklum maling pasar). Sapu Jagat yang biasanya menjadi penyerang andalan Kolong Jembatan FC kini berubah menjadi pemain bertahan sejak terinspirasi oleh Charles Puyol karena rambut brekelenya mirip. Sapu Jagat langsung membaiat diri menjadi bek, Komet menjadi kipper, Tahanan KPK duet menjadi penyerang, dan Boni menjadi pemain sayap.

Latar kolong jembatan yang lumayan luas seketika menjadi lapangan bola. Gawangnya terbuat secara ilmiah dari plang rambu-rambu yang dikaitkan dengan jemuran, digarisi raffia mistarnya. Menjadi inovasi tersendiri, tak kalah cerdas gawang satunya terbuat dari tiang jembatan yang dikaitkan raffia sebagai mistar yang dihubungkan ke payung pedagang salome yang sedang parkir. Tukang salome mengizinkan penuh deg-degan, karena bukan tidak mungkin bola mengarah ke panci salome dan bolapun beranak pinak. Deg-degan jantung pedagang salome seirama dengan toet-toetnya, bagaimanapun tukang salome harus menonton pertandingan simulasi piala dunia ini, walau gerobak seisinya menjadi taruhanya.

Penonton mengitari lapangan dadakan, ibu-ibu menyusui anaknya tak sabar menunggu pertandingan dimulai. Pengamen dan anak jalanan berkoloni menggenjreng gitar, meneriakkan yel-yel dengan nada iwak peyek:

Turem Komet… Turem  Komet …

Turem  Komet menang yang mana…

Kalau menang… kalau menang…

Kalau menang dapat janda

Woouooo….uoooo….. uooo….

Anak-anak cekikikan hingga lupa ingus mereka mengaliri bibir atasnya. Jingo yang baru pulang dari kerja di parkiran taman pasar tergesa-gesa memasuki arena lapangan dadakan demi tugas mulia menjadi hakim pertarungan simulasi piala dunia walaupun dirinya tidak pernah disahkan oleh FIFA karena memang namanya tidak tertera disana. Topi parkirnya ia lepas dan dikenakanya peci hitam agar terlihat  langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Layang-layang si Bocah Gingsul sudah di aratkan setengah jam lalu. Si bocah cilik ini berdiri di tengah-tengah penonton membawa torong minyak kelapa yang besar sebagai halo-halonya. Sebelum pertandingan dimulai, seluruh pemain, hadirat walhadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dipandu oleh si Gingsul. Agar lebih Indonesiawi, dilanjutkan bersalam-salaman antar pemain dan wasit. Tim Turem dengan kostum warna kulit karena baju dilepas agar tidak menyamai tim lawan yang bajunya warna-warni seperti krupuk udang. Gingsul si komentator sudah siap berkomentar berpadu orasi, pidato, dan pengajian. Mungkin tenggorokanya sudah halus dialiri segarnya permen Davos.

Priiiiiit……. Jingo meniup peluit panjang menandakan pertandingan di alam raya kolong jembatan sudah dimulai. Si Gingsul mulai bersabda dengan sejenak memegang tenggorokanya agar lantang suaranya:

“Ya saudara-saudara setanah air dari Sabang sampai Merauke, peluit panjang sudah disangkakalakan oleh wasit Jingo asal pasar Sapulak. Ya, di tengah lapangan mulai memanas pemirsa!!! Patet menggiring bola, masih disana dibayang-bayangi Boni!!! Umpan lambung Patet kepada Dongbang!!! Oooooooo… Sayang sekali, bola bisa dicuri Tahanan KPK. Dua orang disana, Dongbang terjatuh tapi bukan sebuah pelanggaran!!! Tahanan KPK berduet mengancam gawang Turem, Tahanan KPK memberi umpan kepada Komet, dan jebrettttttttttt!!! Oooooo sayang sekali, bola mengenai mistar hingga raffia putus pemirsa.”

“Ya tim medis disana sedang menyambung raffia agar bisa hikmat kembali. Ya kini Turem menendang jauh kedepan, Erik menyambut umpan disana, otak-atik bola, terjatuh Erik, pelanggaran apa yang terjadi? Wasit mengkartu kuning Boni yang melakukan sliding overlapping. Kartu kuning bungkus rokok 76 dianulir kepada Boni, Boni pucat pasi pemirsa. Free kick diambil Busi, Busi men-shooting ke gawang lawan!!! Oooooo, sayang sekali menjebol salome ternyata selaku tiang gawang. Semakin memanas kita saksikan pemirsa, tukang Salome menggiring bola, umpan kepada wasit, wasit dimainkan bola, penjaga gawang dijegal pemirsa, pedagang salome dikartu merah, sangat kecewa bung!!!”

Dongbang ternganga, Turem duduk bersila, kini gawang entah kemana. Pedagang salome pulang ke kandangya, salomenya berhamburan pemirsa, dan akhirnya priiiiiiit, priiit priit, wasit mengakhiri pertandingan dikarenakan ada kesalahan teknis stadium empat, pemain kecewa, penonton bersorak-sorai ternyata berubah menjadi demo. Wasit bingung disana, pecinya mulai miring menandakan wasit dihukum seumur hidup dilarang memimpin pertandingan. Lelah sudah namun mengharukan sekaligus menggelitik. Turem dan teman-temannya bercanda ria sembari menunggu ayam pulang ke kandangnya.

Editor: Humam Fauyi

author IPNU

Saya Ipnu dari

Komentar