OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754

Pemalang – Sore hari (Jum’at, 24 Februari 2017), selepas urusan PC IPNU Pemalang sekaligus menghadiri tasyakuran dalam rangka Harlah IPNU ke-63 di Kecamatan Moga, langsung menuju kediaman Mas Rifki Arwanto (ketua PC IPNU Pemalang 2014-2016). Setelah saling bertukar kabar, saling menyelami titik emosional untuk menemukan formula komunikasi yang pas, akhirnya perbincangan seputar IPNU di hari setelah 63 tahun IPNU berdiri pun terjadi, meski ketika bertemu beliau tidak pernah tidak bahas IPNU. Namun tetap ada hal berbeda di momentum tahunan ini.

Secara khusus dan kebutuhan pribadi, saya menyiapkan wadah kosong untuk banyak menggali, meski ujung-ujungnya saya tidak diperkenankan hanya mendengar tanpa menanggapi. Dan selalu seperti biasa, banyak pertanyaan yang kudapati jawaban dengan pertanyaan baru yang mau tidak mau aku harus menemukan jawaban yang ternyata merupakan kunci jawaban dari pertanyaanku.

Tidak banyak yang disampaikan, sebab, beliau hanya menjawab pertanyaan sehingga sedikit atau banyaknya hal yang kuambil sangat bergantung pada bagaimana saya bertanya. Dan tulisan di atas adalah beberapa rangkuman dari apa yang berhasil saya pancing untuk didiskusikan. Disusun seperti dialog tanya jawab meski tidak seutuh dan sama persis pada saat diobrolkan, sebab ada pertanyaan A untuk jawaban B dan Jawaban C untuk pertanyaan D, dan saya susun berdasar kemungkinan paling berkesesuaian antara pertanyaan dan jawabannya.

  • Apa yang paling bermakna dari 63 tahun IPNU?

Yang paling bermakna adalah saya pernah, masih dan akan terus ber-IPNU. Itu makna IPNU bagi saya, bukan sebaliknya. Sebab IPNU itu proses yang prosesinya harus kamu lalui dengan menjadi anggota – menjadi kader – menjadi pengurus dan seterusnya dengan sebutan yang disematkan orang lain kepadamu, bukan kamu menganggap dirimu.

  • Apa pelajaran terpenting yang perlu diambil dari 63 tahun IPNU?

Semua pelajaran itu penting, jangan pernah meremehkan apapun, nanti kamu tidak akan belajar apa-apa jika sudah meremehkan. Jangan ada yang ter-, karena akan ada yang tidak ter. Kalo kamu belajar ini menurutmu terpenting, kasihan yang belajar itu menjadi tidak penting. Meski setiap orang berhak memiliki ter-, dan tentu ter- setiap orang berbeda dan harus berbeda sebab hakekatnya bhineka.

Yang jelas bagi saya, kalo kamu menyebut hari lahir, maka ini jadi momentum refleksi kelahiran. Bagaimana saat mengandung dan pihak-pihak yang terlibat dalam masa persalinannya. Lahirnya itu sebagai sebuah keniscayaan sebab sudah banyak embrio. IPNU sudah lahir sejak dalam pemikiran, namun untuk menjadi organ IPNU diperjuangkan agar berdiri. Nah, jangan sampai kamu lupa siapa-siapa saja mbah-mbah kita yang mendirikan. (Berlanjut dengan gantian bertanya balik tentang siapa-siapa, bagaimana dan seperti apa)

  • Bagaimana IPNU dulu dan sekarang?

Apa bedanya IPNU dulu dan sekarang? Coba dimana bedanya? Baik apa ataupun siapa, masih tetap dan akan terus sama. Tidak mudah membuat perkumpulan apalagi bisa besar dan berpuluh-puluh tahun terus ada.

Pernah sekolah? Membuat geng kelas? Kelompok? Komunitas? Atau apapun saja bentuk perkumpulan maupun pengelompokkan. Berapa lama bertahan? Apa saja yang dilakukan? Ini bukan membandingkan hebat-tidak hebat, baik-tidak baik. Tapi bagaimana itu tetap ada.

  • Kalo orangnya?

Orangnya ya jelas berbeda, maka cara dan langkahnya juga pasti berbeda. Tapi IPNU-nya tetap IPNU. Perbedaan itu sunatullah. Tidak ada salah, adanya kebenaran yang sedang menyamar atau benar yang lagi apes tidak pada tempatnya.

Organisasi itu kaya lutis. Mengambil hanya beberapa bagian untuk dicampurkan. Masing-masing bahan dan bumbu itu sempurna. Menjadi tidak sempurna ketika diketemukan. Sebab, yang satu tidak memiliki rasa seperti yang dimiliki lainnya. Dan percampuran itu kan tidak utuh. Ada yang hanya bagian kecil untuk sekedar rasa asam, ada yang banyak untuk manis ataupun pedas. Dan outputnya, masing-masing lidah itu punya selera. Tapi apa kamu akan menghujat penjualnya saat tidak enak padahal kamu sendiri yang memutuskan untuk beli disitu.

Sama saja, setiap individu manusia itu sempurna. Kan ahsanu taqwim. Menjadi tidak sempurna ketika berkumpul. Sebab satu orang tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Tapi sebagai individu, Tuhan sudah menciptakan sempurna porsi dan proporsinya. Dan manusia tidak bisa menghindar dari kumpul-kumpul. Jadi belajarlah menjadi tidak sempurna. Organisasi ya kaya lutis tadi, kumpulan individu sempurna yang tidak akan jadi sekumpulan sempurna. Meski komposisi, bahan pilihan dan bumbu sudah diracik sedemikian rupa. Tetap sulit mencapai kepuasan individu yang merasa sempurna.

Organisasi itu kan proses satu kesatuan pada setiap bagian atau yang dimiliki bagian-bagian. Kalo setuju sebagai individu manusia itu sempurna, organisasi perlu banyak belajar dari organisme manusia. Ada pelajaran tentang organisasi dari Tuhan disitu. Ada kepala ada badan, kalo kentut yang dibasuh muka bukan bagian yang mengeluarkan kentut, dan Kanjeng Sunan Kalijaga menyambung kepala dan badan menggunakan kayu jati. Ini bukan teori barat tentang organisasi tapi dari sini kita tidak hanya mendapat teori melainkan juga energi.

Organisasi ini ruang sangat bagus untuk menemukan ketepatan apakah kamu bahan A bahan B atau bumbu A bumbu B dalam kamu menjalani kehidupan lutis.

(Muhammad Ibnu Farkhan/JS)

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar