OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
NEWS 03/06/2017 1:37

Anak Kecil Yang Malang

Anak Kecil Yang Malang

Oleh : Vinanda Febriani

Hari ini sepulang sekolah, aku sempatkan beristirahat sebentar di area Taman Wisata Candi Borobudur untuk melepas rasa penat otakku yang hampir meledak sebab terlalu memikirkan rumus “Otak atik” Matematika yang sebenarnya aku tidak tau bagaimana caranya.

Seperti biasa, aku berimajinasi sambil menatap pepohonan hijau nan rimbun di sekitarku, aku duduk di bawah pohon besar. Tiba-tiba ada dua orang anak kecil perempuan, yang satu berjilbab kemudian yang satunya lagi tak berjilbab, berambut panjang hitam terikat pita berwarna merah. Mereka perlahan mendekat padaku.

Tanpa basa-basi, dia bertanya padaku “Mbak Agamanya apa?”. Sontak aku kaget mendengar pertanyaan konyol itu. Bagaimana tidak? Sebelumnya aku belum pernah mengenal kedua anak kecil yang kurasa seumuran anak SD kelas 5 ini, tapi entahlah. Ku rasa mereka juga tidak mengenalku. Perasaanku, aku berjilbab, pakaianku juga menutupi aurat. Kenapa mereka masih bertanya apa Agamaku?.

Ku jawab saja “Alhamdulillah saya Budha”. Kedua anak itu kemudian yang kaget “Lho mbak, serius?” Tanya salah satu anak perempuan yang mengenakan jilbab hitam itu. “Kenapa, aneh ya?” ku balik tanya pada mereka.

Mereka kebingungan, kemudian duduk di sebelah kananku. “Iya, mbak” jawab perempuan kecil yang tak berkerudung. “Kalian lebih aneh”, sahutku. “Baru kali ini aku berjumpa dengan orang aneh, kenapa yang pertamakali kalian tanyakan adalah Agama, kenapa bukan Nama, Alamat, Sekolah atau yang lain sebagainya. Kenapa harus Agama?. Toh, kita kan belum kenal sama sekali, dek” Lanjutku.

Aku terkejut lagi, ketika anak kecil berparas hitam manis ber-rambut panjang diikat itu berkata “Kata Ayahku, nggak boleh ngobrol sama orang yang bukan Islam”. Ya Tuhan, siapa yang sebenarnya sedang berhadapan denganku ini. Kenapa jawabannya begitu aneh dan tidak masuk akal seperti ini.

Ku tanya kembali “Lalu, kan aku sudah bilang tadi, aku Budha. Kok masih mau ngobrol denganku?” Tanyaku dengan logat sedikit kesal. Lalu mereka agak tertampar sepertinya dengan perkataanku itu, “Yaudah yuk, kita pulang aja. Disini ada orang aneh, nanti dimarahin Ayah” Kata perempuan kecil yang berjilbab hitam itu.

Mereka lari meninggalkanku. Entah karna takut denganku atau karna takut dengan perkataan “Nyleneh” Ayahnya itu. Dan naasnya aku tidak bertanya siapa nama mereka dan dimana alamat rumah mereka.

Aku heran, apa sebenarnya yang diajarkan kedua Orangtua dari dua anak perempuan kecil itu. Kenapa begitu “nyleneh” seperti itu. Apakah mungkin ada sangkut pautnya dengan konflik ketika gemparnya “Pilkada DKI”. Entahlah, tapi yang pasti, ajaran seperti itu kurasa tidaklah dibenarkan oleh Agama Islam dan juga Negara Indonesia.

Bukankah semua Agama di muka bumi ini mengajarkan untuk saling mengenal dan berinteraksi dengan sesama manusia, wlaupun berbeda agama dan kepercayaan. Hanya berinteraksi, saling mengenal satu sama lain. Kenapa tidak diperbolehkan.

Itu menurutku ajaran orangtua yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana jadinya kalau seluruh rakyat Indonesia menganut sistem ajaran yang sama seperti itu. Mau jadi apa negri ini. Apakah mau jadi negri yang mana rakyatnya “Egois” lebih mementingkan kepentingan golongannya, hanya mau berinteraksi dengan sesama Agamanya. Bisa hancur negri ini lama lama jika diterapkan hal semacam itu. Ya Tuhan, aku tidak ingin negri ini Kacau balau dan menjadi negri “Egois” yang mana rakyatnya tidak mau berinteraksi dengan orang lain yang berbeda pandangan dan kepercayaan.

Entah aku tak tau bagaimana nasib masa depan kedua anak perempuan tadi jika orangtuanya terus mendidik dan memberikan pemahaman dengan cara yang “nyleneh” seperti itu. Semoga saja orangtua mereka segera sadar dan mengajari anaknya yang manis itu dengan hal-hal positif yang dapat dicerna nalar dan akal sehat yang tentunya tidak menyimpang hukum Negara maupun hukum Agama.

Borobudur, 03 Juni 2017.

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar