• Februari 26, 2021
  • syakirnf
  • 0

Filosofi Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa dalam Sosok Pendiri IPNU

Semarang, Media IPNU

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang kini telah berusia 67 tahun mempunyai semangat trilogi gerakan, yaitu Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa. Filosofi semangat trilogi gerakan ini terrepresentasikan dalam sosok pendiri dan ketua pertama IPNU, KH Tolchah Mansoer.

Hal tersebut mengemuka dalam forum Bedah Buku “KH. Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan” yang digelar di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Selasa (23/2).

Salah satu penulis buku, Fahsin M Faal, menyampaikan bahwa sosok Kiai Tolchah Mansoer ada dalam semangat Trilogi Gerakan. Dalam filosofi belajar, Kiai Tolchah adalah sosok kader yang memiliki kegigihan dan semangat belajar yang luar biasa.

“Hebatnya beliau adalah hampir pendidikan yang beliau tempuh adalah pendidikan umum semua, tetapi pengetahuan keagamaan beliau luar biasa,” tuturnya.

Dalam filosofi berjuang, Kiai Tolchah adalah sosok pejuang yang totalitas dalam berjuang melalui partai politik, kampus, dan juga di tengah-tengah masyarakat. Hal itu dibuktikan ketika Kiai Tolchah di Jogja pernah menjadi Wakil Gubernur melalui Partai NU sebagai bentuk pengabdian dalam kancah politik.

Sementara di dunia pendidikan, Kiai Tolchah berjuang dengan mengajar dan menjadi pimpinan berbagai perguruan tinggi sehingga kadernya pun banyak. Bahkan beliau saat itu tetap mengajar anak kecil di madrasah. Bentuk perjuangan lainnya beliau lakukan di tengah-tengah masyarakat melalui dakwah di banyak tempat, bahkan sampai ke Makassar.

Dalam filosofi bertaqwa, Kiai Tolchah adalah santri autodidak yang diakui kealimannya. Beliau adalah kiai yang tidak hanya basa-basi di forum, tetapi benar-benar kiai dan diakui oleh kiai-kiai besar seperti Kiai Achmad Siddiq, Kiai Muchit Muzadi, Kiai Abdullah Hamid. Bahkan menurut Fahsin, Kiai Tolchah adalah sosok wali.

Fahsin mengatakan bahwa Mbah Tolchah Mansoer adalah prototipe ideal kader NU. Beliau berangkat dari orang biasa dengan sungguh-sungguh menjadi akademisi, intelektual, kiai, dan politisi yang hebat.

“Kalaupun tidak sanggup belajar sebagaimana beliau menjadi prototipe kader NU yang sesuai, kita bisa istiqomah di satu jalur yang kita tekuni. Menjadi politisi yang soleh, intelektual yang santun, menjadi kiai yang istiqomah,” tambahnya.

KH Tolchah Mansoer memang sosok yang banyak berkontribusi melalui gagasan-gagasan yang hebat. Penulis buku yang lain, Zaenul Arifin, menambahkan bahwa di antara gagasan yang ditulis dalam disertasi Kiai Tolchah ini ada ide yang dipakai pada masa kini.

“Beliau yang memang pakar hukum tata negara dalam disertasinya menyampaikan ide presiden dan wakil presiden menjabat maksimal dua periode. Disertasi itu selesai disusun pada tahun 1969 dan pada era Reformasi gagasan tersebut mulai dipakai,” terangnya.

Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah, Iman Fadhilah, yang menjadi pembanding bedah buku menyampaikan bahwa Kiai Tolchah adalah sosok yang sangat sederhana dan mencintai umat. “Beliau mewakafkan waktunya luar biasa untuk umat,” ujarnya.

Untuk diketahui, selain acara bedah buku dan tasyakuran Harlah ke-67 IPNU, sebelumnya PW IPNU Jawa Tengah juga mengadakan beberapa lomba, antara lain lomba penulisan esai, lomba cover sholawat, lomba foto, dan lomba TikTok education challange. Seluruh lomba tersebut diadakan secara online dan mendapat respon positif oleh kader IPNU dan IPPNU di Jawa Tengah yang turut berpartisipasi.

Pewarta: Mad Rifa’i
Editor: Muhammad Fajar Sodik