• April 30, 2021
  • syakirnf
  • 0

Gus Miftah: IPNU-IPPNU Harus Bisa Mengendalikan Diri

Jakarta, Media IPNU

KH Miftah Maulana Habiburrahman menguraikan makna kata ash-shaum dan ash-shiyam yang dalam bahasa Indonesia artinya puasa. Menurutnya, dua kata tersebut maknanya adalah menahan, sehingga puasa pada hakikatnya adalah pengendalian.

Hal itu disampaikan saat Buka Bersama dan Doa untuk Negeri yang digelar oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) bersama Majelis Alumni IPNU dan IPPNU Pusat di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (29/4).

Dai milenial yang akrab disapa Gus Miftah itu mendorong kader IPNU IPPNU untuk mengeksplor diri, tetapi harus dengan pengendalian.

“Nah, saya pikir IPNU IPPNU ketika di usia seperti kalian, eskplor itu harus, tapi tentunya dengan pengendalian diri. Banyak di antara kita yang kemudian keblablasan eksplornya tapi tidak bisa mengendalikan diri,” kata pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Sleman, Yogyakarta itu.

Begitu keluar dari pesantren, khazanah-khazanah pesantren ditinggalkan karena memasuki dunia baru dengan bacaan-bacaan yang berbeda. Hal itu, menurutnya, menjadikan kampus dikuasai oleh kelompok yang tidak memegang Ahlussunnah wal jamaah.

“Maka jangan kaget ketika kampus-kampus itu dikuasai oleh kelompok minhum, karena kajian keagamaan dari kita mulai disepelekan, sementara kelompok-kelompok itu bersemangat,” ujarnya.
Dikatakan, tidak masalah membaca literatur-literatur ‘kiri’, tetapi sekadar untuk khazanah pengetahuan. Jangan sampai hal itu memengaruhi kita sebagai kader-kader muda NU.

“Artinya ketika kemudian kita melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya ya lebih baik kita batasi, termasuk dalam berorganisasi,” tuturnya.

Pengendalian itu, ia mengutip Imam Ghazali, dimulai dengan menjaga penglihatan dan pendengaran. Pasalnya, perbuatan baik atau buruk itu diawali dari dua hal, dari mata yang melihat dan dari telinga yang mendengar.

“Dari pandangan mata dan pendengaran telinga kemudian direkam oleh hati, dikeluarkan oleh mulut, dan diaktualisasikan oleh perbuatan. Artinya apa? kualitas omongan seseorang tergantung apa yang dia liat dan apa yang dia dengar,” terang pria yang pernah aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Disampaikan Gus Miftah, di era pandemi ini banyak orang pesimis karena pandangan-pandangannya adalah pandangan pesimis. Hal itu disebabkan karena terlalu banyak berpikir akan kecemasan, dan kecemasan itu menurutnya adalah ilusi buruk tentang masa depan.

“Daripada kamu membuang waktu untuk cemas terhadap apa yang belum terjadi, mending mempersiapkan diri untuk menghadapinya,” ungkapnya.

Gus Miftah kembali menegaskan, di IPNU-IPPNU ini harus terus belajar dengan niat sepenuh hati.
“Orang yang niat belajar di mana pun dia akan mendapatkan pelajaran. Namun, orang yang tidak niat belajar, sedang belajar pun dia tidak akan mendapatkan pelajaran,” kata pria kelahiran Lampung, 5 Agustus 1981 itu.

Sebagai informasi, turut hadir pada kegiatan itu di antaranya Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmi Faishal Zaini, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU H Hilmi Muhammadiyah, Ketua Majelis Alumni IPPNU Hj Safira Machrusah, serta pengurus PP IPNU dan PP IPPNU.

Pewarta: Muhammad Fajar Sodik
Editor: